Oleh: Shafayasmin Salsabila (Pengasuh MCQ Sahabat Fillah Indramayu)

Setiap janur kuning melengkung, hujan doa berdatangan. Bukan sekadar menanti-nantikan amplop, akan tetapi restu wargalah yang terpenting. Harapan dianyam bagi pasangan “raja dan ratu sehari”, agar nanti berbahagia sampai sukses menggapai samara (sakinah, mawaddah wa rahmah). Namun apa mau dikata. Seiring janur kuning mengering, prahara kerap datang menerpa. Biduk rumah tangga dihantam badai menggila, siap mengaramkannya.

Sebagian besar pasangan mencoba bertahan, tapi tidak sedikit memilih berpisah ketimbang melanjutkan. Kasus perceraian mengular, antriannya panjang. Selain itu peristiwa kekerasan di dalam bangunan bernama “rumah”, kian hari kian tersiar. Seperti fenomena gunung es. Data di atas kertas, hanyalah serupa puncak yang tertangkap mata. Jauh di kedalaman, banyak korban enggan melaporkan, sehingga tidak terdata.

Terbaru, datang dari seorang perempuan (21) asal Arahan, Indramayu. Fotonya viral di media. Kepala dibalut perban melingkar, jemarinya putus mengenaskan. Pelakunya tiada lain suami korban sendiri. Seorang pemimpin semestinya menjaga tapi malah menjagal. Hampir hilang nyawa akibat kebrutalan emosi sang suami.

Pada malam itu, Rabu (16/9) korban terlelap di kamarnya. Seminggu telah berlalu sejak terjadi percekcokan masalah macetnya penafkahan. Berujung dengan perginya suami dari rumah. Sekitar pukul 00.00 WIB, korban berinisial M, tak sadar ketika kejahatan datang bertandang lewat tangan pendamping hidup tersayang.

Berdalih akibat suami sakit hati dimintai jatah nafkah, rencana setan pun digelar. Diam-diam lelaki berusia 25 tahun ini mendatangi istrinya saat tengah pulas dibuai mimpi. Lalu dengan leluasa diayunkannya golok ke arah kepala korban. Dihentak nyeri, dua bacokan membuat tersadar. Darah menggenang, namun tak menghentikan bacokan berikutnya.

Spontan korban melawan sekenanya. Ditepisnya benda tajam itu. Nyawa pun selamat, namun jari telunjuk harus direlakannya putus, demi menahan tebasan golok. Sekejap berlalu, suaminya mengambil langkah seribu. Betapa pengecut. Kini, 32 jahitan di kepala menjadi penanda, musnahnya cinta di antara mereka.

Korban M, tidak sendiri. Secara global, bersamanya ada daftar panjang nama-nama korban KtP (Kekerasan terhadap Perempuan). Apalagi dipicu oleh mewabahnya Covid-19. Peningkatan terjadi secara signifikan. Bahkan UN Women mengatakan, KtP dianggap sebagai “the shadow pandemic”, atau pandemi bayangan. Sebanyak 243 juta perempuan dan anak perempuan berusia 15-49 tahun menjadi korban kekerasan oleh pasangan intim mereka. Sedang di Indonesia, Komnas perempuan sendiri menerima ratusan kasus KtP.

Wajar jika kecemasan meliputi hati. Ketika rumah sudah tidak lagi menjadi tempat berlindung. Lantas ke mana para perempuan mendapatkan jaminan rasa aman. Mengapa romantisme dan kehangatan di dalam keluarga semakin memudar?

Sejujurnya, perempuan mana pun tidak ingin hidup tersiksa, tertekan dan ketakutan. Potret keluarga ideal, ketika pasangan suami istri dan anak-anak hidup rukun penuh rasa sayang, amat didambakan. Kiranya, apakah mantra jahat perenggut samara ini?

Karamnya bahtera rumah tangga, ternyata bukanlah kebetulan, alias kasuistik. Namun sistemik. Merata, meluas dan terencana. Sabotase terjadi secara tak kasatmata. Keluarga sebagai benteng terakhir digoyang dengan guncangan mematikan.

Sebuah sistem kehidupan lancang, nyatanya dijadikan pilihan. Rujukan Alquran tidak dihiraukan. Secara personal, umat Islam dibutakan dari agama. Dijauhkan dari Islam mabda (ideologi). Tak aneh, ketika individu “buta” ini membangun sebuah keluarga tanpa pondasi akidah Islam, sepanjang galah lah usia pernikahannya. Berakhir dramatis lewat perceraian bahkan dengan tragedi berdarah-darah.

Dari dalam rumah, kering nuansa spiritualnya. Tak ada lantunan ayat suci nan menentramkan. Sepi dari nasihat dan bimbingan kepala keluarga. Suami luput dari mentarbiyah (mendidik) istri dan anak. Atau sebaliknya, istri lupa dari sekadar menyisiri rambut suaminya. Meneduhkannya dengan romansa. Sedang anak-anak, dibiarkan tumbuh oleh lingkungan, tontonan dan gawai.

Lebih dari itu, masyarakat kehilangan fungsi utamanya sebagai kontrol sosial. Kemaksiatan cenderung dibiarkan dengan topeng “kebiasaan”. Budaya liberal, membuat siapa pun bebas berbuat. Padahal semestinya masyarakat ibarat penumpang kapal besar. Tentu tak boleh diam, jika mendapati seorang penumpang sedang melubangi kapal. Bila tidak, kapal akan tenggelam. Paradigma ini senyap dalam keseharian.

Paling krusial adalah keberadaan negara sebagai perisai umat. Adakah terindra eksistensinya? Faktanya, luka demi luka bertubi menimpa. Percekcokan, teriakan hingga dendam merasuk ke dalam jiwa, peluit pemanggilnya adalah perut, mata dan farji (kemaluan).

Sistem kehidupan diatur amat sekuler, menjadikan kebebasan sebagai acuan aturan dan meninggalkan ketentuan Sang Pencipta. Sistem perekonomian kapitalis, semakin memiskinkan si miskin dan mengayakan orang-orang kaya. Ketika harga kebutuhan membumbung tinggi, pintu usaha justru paceklik. Efek pandemi, tsunami PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) menerjang. Banyak kepala keluarga dirumahkan. Perut seisi rumah berontak, tidak bisa berkompromi. Emosi pun mudah terpancing lalu berkobar. Tersulutlah pertengkaran sampai tindakan fisik.

Sistem sosial amat liar. Sudahlah hubungan antara suami dan istri tengah kerontang, parade aurat berjejalan, menggoda dan adiktif. Parahnya, lewat dunia maya segala maksiat dan relasi haram semakin dipermudah.

Tak perlu keluar rumah, selagi internet aktif, kerlingan dan keerotisan memanjakan netra, meledakkan syahwat, membius kerdilnya iman. Pintu-pintu setan terbuka lebar. Pihak ketiga, keempat bahkan kelima dengan mudah melenggang masuk. Kecemburuan kerap menjadi sumbu ledak. Samara pun sirna. Janji suci tinggal cerita.

Seribu jeratan lain, masih menjadi menu harian dari sistem rusak saat ini. Apakah pemangku kebijakan diam saja? Tidak, mereka telah dan masih bekerja. Hanya saja ibarat memotong ranting tanaman yang ditumbuhi penyakit dan hama. Butuh lebih dari sekadar rutinitas pemotongan. Cabutlah dari akarnya. Ganti dengan tanaman baru. Toh, sistem saat ini sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Terlampau banyak kebobrokannya. Sudah kronis, stadium tiga.

Butuh membuka kepala untuk meluangkan pengharapan pada logika berbalut wahyu Pemilik Semesta. Islam datang sebagai jalan hidup. Sistem langit, sempurna tanpa cela. Mengatur mulai dari personal, masyarakat sampai tataran negara. Solutif dan menyejahterakan.

Berawal dari pembentukan keluarga, bertopangkan akidah Islam. Suami, istri, anak serempak bertindak sesuai hak dan kewajiban yang telah digariskan oleh Allah, Sang Pencipta. Tak ada satu hamba pun memiliki keraguan, bahwa Tuhannya Maha Mengetahui karakter setiap ciptaan. Maka kunci samara, semestinya semudah membalik telapak tangan. Asal setia dengan hukum syara’.

Bersama dengan masyarakat dan negara yang sejalan pula dengan hukum buatan Yang Maha Kuasa. Sesederhana inilah jawabannya. Mengembalikan semua tatanan berkehidupan dalam bingkai syariat Islam kafah (sempurna).

Wallâhu a’lam bish-shawab.