Oleh: Maman El Hakiem

Sorotan kamera malam itu mungkin yang terakhir. Panggung megah hanya tinggal kenangan. Tidak ada lagi tepuk tangan penonton dan teriakan penggemar. Bagi Mentari, semuanya harus diakhiri. Lekukan tubuhnya yang mempesona saat menari. Sekalipun menghasilkan pundi-pundi uang, tetapi tidak pernah membuat hatinya tenteram.

Tiap malam seusai pentas, yang ada hanya perasaan salah. Membuatnya gelisah. Terlebih setelah sering baca whats app dari seseorang yang hadir di gadgetnya. Entah siapa pengirimnya, nomornya tak dikenali, sekalipun ganti nomer ponsel, dia seperti malaikat yang segala tahu apa yang dirahasiakan.


“Malam Tari….malam ini pasti hatimu sudah tenteram, tidak lagi gelisah ya!” Pesan itu muncul lagi. Kali ini Mentari agak heran, karena bukan lagi pesan nasihat atau kutipan ayat, melainkan sapaan yang membuatnya kaget karena seolah tahu perasaan hatinya. Sebenarnya Mentari ingin menjawabnya “Ya”, tetapi ia berusaha tidak menanggapinya. “Biasanya, kalau sudah saling sapa akhirnya pengen ketemuan dan modus untuk pacaran.” Pikir Mentari.


“Senang sekali jika hatimu telah tenteram, mungkin besok kehadiranku tidak akan diperlukan.” Kata-kata seolah menjawab pertanyaannya sendiri.
Sungguh bagi Mentari yang membuatnya berubah adalah pesan kutipan nasihatnya seusai pentas terakhir malam itu. “Jika tarianmu membuat tatapan manusia kagum, maka mata-mata mereka sebenarnya menjadi saksi kelak bahwa tubuhmu tidak layak ke surga.”

Pesan itu selalu disimpan di ponselnya, karena mengingatkan bahwa mereka mengagumi dirinya, padahal tatapan itulah yang kelak akan mencelakakan dirinya.


Mentari mencoba menelusuri kembali ingatannya kepada masa lalu. Saat dirinya masih kecil, betapa orang tuanya sangat bangga dirinya bisa menari, sekalipun sekedar goyang-goyang di panggung pentas seni sekolah dasar. “Wah hebat anak ibu, tariannya bagus, kamu memang bakat menari, nak!” Demikian pujian ibu yang sering diikuti tepuk tangan kebanggaan.


Mungkin karena dinilai ada bakat, orang tua memaksa dirinya disekolahkan pada sekolah tari yang mengantarkannya menjadi penari profesional dengan bayaran mahal. Padahal, Mentari sejak kecil juga disuruh orang tua belajar mengaji di masjid. Tetapi bagi sebagian banyak orang tua, mengaji atau belajar agama mungkin dianggap sekedar menjaga “akhlak” agar anaknya tidak buta huruf al Qur’an dan bisa shalat. Perkara aurat dan pekerjaan disesuaikan tuntutan jaman.


“Tari…selagi besok pagi masih ada cahaya matahari, pasti kehidupan baru akan di mulai. Lupakan tarianmu, karena malam akan menyimpan segala aibmu.” Pesan yang sungguh memantapkan hati Mentari untuk hijrah dari pekerjaan yang mengumbar auratnya selama ini.


Betapa perjalanan hidup manusia tidak bisa diduga, tanpa tahu siapa yang menghadirkan orang yang selalu memberinya pesan dalam ponselnya. Sampai suatu saat air mata ini terjatuh di tempat sujud, Mentari menemukan ketenteramannya saat ia menemukan jodoh dalam hidupnya. Seseorang yang menjadi imam dalam keluarganya, tidak lain pemberi pesan singkat dalam ponselnya.***