Oleh: Ria Asmara

Warganet kembali heboh. Deutsche Welle (DW) Indonesia, sebuah lembaga penyiaran internasional yang memproduksi siaran TV, radio dan informasi melalui internet dalam beberapa bahasa dihujani hujatan lantaran membuat konten video yang mengulas sisi negatif anak berjilbab.

Pada video tersebut, DW Indonesia mewawancarai seorang perempuan yang mewajibkan putrinya mengenakan hijab sejak kecil. DW Indonesia juga mewawancarai psikolog Rahajeng Ika. Ia menyampaikan dampak psikologis bagi anak-anak yang sejak kecil diharuskan memakai jilbab.

“Mereka menggunakan atau memakai sesuatu tapi belum paham betul konsekuensi dari pemakaiannya itu,” ujar Rahajeng Ika menjawab pertanyaan DW Indonesia.

Selain Rahajeng Ika, DW Indonesia juga mewawancarai feminis muslim, Darol Mahmada tentang dampak sosial anak yang diharuskan memakai hijab sejak kecil. Darol Mahmada menyebutkan, wajar-wajar saja seorang ibu atau guru mengharuskan anak memakai hijab sejak kecil.

“Tetapi kekhawatiran saya sebenarnya lebih kepada membawa pola pikir si anak itu menjadi eksklusif karena dari sejak kecil dia ditanamkan untuk misalnya “berbeda” dengan yang lain,” tandas Darol Mahmada.

DW Indonesia membagikan konten video ini melalui akun Twitternya, @dw_indonesia pada Jumat (25/9/2020). DW Indonesia menuliskan, “Apakah anak-anak yang dipakaikan #jilbab itu memiliki pilihan atas apa yang ingin ia kenakan?” (muslimchoiche.com, 27/09/2020)

Jangan Permasalahkan Jilbab

Memiliki anak saleh adalah dambaan seluruh keluarga muslim. Ia adalah aset. Dialah yang akan menolong orang tuanya kelak ketika raga sudah tidak lagi menapak di bumi. Berbagai hal dilakukan orang tua, agar anak-anak mereka menjadi saleh.

Di antaranya dengan menanamkan kebiasaan baik sejak kecil. Mengajarkan shalat, menutup aurat, melatih berpuasa, menghormati orang tua dan sebagainya. Hal ini dilakukan agar saat nanti masa balig tiba, mereka tidak gagap lagi menjalankan hukum syara.

Salah besar jika ada yang mempertanyakan bahkan mempermasalahkan jilbab pada anak-anak. Pembiasaan jilbab pada anak-anak adalah proses pendidikan kepada mereka. Untuk menumbuhkan rasa. Rasa suka, pun rasa nyaman padanya. Bukan memaksa mereka untuk melakukan hal yang belum menjadi kewajibannya.

Aroma Islamofobia Terasa

Anggota DPR yang juga Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon angkat bicara soal konten video yang dibagikan DW Indonesia. “Liputan ini menunjukkan sentimen “islamofobia” n agak memalukan utk kelas @dwnews,” tulisnya di akun Twitter @fadlizon.

Wajar jika kemudian banyak pihak mengganggap bahwa konten video yang mempermasalahkan jilbab pada anak-anak ini bernada sentimen terhadap Islam. Bahkan, bisa jadi, konten video ini adalah salah satu upaya kaum feminis untuk menggiring opini buruk terhadap syariat Islam.

Jika jilbab pada anak-anak mereka permasalahkan, bagaimana dengan anak-anak yang berpakain minim, memamerkan aurat. Apakah anak-anak tersebut juga memiliki pilihan atas apa yang ia kenakan? Apakah pakain minim yang mempertontonkan aurat itu pilihan mereka?

Tugas Orang tua Menanamkan Kewajiban Berjilbab

Sesungguhnnya, mengenalkan jilbab dan membiasakan anak-anak untuk memakainya adalah urusan dalam negeri keluarga muslim. Ini otoritas keluarga muslim. Mereka punya hak penuh mendidik anak-anak agar mengenal syariat Islam sejak dini seperti yang diajarkan oleh Rasulullah.

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, ”Bukalah kalimat pertama pada bayi-bayi kalian dengan kalimat Laa Ilaaha Illallah.” (HR. Baihaqi)

Maka bayi-bayi muslim yang lahir, pertama-tama akan diperdengarkan azan padanya. Kemudian setelah usianya bertambah, akan diajarkan kalimah tauhid. Kemudian diajarkan berwudhu, diajarkan pula salat, puasa, menutup aurat dan sebagainya. Dan ini sudah melekat di keluarga-keliarga muslim.

Tentu amat kuno, jika hari ini masih ada yang mempertanyakan soal pemakaian jilbab pada anak-anak. Terlebih, jika ini ditujukan untuk menebar islamofobia. Hal ini adalah tindakan yang tidak cerdas dan tidak elegan. Juga akan sia-sia. Karena keluarga muslim akan tetap mengajarkan anak-anaknya untuk paham syariat. Kekunoan ini justru akan menimbulkan kegelian massal.

Wallahu a’lam bishawab.