Oleh: Titin Hanggasari
(Muslimah penggiat sejarah Islam)

Saat ini, dunia sedang dilanda kebingungan, di tengah kerasnya berbagai negara melawan Resesi ekonomi terhebat yang belum tahu ujungnya. Namun hal terpenting bagi Umat harus segera keluar dari lingkaran yang membingungkan. Salah satu jalannya harus segera move on kepada sistem ekonomi Islam. Ini satu-satunya jalan terbaik dalam kehidupan saat ini, sebab segala cara sudah di tempuh untuk memulihkan perekonomian dunia. Maka umat harus belajar kembali pada histori penerapan sistem ekonomi Islam yang nyata-nyata membawa kejayaan yang mensejahterakan, pada ribuan tahun di masa daulah Islam.

Bukan hanya mempelajari. Maka hal yang penting bagi umat saat ini bagaimana ilmu menjadikan suatu kebutuhan penting untuk menangani resesi ekonomi yang begitu berat ini. Karena dalam praktiknya, banyak pemahaman secara aplikatif dan interaksi terhadap realita kehidupan ekonomi milenial, yang berangkat dari kesalahan masuknya hawa nafsu dalam permasalahan. Sebab ketiadaan batasan dari metodologi dan rujukan syariah dalam aplikasinya. Buktinya, fakta kekayaan alam ini tidak bisa berpihak pada kesejahteraan seluruh umat.

Sehingga tak perlu ragu memilih aplikasi sistem ekonomi Umar bin Khattab. Sebab, Umar Bin Khattab memiliki otoritas dalam mengaplikasikan realitas di kehidupan sejak(sejarah) adanya Islam. Beliau sangat tegas, pemberani, berwibawa, berpegang teguh pada ittiba’(mengikuti) dan ta’assi (meneladani) seluruh perbuatan Rasul. Kecuali af’al ghairu jibiliyyah yang khawwas(sifat khusus untuk Nabi).

Rasulullah SAW bersabda;
”Sungguh Siapa yang diantara kamu hidup setelahku akan mengetahui banyak perbedaan; maka berpegang teguhlah kepada sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Berpeganglah kepadanya dengan erat-erat.“
Sebab-sebab khusus yang lain. Dalam sabda Rasul SAW, “Ikutilah dua orang setelah ku: Abu Bakar dan Umar.” Dalam hadits lain menyebutkan, “Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran pada lisan Umar dan hatinya.”

Fiqih Umar Radhiallahu Anhu mencakup banyak bidang titik diantaranya bidang politik bidang manajemen bidang ekonomi, bidang peradilan, bidang pendidikan, bidang dakwah, dan bidang kemiliteran. Disamping masalah ibadah, muamalah, dan lain-lain

Rujukan ini menjadi perhatian besar dan kesungguhan, kaum muslimin generasi kala itu. Menyebabkan kemuliaan dan kemenangan dalam realita kehidupan mereka. Ini merupakan sejarah yang tak bisa dipatahkan. Dan kenapa harus memilih penerapan ekonomi Islam dari Amirul Mukminin ini?

Salah satu sebab umum yang memberatkan beliau terkenal pemimpin yang tegas. Ketegasannya bisa membekap kebenaran sejarah yang disamarkan pada abad ke-5 hingga 15 Masehi, konon abad itu di sebut abad kegelapan dan kemandekan berfikir. Padahal di sana, terdapat masa sejarah kaum muslimin. Di mana terdapat sejarah masa kenabian, Khulafaur Rasyidin, dan masa kesatuan umat serta kebangkitan di seluruh bidang kehidupan. Yang tak kalah penting penerapan bidang ekonomi Islam.

Maka agar umat tidak terseret oleh sifat hawa nafsu yang salah aplikasi, seyogianya penting bagi umat memahami dasar-dasar fikih ekonomi Umar Radhiyallahu Anhu terlebih dahulu. Yaitu dasar-dasar tentang produksi, konsumsi, distribusi, uang, perubahan ekonomi dan cara terapinya. Sambil senantiasa semangat belajar, bersama dengan itu melakukan pengamatan atas maklumat berbanding dengan faktanya saat ini.

Produksi, seluruh kegiatan produksi ini harus mencakup kemanfaatan dunia dan akhirat yang sesuai dengan syariat Islam. Bahkan dinilai sebagai suatu bentuk jihad fisabilillah. Semua profesi dan kegiatan ekonomi untuk umat dinilai fardhu kifayah.

Konsumsi, Umar Radhiallahu Anhu memberikan tingkat konsumsi yang laik bagi setiap individu umatnya. Yang dikokohkan dengan dalil-dalil syariah bahwa konsumsi sebagai sarana membantu perealisasian dan pengabdian kepada Allah ta’ala. Memenuhi kaidah kuantitas, sosial, lingkungan, dan larangan mengikuti pola konsumsi yang buruk. Dan memerangi bentuk penyimpangan apapun dari hal tersebut. Yaitu yang membahayakan agama, akhlak, ekonomi, dan kesehatan manusia. Yang akan menyebabkan penistaan, keterpurukan, dan kehancuran.

Perilaku ini penting untuk selalu mengikuti Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan Abu Bakar Radhiallahu Anhu, dalam kehidupan beliau agar nantinya dapat berdampingan dengan beliau di surga.

Distribusi, merupakan dasar ekonomi terpenting, karena mencangkup pengaturan kepemilikan unsur produksi, pendistribusian pemasukan diantara unsur-unsur produksi, dan individu masyarakat. Tujuannya yang terpenting adalah untuk dakwah dan Tarbiyah, sosial dan ekonomi, dan lain-lain. Yang memperhatikan semua kaum, untuk masa kini dan mendatang. Maka dilarang memiliki sumber daya alami yang menjadi milik bersama.

Berikut penentuan upah bagi pekerja pemerintah pegawai negeri pun, hanya diberikan kecukupan saja. Dengan memperhatikan situasi dan kondisi yang berbeda. Sedangkan untuk swasta dalam pengawasan pemerintahan, diberikan batasan upah sesuai dengan interaktif kekuatan penawaran dan permintaan dalam perspektif komitmen kepada nilai-nilai Islam. Untuk mengantisipasi kepentingan salah satu pihak.

Di lain sisi, pendapat Umar Radhiallahu Anhu, saat krisis, juga ketidakmampuan sumber-sumber Baitul Mal untuk memenuhi kebutuhan primer, kebijakan di berikan kepada mereka yang mampu agar turut menutupi kebutuhannya.

Uang, adalah fenomena yang paling menonjol, dalam pengawasannya, perhatiannya, serta menjamin keselamatan interaksi uang. Guna menghadapi muamalah yang berdampak negatif.

Krisis ekonomi, dampaknya meliputi pada kegiatan perdagangan, di samping dampak sosial dan dampak kesehatan. Umar Radhiallahu Anhu berupaya keras mencari sebab-sebab krisis terjadi, yaitu yang paling utama tercermin sebab dosa dan kesalahan yang dilakukan manusia. Yakni krisis Ramadah, bukan kesalahan pada sistem ekonomi yang berlaku.

Dalam mengurai krisis, beliau mengambil sebab-sebab maknawiyah. Bagi krisis untuk menterapi nya umat. Diantaranya yang terpenting adalah Taubat dan istighfar. Dengan beramal soleh. Beliau menjadikan dirinya, keluarganya, dan para aparatnya sebagai panutan bagi orang lain dalam krisis tersebut (dapat di pelajari buku Fikih Ekonomi Umar bin Al-Khathab. Dr Jaribah Bin Ahmad Al-Haritsi. 2020. Cetakan 6. Jakarta Timur:Pustaka Al-Kautsar)

Terapi selanjutnya, yang dilakukan oleh Umar, memiliki sifat karakteristik fleksibel, dimana beliau memperhatikan kondisi yang dilalui manusia. Dalam krisis tersebut, mengambil sebagian bentuk pengecualian di dalamnya. Metode yang digunakan adalah mencakup penyelesaian jangka pendek untuk menerapi dampak-dampak krisis tersebut. Dan menyelesaikannya jangka panjang untuk menghadapi krisis yang serupa di masa mendatang.

Subhanallah…. dalam dunia milenial ini umat membutuhkan pemimpin Amirul Mukminin seperti Umar Bin Khattab Radiallahu Anhu, yang berani menjadi di Junnah bagi umatnya apalagi dalam situasi krisis ekonomi seperti sekarang. Semangat untuk mempelajari sejarah pengembangan ekonomi Internasional Umar Bin Khattab part selanjutnya.