Oleh: Maya A
Ada ada saja kebijakan yang hendak diambil oleh para petinggi negeri di bidang pendidikan. Bukan sekali dua kali kebijakannya menuai kontroversi. Februari lalu, paket kebijakan Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka dinilai oleh Pengamat pendidikan dari Center of Education Regulations and Development Analysis (CERDAS) Indra Charismiadji sebatas gimmick belaka lantaran belum menyentuh SDM sama sekali. Kemudian pada Juli, Program Organisasi Penggerak (POP) yang digagas Nadiem Makarim lagi lagi menuai kontroversi karena meloloskan yayasan terafiliasi perusahaan besar yakni Yayasan Putera Sampoerna dan yayasan Bhakti Tanoto.

Seakan belum jera, baru baru ini Kemendikbud berencana melakukan penyederhanaan kurikulum dan asesmen nasional. Dalam file sosialisasi program yang beredar di kalangan akademisi dan para guru dijelaskan bahwa mata pelajaran sejarah Indonesia tidak lagi menjadi mata pelajaran wajib bagi siswa SMA/sederajat kelas 10. Melainkan digabung di mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

Meski wacana penghapusan mata pelajaran ini akhirnya dibantah oleh pihak Kemdikbud Totok Suprayitno, namun gaungnya sempat pula menuai kritikan. Komisioner Bidang Pendidikan, KPAI, Retno Listyarti menilai wacana tersebut tidaklah tepat. Menurutnya, pembelajaran sejarah sejatinya dapat menjadi instrumen strategis untuk membentuk identitas dan karakter generasi muda sebagai penerus bangsa. Lebih lanjut, ia juga menjelaskan bahwa nilai-nilai yang dipelajari dalam sejarah bangsa merupakan nilai karakter nyata dan teladan bagi generasi muda. Sehingga dengannya, dapat pula meningkatkan apresiasi terhadap karya para pendahulu, memberikan perspektif dan ukuran untuk menilai perjalanan bangsa. (Medcom.id 20/9)

Rencana penyederhanaan kurikulum kurikulum yang mungkin berefek pada tidak wajibnya pelajaran sejarah untuk SMA/K tentu harus dipahami oleh masyarakat sebagai masalah baru yang berbahaya. Hal ini karena generasi berpotensi kehilangan memori tentang jasa ulama bagi negeri sehingga luput bagi mereka akan perjuangan serupa. Tak hanya itu, tidak wajibnya pelajaran sejarah juga akan menjadikan generasi terancam tak paham tentang tragedi kekejaman para PKI, tentang bahaya ideologi komunisme yang bahkan pernah menjadi musuh bersama bangsa. Lebih berbahaya dan mengkhawatirkan lagi, ketidakpahaman pelajar atas sejarah justru akan mendorong mereka untuk mencari dari sumber sumber yang tidak valid dan diragukan keabsahannya.

Penting untuk disadari bahwa sejarah sejatinya memiliki arti penting bagi kemajuan sebuah bangsa. Karenanya, apabila negeri ini menghendaki kebangkitan menyongsong sebuah kejayaan, maka sudah semestinya negeri ini juga bersiap merekonstruksi pelajaran sejarah. Namun yang menjadi pertanyaan, sejarah seperti apakah yang mestinya diajarkan pada generasi?

Seperti diketahui bahwa sejarah telah mencatat bagaimana besarnya sumbangsih para ulama, kiai serta komponen pesantren terhadap realisasi kemerdekaan bangsa. Dan tak bisa dipungkiri bahwa kegigihan mereka tak lepas dari resolusi jihad yang merupakan bagian dari ajaran Islam. Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan misalnya, ia bermula dari resolusi jihad yang difatwakan oleh KH.Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 di Surabaya, yang kemudian dikokohkan pada Muktamar NU XVI di Purwokerto 26-29 Maret 1946.

Sayangnya, generasi muda dewasa ini telah kehilangan pijakan dan buram akan semangat juang para pendahulunya. Hal tersebut tentu tak lepas dari pengajaran dan penulisan sejarah yang bertolak pada pemikiran deislamisasi sehingga banyak diantaranya yang sengaja ditutupi. Bahkan terhadap sejarah tentang jejak Islam dan khilafah di negeri ini pun mendapat perlakuan yang sama. Dimusuhi habis habisan.

Sungguh, pohon yang besar tidak dimiliki kecuali oleh akar yang kuat. Maka akar inilah yang sejatinya tengah dibutuhkan generasi untuk meraih kebangkitan hakiki. Akar yang dimaksud tidak lain adalah Islam, yang realisasi secara kaffahnya pernah dilakukan oleh khilafah. Dari sini jelas, bahwa visi penyelamatan generasi bisa diraih dengan mengajarkan sejarah peradaban Islam yang dikenal dengan keagungannya. Meski dalam pandangan Islam sejarah tidak bisa dijadikan sumber hukum, tapi yang pasti sejarah bisa dijadikan sebagai i’tibar dan pelajaran yang bisa diteladani serta motivasi bagi generasi untuk mewujudkan kegemilangan yang serupa.

Dalam sistem pendidikan Islam sendiri, sejarah merupakan hal penting yang harus diajarkan bahkan sejak tingkatan dasar. Namun berbeda dengan kondisi saat ini dimana banyak sejarah yang sengaja dikaburkan, negara tidak akan lepas tangan begitu saja dalam pengajarannya. Negara akan lebih dulu memfalidasi jalur sejarah beserta sumbernya dengan menunjuk ahli sejarah, siroh dan hadist serta ahli terkait untuk melakukan riset sejarah. Sehingga apa yang sampai di peserta didik, adalah sesuatu yang bisa dipertanggungjawabkan.

Demikian besar peranan sejarah dalam pandangan Islam. Sehingga tidaklah layak jika keberadaannya sengaja ditutupi demi memenuhi keegoisan pribadi/sekelompok orang jika kebangkitan generasi muda masa depan yang diharapkan.