Oleh : Dien Kamilatunnisa

Serangan narasi buruk mengenai aturan Islam kembali terjadi. Hal ini ditunjukkan dengan adanya video yang dibuat oleh media asal Jerman Deutch Welle (DW). DW Indonesia membuat konten video yang mengulas tentang sisi negatif anak pakai jilbab sejak kecil. Dalam video itu, DW Indonesia mewawancarai perempuan yang mewajibkan putrinya mengenakan hijab sejak kecil ( pikiran-rakyat.com, 26/08/2020).

Konten tersebut jelas menyinggung masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim. Jilbab dan kerudung adalah penanda yang paling terlihat dan membedakan muslimah dewasa dari yang lainnya. Selain itu, jilbab dan kerudung adalah bagian dari bentuk ketundukan pada hukum syara sebagai bagian dari keimanan. Jadi adalah sebuah kewajaran jika orangtua mengenalkan jilbab dan kerudung kepada anaknya sejak mereka usia dini. Sehingga, anggapan bahwa memakaikan jilbab akan membuat anak bingung dan terlihat ekslusif hanyalah asumsi subjektif dari kaum yang memiliki pemikiran sekuler.

Ketakutan akan syariat Islam memang sudah lama terjadi. Hal ini mendorong rekayasa narasi syariat Islam menindas perempuan. Menurut pandangan sekuler salah satu cara menyelamatkan perempuan adalah menjauhkan perempuan dari ketundukannya pada hukum syara. Kemudian setelah itu mengadopsi pemikiran sekuler.

Stanley Lanepoole, seorang orientalis dan arkeolog Inggris awal abad ke-20, ia menulis, “Penistaan kaum perempuan di Timur adalah kanker yang mulai bekerja sejak dini di masa kanak-kanak, dan telah merasuk ke dalam seluruh sistem Islam”.(Mengkritik Feminisme, halaman 38 oleh dr. Nazreen Nawaz).

Lihatlah betapa musuh-musuh Islam sangat ketakutan akan ajaran Islam yang ditanamkan pada anak-anak usia dini. Sudah dari dulu memang kaum sekuler menuduh busana muslimah bagian dari hukum syariat Islam yang harus diperangi. Mereka menjadikan hal ini proyek penting untuk dihancurkan. Jadi apa yang dilakukan DW Indonesia agaknya ‘tidak mengagetkan’. Kaum sekuler akan selalu mengarahkan pelurunya pada hukum-hukum syari’at Islam. Mereka tahu betul bahwa kedudukan perempuan adalah penting dalam Islam. Islam sangat memuliakan perempuan. Perempuan adalah pusat keluarga, jantung masyarakat, dan pendidik generasi masa depan. Oleh karena itu, proyek menjauhkan jilbab, memberikan narasi buruk pada jilbab adalah bagian dari proyek penting mereka.

Umat Islam harus waspada pada berbagai serangan kaum sekuler terhadap syariat Islam. Menangkis tudingan keji mereka pada mulianya ajaran Islam. Disinilah titik kritis kita butuh perisai umat yang akan membela setiap hukum Islam. Ketika ada perisai umat, maka kaum sekuler dan musuh-musuh Islam lainnya tidak akan berani melemparkan berbagai tuduhan keji pada ajaran Islam.

“Sesungguhnya seorang imam adalah perisai, orang-orang berperang dari belakangnya dan menjadikannya pelindung, maka jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘azza wa jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya maka ia harus bertanggungjawab atasnya“ (HR. al-Bukhari, Muslim, an-Nasai dan Ahmad).

Wallohu’alam