Oleh: Desi Wulan Sari
(Revowriter)

Kesuksesan seorang manusia tentu menjadi kebanggaan bagi diri dan keluarganya. Apalagi kesuksesan tersebut berdampak positif pada lingkungan dan orang banyak. Manusia diciptakan dengan sempurna, memiliki akal dan berpikir untuk bisa terus mengembangkan kemampuan, kreativitas, dalam mencapai tujuan akhir.

Manusia sukses, tentulah manusia yang berpendidikan. Manusia yang pintar, cerdas, cemerlang saat melakukan aktifitas kehidupannya. Selain dari Pendidikan orangtua sejak lahir, hingga pendidikan formal yang ditempuh dibimbing oleh guru pendidik. Guru dibutuhkan bagi siapapun sebagai perantara transfer ilmu bagi manusia. Orangtua kita adalah guru pertama dalam kehidupan. Dilingkungan formal sekolah guru juga merupakan pendidik utama dalam kehidupan kita.

Peran guru dari zaman dahulu sampai sekarang tidak berubah. Tetap dibutuhkan jasanya, terlebih dalam dunia pendidikan. Guru, merupakan profesi yang paling mulia, karena jasanya sangat dikenang oleh para peserta didiknya. Anggapan masyarakat terhadap guru, memiliki sudut pandang, orang yang paling pandai. Jadi hal apapun dalam kehidupan sehari-hari, seorang guru pasti bisa mengerjakannya. Padahal, belum tentu semua kegiatan dan mata pelajaran di sekolah, tekuasai semuanya.

Guru, memiliki empati dan hati nurani terhadap sesama. Terutama dalam menjalankan profesinya, pasti ada kelebihan dan juga ada kekurangannya. Wajar saja, profesi guru memiliki beban dan tugas yang sangat berat. Maka dari itu, untuk menghadapi beban dan tugas tanggung jawab seorang guru, sangat membutuhkan keterlibatan pihak lain. Seorang guru, tidak mungkin dapat berdiri sendiri, peran pemerintah dan kepedulian masyarakat juga sangat dibutuhkan. Hal demikian, agar dunia pendidikan di negara kita, menjadi lebih baik lagi.

Sejatinya, pemerintah dan masyarakat menaruh harapan besar dari pundak profesi seorang guru. Maka dari itulah, keberadaan guru menjadi tonggak sejarah, pembawa perubahan pada generasi penerus bangsa.

Akan tetapi, masihkah Kita tetap menutup mata, akan nasib guru-guru mulia ditanah air ini? Kehormatan mereka yang seharusnya dijunjung tinggi. Keberlangsungan hidup mereka yang seharusnya terjamin. Tempat tinggal yang layak, makan minum yang berkecukupan bagi diri dan keluarganya terjamin segala fasilitas sebagai tanda penghargaan kontribusi seorang guru dimanapun, bahkan bisa lebih dari itu.

Faktanya, mereka yang seharusnya menempati posisi terhormat karena keluhuran profesinya, sejauh ini belum mendapat perlakuan layak. Di sebagian wilayah negeri ini, seringkali nasib serba minim terjadi pada mereka. Mereka hanya didikte dan tak jarang dikriminalisasi. Ada kesenjangan sikap yang luar biasa yang ditujukan kepada mereka: ketika guru dianggap salah, urusanya langsung ke pengadilan. Namun, ketika berhasil mendidik anak, maka penghormatan pada mereka kurang diberikan. Yang banyak justru dilupakan.

Bagaimana mungkin hal yang paling menyedihkan dan sangat miris terhadap seorang pendidik bisa terjadi di negeri ini. Tak ada yang mampu menjamin kesejahteraan seorang guru, walaupun hidupnya mereka baktikan untuk mencerdaskan anak didiknya tanpa pamrih sedikitpun, tak lain hanyalah ingin mengantar anak didiknya menjadi seorang yang sukses dan bertakwa. Tentu saja kondisi memilulan seperti ini nyata adanya. Saat sistem kufur kapitalis mengurus satu negara maka seluruh persoalan dan urusan hidup masyarakatnya akan selalu dikaitkan hanya seputar modal, hasil keuntungan, serta biaya murah dalam pengeluaran. Sistem yang sangat merusak dan hanya melahirkan pemikiran sekularis dan liberalis dalam mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara.

Berbeda ketika guru mendapatkan tempat yang sangat terhornat saat Islam memerintah. Di masa kejayaan Islam, guru begitu dihormati baik oleh negara dan masyarakat. Mehdi Nakosteen misalnya, dalam buku “Kontribusi Islam atas Intelektual Dunia Barat” (1996: 76-77) mencatat bahwa guru dalam pendidikan muslim begitu dihormati. Para pelajar muslim (mahasiswa) mempunyai perhatian besar terhadap gurunya. Bahkan, sering kali lebih suka hubungan intelektual secara langsung dengan gurunya daripada dengan tulisan-tulisan mereka.

Perhatian daulah terhadap guru juga diwujudkan dalam bentuk mencukupi kebutuhan anak-anak guru. Kebutuhan pokok dan biaya sekolah ditanggung oleh pemerintah sehingga membuat hidup mereka menjadi nyaman. Pada masa Daulah Abbasiyah, tunjangan kepada guru begitu tinggi seperti yang diterima oleh Zujaj pada masa Abbasiyah. Setiap bulan beliau mendapat gaji 200 dinar. Sementara Ibnu Duraid digaji 50 dinar perbulan oleh al-Muqtadir.

Apa yang dutunjukkan para pemimpin muslim (khalifah) membuktikan bahwa Islam sangat menghormati guru. Hal itu terwujud melalui kepedulian negara dan masyarakat. Guru ditempatkan pada posisi mulia. Tidak akan ada yang berani menghinakan seorang guru, menyakiti kehormatan seorang guru, bahkan negara sekalipun tidak akan pernah membiarkan seorang guru di masa itu berada dalam kehidupan yang sulit, apalagi terpuruk.

Sungguh menarik ungkapan seorang penulis A.Hassan dalam buku “Kesopanan Tinggi Secara Islam” (1993: 25-28) “Sungguh pun ilmu-ilmu ada tertulis di kitab-kitab, tetapi kunci dan rahasianya ada di tangan atau di dada guru.” Beliau juga menyarankan: hormatilah guru, berlakulah sopan kepadanya dan turuti perintah-perintahnya di hadapannya dan di belakangnya.

Wajar jika umat ingin menepis sistem kufur yang nyata-nyata tidak memiliki tujuan hakiki. Banyaknya prnderitaan dan sulitnya kehidupan rakyat termasuk para guru di tanah air membuktikan ketidakberpihakan penguasa terhadap kesejahteraan rakyat. Justru saatnya semangat kebangkitan umat muncul untuk nengembalikan kehidupan Islam yaitu kehidupan yang memiliki aturan syariat yang bersumber dari Kalam Allah SWT. Hukum yang tidak terbantahkan, bahkan sudah teruji kesahahihannya, bahkan keberhasilannya saat Islam pernah menerapkan hukum ini bagi umat manusia di sepertiga belahan dunia.
Wallahu a’lam bishawab.