Oleh: Khairunnisa

Begal. Tentu kita tak asing lagi mendengar kata ini. Kasus begal telah marak dan menjadi pemberitaan di media massa. Begal merupakan tindakan perampasan dan perampokan barang tanpa pandang bulu.

Tak hanya saat ini. Begal telah ada sejak dulu kala. Bahkan terwujud dalam sebuah kabilah atau kelompok masyarakat dan dikenal di kalangan kabilah lain.

Namun, ada hal menarik dari kabilah begal ini. Bukan kejayaan membegal tapi justru dari kabilah tersebut lahir sosok pemuda pembawa kebenaran. Kalau dipikir-pikir mana mungkin di lingkungan yang kotor, ada seorang pemuda pembawa kebenaran.

Ternyata ada, bahkan membawa satu kabilah dan suku lain selamat dan diampuni oleh Allah Swt. Siapa dia? Dia adalah Abu Dzar Al-Ghifari.

Abu Dzar merupakan seorang laki-laki dari keturunan Bani Ghifar. Ghifar merupakan kabilah yang tidak mengenal siapa sasarannya ketika membegal di jalanan. Orang Ghifar sangat terkenal dengan sifat biang keladi dalam perampokan.

Namun Abu Dzar sangatlah berbeda. Meski hidup di lingkungan kotor, ia memiliki pengamatan dan pemikiran luar biasa mengenai keesaan. Menunjukkan hidayah Allah swt datang kepada siapa saja.

Ketika mendengar pengutusan seorang nabi yang menyeru kepada keesaan dan memurkai berhala-berhala, ia langsung mempersiapkan bekal dan mengayunkan langkah menuju Mekkah. Terik panas matahari dan perjalanan jauh yang ia tempuh, menyamar dan berbagai cara ia lakukan untuk dapat bertemu Nabi.

Abu Dzar berjumpa dengan Rasulullah Saw setelah usaha yang ia lakukan, kemudian ia masuk Islam. Abu Dzar merupakan sahabat keenam yang masuk Islam dimana dakwah pada saat itu masih sembunyi-sembunyi.

Ketika masuk Islam, Rasulullah Saw mendakwahinya secara berbisik-bisik kepadanya. Abu Dzar diperintahkan untuk kembali ke kaumnya dengan menyembunyikan keimanan.

Namun, Abu Dzar yang nama aslinya adalah Jundub bin Junadah adalah seorang yang “radikal” dan “revolusioner”. Ketika ada kebatilan di depan matanya, ia langsung menyeru sebelum kembali ke keluarganya. Dia paham akan konsekuensi yang ia lakukan.

Abu Dzar pergi menuju Al-Masjidil Al-Haram berteriak sekeras-kerasnya, “Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” Teriakan ini teriakan pertama seruan seorang yang baru masuk Islam. Abu Dzar menentang kesombongan orang-orang Quraisy dan memekakkan telinga mereka.

Mubalig ulung merupakan sebutan yang pantas baginya. Seorang perantau asing, tidak mempunyai pelindung, sanak keluarga maupun pembela di Mekkah. Keteguhan Iman dan kecintaannya kepada Islam tidak membuatnya takut akan konsekuensi.

Rasulullah Saw memuji keberaniannya dan paham akan tabiat murid barunya tersebut. Beliau membujuk Abu Dzar untuk kembali menemui keluarga serta kaumnya. Abu Dzar mungkin tidak akan berhenti, kalau bukan Rasulullah Saw yang meminta untuk kembali ke keluarga dan kaumnya.

Namun, ia tak sekadar kembali tetapi menyerukan kepada kaumnya agar mengabdi kepada Allah Swt dan membimbing mereka agar berakhlak mulia. Kaumnya satu demi satu masuk Islam. Bahkan usahanya tidak terbatas pada kaumnya, namun dilanjutkan pada suku Aslam.

Rasulullah Saw diliputi rasa haru dan cinta kasih, beliaupun bersabda:

غفار غفر الله لها

“Suku Ghifar telah diampuni Allah.”

و أسلم سالمها الله

“Suku Aslam telah diselamatkan oleh Allah.”

Abu Dzar sang mubalig ulung yang berjiwa bebas dan bercita-cita mulia. Ganjaran yang diterima tidak terhingga, serta ucapan kepadanya dipenuhi berkah.

Dari Abu Dzar, kita belajar untuk tidak memilah-milah memberikan kebenaran Islam. Walaupun kota itu kota asing, kota yang buruk, bahkan keras siksanya. Dimanapun jadilah pendakwah ulung.

Sumber: Khalid, Khalid Muhammad, Kisah 60 Sahabat Nabi, Ummul Qura, 2013