Oleh: Ummu Fathan (Anggota Komunitas Setajam Pena)

Gemah ripah loh jinawi adalah ungkapan kalimat yang menggambarkan betapa kayanya alam di negeri kita Indonesia. Jika diartikan, ungkapan tersebut berarti Indonesia mempunyai kekayaan alam yang berlimpah. Namun, kekayaan alam yang berlimpah belumlah membuat Indonesia berdaulat dalam bidang energi.

Sebut saja salah satu hasil dari sumber energi adalah gas, Indonesia merupakan salah satu penghasil gas papan atas di dunia. Data BP statistics 2014 menunjukkan cadangan gas alam terbukti indonesia mencapai 103,3 triliun kaki kubik. Dengan angka cadangan tersebut menempatkan indonesia berada pada posisi peringkat ke-14 pemilik cadangan terbesar di dunia.

Saat ini, ada beberapa wilayah yang tercatat sebagai penghasil gas alam terbesar di Indonesia. Di antaranya Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Papua Barat dan Kepulauan Riau. Gas alam yang sudah di produksi tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri serta di ekspor ke berbagai negara.

Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama jadi perbincangan hangat. Pria yang beken disapa Ahok itu mengungkapkan borok Pertamina, mulai dari Direksi hobi lobi menteri hingga soal doyan berutang.

Pernyataan Ahok itu ada dalam video yang diunggah akun Youtube POIN seperti dikutip detikcom Selasa (15/9/2020).

“Dia ganti direktur pun bisa tanpa kasih tahu saya, saya sempat marah- marah juga, jadi direksi- direksi semua main lobinya ke menteri karena yang menentukan menteri. Komisaris pun rata-rata titipan kementrian-kementrian,” kata Ahok.

Ahok pun memiliki cara untuk mengatasi masalah ini. Salah satunya ialah lelang terbuka.
“Saya potong jalur birokrasi, Pertamina itu dulu naik pangkat mesti pakai kayak pangkat, Pertamina refference level orang mesti kerja sampai SVP bisa 20 tahun ke atas saya potong semua mesti lelang terbuka,” terangnya.

Begitulah sistem kapitalis yang saat ini masih di emban oleh sebagian besar para pemilik modal. Intinya siapa yang punya banyak modal maka dia akan lebih mudah berkuasa dalam mencapai tujuannya. Termasuk harus kong-kalikong dengan pejabat untuk memuluskan keinginan mereka meraup keuntungan yang sebesar-besarnya.

Dalam sistem kapitalis, kepemilikan dalam pandangan manusia dianggap memiliki hak milik yang mutlak atas alam, dan semesta, karenanya dia bebas untuk memanfaatkan sesuai dengan kepentingannya.

Menurut aturan Islam, kekayaan alam adalah bagian dari kepemilikan umum. Kepemilikan umum ini wajib dikelola oleh negara. Hasilnya diserahkan untuk kesejahteraan rakyat secara umum. Sebaliknya, haram hukumnya menyerahkan pengelolaan kepemilikan umum kepada individu, swasta apalagi asing.

Di antara pedoman dalam pengelolaan kepemilikan umum antara lain merujuk pada sabda Rasulullah saw.:

الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ فِي الْمَاءِ وَالْكَلَإِ وَالنَّارِ

Kaum Muslim berserikat (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal: air, rumput dan api (HR Ibnu Majah).

Rasul saw. juga bersabda:
“Tiga hal yang tak boleh dimonopoli: air, rumput dan api.” (HR Ibnu Majah).

Terkait kepemilikan umum, Imam at-Tirmidzi juga meriwayatkan hadis dari penuturan Abyadh bin Hammal. Dalam hadis tersebut diceritakan bahwa Abyad pernah meminta kepada Rasul saw. untuk dapat mengelola sebuah tambang garam. Rasul saw. lalu meluluskan permintaan itu. Namun, beliau segera diingatkan oleh seorang sahabat, “Wahai Rasulullah, tahukah Anda, apa yang telah Anda berikan kepada dia? Sungguh Anda telah memberikan sesuatu yang bagaikan air mengalir.” Rasul saw. kemudian bersabda, “Ambil kembali tambang tersebut dari dia.” (HR at-Tirmidzi).

Mau al-iddu adalah air yang jumlahnya berlimpah sehingga mengalir terus-menerus. Hadis tersebut menyerupakan tambang garam yang kandungannya sangat banyak dengan air yang mengalir. Semula Rasullah saw. memberikan tambang garam kepada Abyadh. Ini menunjukkan kebolehan memberikan tambang garam (atau tambang yang lain) kepada seseorang. Namun, ketika kemudian Rasul saw. mengetahui bahwa tambang tersebut merupakan tambang yang cukup besar—digambarkan bagaikan air yang terus mengalir—maka beliau mencabut kembali pemberian itu. Dengan kandungannya yang sangat besar itu, tambang tersebut dikategorikan sebagai milik bersama (milik umum).

Berdasarkan hadis ini, semua milik umum tidak boleh dikuasai oleh individu, termasuk swasta dan asing. Tentu yang menjadi fokus dalam hadis tersebut bukan “garam”, melainkan tambangnya. Dalam konteks ini, Al-Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani mengutip ungkapan Abu Ubaid yang mengatakan, “Ketika Nabi saw. mengetahui bahwa tambang tersebut (laksana) air yang mengalir, yang mana air tersebut merupakan benda yang tidak pernah habis, seperti mataair dan air bor, maka beliau mencabut kembali pemberian beliau. Ini karena sunnah Rasulullah saw. dalam masalah padang, api dan air menyatakan bahwa semua manusia bersekutu dalam masalah tersebut. Karena itu beliau melarang siapapun untuk memilikinya, sementara yang lain terhalang.”

Alhasil, menurut aturan Islam, tambang yang jumlahnya sangat besar baik garam maupun selain garam seperti batubara, emas, perak, besi, tembaga, timah, minyak bumi, gas dsb. semuanya adalah tambang yang terkategori milik umum sebagaimana tercakup dalam pengertian hadits di atas. Wallaahu a’lam bish-shawab.