Oleh: Ummu Syaddad

Basuki Tjahaja Purnama, baru-baru ini menjadi sorotan lagi. Selaku Komisaris PT. Pertamina (Persero), dia mengungkap bobrok Pertamina. Dari hobi direksi yang hobi lobi menteri, sampai soal doyan berhutang. (Youtube, POIN)

Ungkapan yang dianggap sebagai tudingan ini, direspon santai oleh menteri BUMN, Erick Thohir. Dikatakan bahwa selama ini direksi-direksi hanya melakukan pembicaraan biasa dalam rapat dengan menteri.

Miris. Di tengah pandemi Covid-19, masih mengganas, masyarakat disuguhkan tontonan fakta yang tak menyenangkan. Para pejabat saling tuding, mengungkap bobrok masing-masing. Lalu kapan waktu memikirkan nasib rakyatnya?

Pertamina dan perusahaan-perusahaan lain milik negara, statusnya sebagai milik rakyat yang dikelola oleh negara. Hasilnya untuk mensejahterakan rakyat, bukan pejabat. Namun menjadi rancu dalam sistem kapitalis liberalis saat ini. Dimana kebebasan kepemilikan, menjadi salah satu pilar. Sehingga wajar, keserakahan merajai banyak orang.

Berarti kita perlu sistem alternatif, dimana pengelolaan SDA, dilakukan dengan baik. Menjalankan apa yang dipercayakan masyarakat, ketika menjabat. Sistem dari Ilahi. Sebagaimana Rasul saw, memberi teladan dalam segala urusan. Sehingga saling tuding antar pejabat, bisa diminimalisasi dengan tepat. Wallahu’alam.

(Ummu Syaddad, Citeureup)