Oleh: Maman El Hakiem

Lagi-lagi Radit yang bikin ulah. Genk Ikal itu kembali terlibat dalam adu mulut dengan kepala sekolah. Semua siswa di SMU Permata itu sudah pada maklum, jika Radit yang dikenal paling vokal dalam menyuarakan hak-hak siswa.

Sebenarnya ada OSIS yang mewadahi aspirasi siswa, tetapi bagi Radit organisasi bentukan sekolah itu terlalu payah, tidak kritis dan sekedar ngurusin upacara. Karena itu Radit bikin Genk Ikal yang menampung anak-anak yang dinilainya bisa bebas menyuarakan kebenaran. Ada adu cek cok antara Genk Ikal yang dipanggil kepala sekolah, karena isu pemasangan pamplet acara pengajian dari Ustadz Syaiful.

“Radit, kamu kalau masih mau sekolah disini, jangan gunakan sekolah untuk penyebaran faham radikal Ustadz Syaiful?” Tanya kepala sekolah seolah menginterogasi Radit.

“Maaf Pak, kalau boleh tahu darimana Ustadz Saiful itu radikal?” Radit balik bertanya, dalam benaknya Ustadz Syaiful itu dikenal taat hukum, tidak pernah terlibat masalah yang meresahkan masyarakat. “Pak Syaiful itu bagi kami adalah guru agama yang baik, sehingga sewaktu Bapak mengeluarkan beliau dari sekolah sungguh kami tidak bisa menerimanya.” Seru Radit yang selalu berani lantang kalau bicara.

Genk Ikal hari itu sengaja lagi menyebarkan pamflet untuk acara kerohanian Islam, namun penceramahnya mengundang guru agama yang telah dikeluarkan oleh fihak sekolah beberapa waktu lalu. ‘Iya, Pak..kami menilai kebijakan Bapak mengeluarkan beliau sungguh tidak beralasan.” Timpal Anto yang ikut dipanggil ke ruang kepala sekolah.

Anggota Genk Ikal hampir di tiap kelas ada, mereka menamakan dirinya “ikal” tapi diplesetkan dari ilmiah dan berakal.
‘Sekolah ini bukan sekolah bapakmu, tetapi ada kebijakan dari atas yang harus dipatuhi. Bapak faham penilaian kalian, tetapi apa boleh buat Pak Syaiful dikeluarkan bukan karena masalah pelanggaran hukum, tetapi keadaan yang memaksa agar kalian masih bisa tetap belajar di sini.” Kata kepala sekolah menjelaskan duduk persoalannya.

“Tetapi Pak, bukan berarti Ustadz Syaiful dilarang berceramah kembali di sekolah ini, jika alasannya administrasi. Karena apa-apa yang selama ini disampaikan beliau sangat menggugah dan mencerahkan. Tidak pernah menghasud kami untuk anarkis, tawuran dan perbuatan asusila.” Kata Radit seolah diberi kekuatan untuk berargumen. Di sekolah tersebut, semula Radit adalah anak yang terbilang nakal, penampilannya slengean dan waktu pertama masuk sekolah menjadi anak yang paling jahil di antara para siswa lainnya. Tetapi, semenjak ikut kajian ekstra kulikuler dengan Ustadz Syaiful pola pikirnya berubah, meskipun sikapnya masih agak sok ngejago. Mungkin karakter bawaan karena Radit anak orang kaya, pantas jika ia diangkat jadi kepala Genk Ikal.

“Pola pikirmu itu yang nakal Radit, sekarang bukan masalah ceramahnya, tetapi kegiatan di lingkungan sekolah harus dari dalam yang mengisinya, tidak boleh ada penceramah dari luar.” Jawab kepala sekolah seperti ingin mengakhiri adu mulut dengan anak-anak Genk Ikal yang memang pandai dalam berargumen. Sungguh bagi Genk Ikal tidak bisa menerima alasan tersebut.***