Oleh: Dian Puspita Sari
Aktivis Muslimah Ngawi

Sungguh prihatin melihat nasib perempuan di negeri kita saat ini. Di tengah kondisi pandemi COVID-19 tak kunjung usai dan beban hidup berat masyarakat, tenaga perempuan diekspoitasi. Mereka didorong untuk beraktivitas keluar rumah, dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya.

Seperti dilansir dari bisnis.com, saat ini upah tenaga kerja perempuan masih dibayar lebih rendah dibandingkan laki-laki, dengan perkiraan kesenjangan upah sebesar 16 persen.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh International Labour Organization (ILO) dan UN Women, perempuan memperoleh 77 sen dari setiap satu dolar yang diperoleh laki-laki untuk pekerjaan yang bernilai sama. Angka ini sudah dihitung dengan kesenjangan yang bahkan lebih besar bagi perempuan yang memiliki anak.

Kesenjangan upah ini memberikan dampak negatif bagi perempuan dan keluarganya apalagi selama pandemi COVID-19.
Dari laporan pemantauan ILO yang dikutip, Senin (21/9/2020), tentang COVID-19 dan dunia kerja, Edisi ke-5, yang menemukan banyak pekerja perempuan mendapatkan dampak berbeda selama pandemi.
(bisnis.com, 21/9/2020) [1]

Hal ini adalah realita kehidupan kapitalis dan demokrasi sekuler yang kita hadapi saat ini. Dalam sudut pandang ideologi kapitalis, agama terpisah dari kehidupan (sekuler). Masalah warga negara juga dipandang secara subyektif dan terpisah : sudut pandang “gender” : laki-laki terpisah dari perempuan. Bukan manusia sebagai umat yang satu.
Demokrasi, yang juga anak kandung kapitalisme, memiliki 4 kebebasan. Salah satunya kebebasan berperilaku. Yang di dalamnya membebaskan perilaku manusia, tak terkecuali perempuan, untuk “berdaya”. Dalam artian berdaya secara ekonomis. Mereka didorong untuk bebas terlibat langsung dalam pemberdayaan perempuan. Yakni ikut mencari nafkah demi keluarganya.

Sehingga sedikit demi sedikit, tanpa mereka sadari, mereka mengabaikan peran dan tanggung jawab nya sebagai perempuan. Sebagai “al-ummu wa rabatul bayt”, ibu dan pengatur rumah tangga. Mereka dipaksa bersaing dengan laki-laki dalam dunia kerja. Termasuk bersaing dalam kesetaraan upah.

Alih-alih upah setara, yang terjadi justru kesenjangan upah antara laki-laki dan perempuan.
Lalu problem kesenjangan upah antara laki-laki dan perempuan diselesaikan dengan seremoni peringatan Hari Kesetaraan Upah Internasional. Yang diperingati setiap tanggal 18 September.
Perhatian terhadap kesejahteraan perempuan juga diwujudkan dengan cara ekspolitatif.

Dengan cara :

  • Mendorong perempuan bekerja di sektor publik.
  • Menghilangkan hambatan berupa peran utama domestiknya. Sebagai ibu dan pengatur rumah tangga di rumah.
  • Lalu mendorong perempuan untuk terjun ke semua jenis pekerjaan; agar mereka tidak menuntut negara menjamin kesejahteraannya.

Jika potensi perempuan dieksploitasi secara kapitalis nan sekuler, bisa kita bayangkan betapa kaum perempuan akan :

  • Kehilangan peran domestiknya. Termasuk naluri kewanitaan dan keibuannya.
  • Mengurangi bahkan menutup peluang kerja untuk laki-laki. Akibatnya pengangguran kian marak.
  • Melalaikan peran utamanya sebagai “al ummu wa rabatul bayt”. Yang juga merupakan hak suami dan anaknya.
  • Gambaran wanita sebagai tiang negara mustahil terwujud.

Kesetaraan dalam Islam

Dalam Islam, kesetaraan antara laki-laki dan perempuan tak bisa dilepaskan dari peran dan tanggung jawabnya sebagai manusia dan muslim.

Sebagai manusia, peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan berbeda.

Perbedaannya:
Secara fitrahnya, laki-laki diciptakan Allah bertenaga lebih kuat. Sehingga Allah menetapkan dalam syariat Islam bahwa laki-laki berperan sebagai al-Qawwam (kepala rumah tangga), yang wajib menafkahi anggota keluarganya.
Sedangkan perempuan cenderung bersifat lemah lembut dan penuh kasih sayang, memiliki potensi naluri kewanitaan dan keibuan. Sehingga Allah menetapkan dalam syariat Islam bahwa peran perempuan adalah sebagai al ummu wa rabatul bayt (ibu dan pengatur rumah tangga). Allah juga menetapkan hukum-hukum-Nya seputar kehamilan, kelahiran, penyusuan, pengasuhan, maupun masa ‘iddah. Yang semua itu tidak ditetapkan atas laki-laki kecuali atas perempuan.

Adapun sebagai muslim, tugas dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan sama (setara).

Kesamaannya:
Baik laki-laki dan perempuan muslim wajib melakukan sholat, puasa, berdakwah (amar ma’ruf nahi munkar, muhasabah lil hukam), memilih pemimpin (khalifah), mentaati semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Mereka berhak mendapatkan balasan pahala dan surga atas amal salehnya. [2]

Allah Swt. juga berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً
“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. an-Nahl [16]: 97)

Sejahtera dalam Islam

Sejahtera dalam Islam adalah sesuatu yang wajib ada bagi rakyat. Kewajiban mengadakan kesejahteraan untuk rakyat ini telah dibebankan Allah kepada negara. Negara (baca: khilafah) wajib mengurusi kebutuhan hidup umat dalam semua aspek. Baik kebutuhan asasi (sandang, pangan, papan), akses kesehatan, pendidikan, maupun keamanan yang memadai.
Untuk memenuhi semua itu, khususnya kebutuhan asasi, rakyat membutuhkan harta.
Oleh sebab itu, kepemilikan harta adalah mutlak bagi rakyat.
Adapun sebab-sebab kepemilikan harta terbatas pada lima sebab berikut ini :

  1. Bekerja.
  2. Pewarisan.
  3. Kebutuhan akan harta untuk menyambung hidup.
  4. Pemberian harta negara untuk rakyat.
  5. Harta yang diperoleh seseorang tanpa mengeluarkan kompensasi berupa harta atau tenaga. [3]

Dalam hal ini, Islam telah mewajibkan laki-laki (baca: suami) untuk bekerja menafkahi anggota keluarganya.
Maka khilafah wajib mengadakan lapangan kerja seluas-luasnya untuk laki-laki dewasa.
Perempuan tidak wajib untuk bekerja. Namun didorong untuk menjalankan peran utamanya sebagai “al ummu wa rabatul bayt”. Sehingga dalam Islam, perempuan tidak perlu memikirkan sesuatu yang berat dan menjadi ladang kewajiban bagi para suami. Mereka juga tidak akan mengalami kondisi terpuruk seperti saat ini.
Di era demokrasi sekuler, warga negara, baik laki-laki dan perempuan, mereka sama-sama terkena dampak buruk penerapan sistem hidup kapitalis sekuler : pemotongan upah, PHK, sedangkan biaya hidup kian melambung. Diperburuk dengan pandemi COVID-19 yang belum usai.
Perempuan diberdayakan sebagai buruh (pekerja) secara eksploitatif. Mereka seolah dipaksa oleh sistem untuk keluar dari rumah dan meninggalkan peran utamanya dalam Islam. Mereka juga tak mendapatkan hak-haknya sebagai warga negara sebagaimana mestinya.

Alhasil, mereka pun mudah stress, depresi bahkan gila. Seorang ibu bisa kehilangan naluri kewanitaan dan keibuannya akibat depresi. Hal ini bisa berakhir pada meningkatnya angka perceraian dan kriminalitas.

Islam Menjamin Rakyat Sejahtera

Keterpurukan hidup yang kita hadapi saat ini mustahil berakhir selama kita tak segera beranjak keluar dari sistem hidup sekuler menuju hidup Islami. Tak ada solusi lain kecuali campakkan aturan hidup demokrasi sekuler! Lalu beralih kepada aturan hidup islami. Karena Islam adalah habitat hidupnya kaum muslimin. Islam juga menaungi umat manusia agar mereka ikut menikmati kesejahteraan rakyat sebagai buah hasil penerapan syariat Islam kafah dalam naungan khilafah.

Wallahu a’lam bishawwab.

Catatan Kaki :
1.https://entrepreneur.bisnis.com/read/20200921/52/1294380/perempuan-terima-upah-lebih-rendah-dibandingkan-dengan-laki-laki

  1. Sistem Pergaulan dalam Islam (an Nidhomul ijtima’i), Bab Aktivitas Kaum Wanita, Taqiyuddin an-Nabhani.
  2. Sistem Ekonomi dalam Islam (an Nidhomul Iqtishodi fi al Islam), Taqiyuddin
    an-Nabhani.