Oleh: Deni Marliani
Persahabatan bisa terjalin dimasa kuliah, bagaimana tidak kita sama-sama menyaksikan satu sama lain untuk mengerjakan tugas hingga larut malam, jatuh bangun menyelesaikan program praktek hingga menjalani hidup yang paling mandiri diposko KKN, jatuh bangun mencari identitas diri dan menangis bersama saat yudisium. Kita bagaikan keluarga adopsi yang mendewasa bersama sepanjang perjuangan. Namun, adakalanya pengkhianatan seorang sahabat terjadi dalam masa kuliah yang seharusnya diwarnai dengan indahnya perjuangan malah diwarnai dengan gelapnya sebuah kemunafikan pengkhianatan.

Aku hanyalah mahasiswi akhir yang berhasil menyelesaikan studi pada waktu yang tepat setelah berbagai macam cobaan dan fitnah serta pengkhianatan yang kuterima dari orang terdekatku. Namaku Adenia usiaku baru saja menginjak usia 20 tahun. Rayanti adalah sahabat yang kutemui saat semester 2. Saat itu program studi mengadakan per-rollingan kelas berdasarkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) atau Grades Point Average (GPA). Kami bertemu dalam satu kelas yang dinamai kelas A yang diperuntukkan untuk mahasiswa yang memiliki IPK atau GPA diatas rata-rata. Dipenghujung semester 6 kami diberangkatkan Kuliah Kerja Nyata (KKN) ditempat yang sama dalam satu posko yang otomatis kami akan bersama selam kurang lebih 45 hari dalam satu rumah ditempat yang cukup asing bagi kami berdua. Aku sekelompok dengan Rayanti dan bersama 5 orang temanku yang dipimpin satu Koodinator Desa (Kordes).

Dimasa inilah awal kehancuranku dimulai. Orang yang kuanggap saudari ternyata tak lain adalah sebuah alarm bahaya bagiku. Awalnya kami bagaikan angka 11 dan 12 yang mirip namun dimasa ini kami bagaikan angka yang berbeda. Aku menyebutnya sebagai angka 13, angka sial. Perselisihan-perselisihan kecil mulai muncul diawal KKN. Mulai dari hal kecil dan sepele sengaja Rayanti besar-besarkan demi merusak nama baikku. Perlahan-lahan teman-teman posko menganggapku pembawa masalah diposko. Teman-teman posko mulai menjauhiku dan tidak membiarkan terlibat dalam kegiatan posko dan program kerja.

Aku hanya tersenyum dan memaklumi sikap dingin dan acuh teman-teman posko. Tak ada sedikit niat klarifikasi untuk memperbaiki hubunganku. Rayanti juga tidak sedikitpun terbersit untuk membantuku, bahkan ia semakin cenderung menjauhi dan menyudutkan. Aku hanya diam melihat sikapnya yang berubah drastis. Hanya Kordes dan sekretarisnya yang sering menanyai ide-ide, saran, dan kritik serta solusi membangun untuk kegiatan posko secara langsung diluar forum diskusi karena diforum diskusi dan briefing aku tak diizinkan untuk mengeluarkan pendapatku bahkan sekedar berbicara ya atau tidak aku dilarang. Aku hanya diizinkan ikut duduk bersama dalam diskusi dan diam. Aku pun bersyukur masih dilibatkan dalam diskusi walaupun tidak bisa mengungkapkan pendapat.

Hampir setiap hari kordes menanyakan ide-ideku. Ia kagum dengan ide-ide dan kinerjaku yang bisa dikatakan membangun dalam proses KKN. Ia pun takjub dengan anak-anak penduduk yang dengan riang selalu menanyakanku dan menyemangatiku. Tak ayal dia mulai menyimpan rasa dan akupun menyadarinya. Anak-anak penduduk juga semakin dekat denganku ketimbang dengan teman-teman yang lain. Keadaan itu yang membuat Rayanti meradang dan merencanakan hal buruk padaku. Menurut temanku Raffi yang menjadi sekretaris Kordes, Rayanti menyukai Kordes dan selalu berusaha menarik perhatian Kordes namun tidak direspon sama sekali oleh Kordes. Akupun mendukung jika Rayanti menyukai Kordes yang kuketahui bernama Ilham, karena Ilham adalah pemuda yang shaleh dan seorang aktivis dakwah yang tentunya keilmuan tidak diragukan lagi. Bahkan Ilham menjadi salah satu penerima beasiswa berprestasi dengan IPK tertinggi diprogram studi kami. Sebenarnya ada sesak dihati mengetahui Rayanti menyukai orang yang kusukai, namun aku berusaha mengalah demi kebahagiaan Rayanti sahabatku itu.

Menjelang seminggu ber-KKN. saat itu aku baru baru pulang dari mengajar di SD. Rayanti masuk ke kamar kami, kamar tempat kami beristirahat dan tidur bertumpuk bagaikan ikan sarden didalam kaleng. Ia mengajakku ke Indomaret membeli detergen dan cemilan. Kami pergi dengan menaiki motor matic dengan melewati jalan berbatu. Saat melewati jalan berbatu yang parah, Rayanti sengaja mempercepat laju motor yang ia kendari sehingga aku kehilangan keseimbangan dan jatuh dari motor. Aku mengalami kecelakaan tunggal dan dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten tempatku ber-KKN. Traumaku kembali menghantuiku dan luka dikepalaku yang kualami saat kecelakaan pada saat masih duduk di MTs kembali terbuka akibat kecelakaan tunggal yang kualami sehingga mengharuskanku menjalani Rontgen dan pemulihan dalam waktu yang agak lama. Terhitung 14 hari izinku dari lokasi KKN.

Jika kalian bertanya kemana Rayanti? Rayanti namanya tetap bersih bahkan tidak sedikitpun kesalahannya terungkap. Topeng yang ia pakai seolah meneriakkan kalau ia adalah korban dan akulah tersangka. Malah Rayanti memutarbalikkan fakta bahwa aku sengaja menjatuhkan diri dari atas motor untuk membuatnya disudutkan. Tuduhan miringpun menerpaku, aku dituduh ingin menyudutkan Rayanti karena iri terhadap pencapaiannya diposko. Rayanti bahkan tak segan menunjukkan bukti palsu untuk menyudutkanku. Aku mendengar tuduhan itu hanya tersenyum miris dengan selang infus yang masih tertancap ditangan kananku. Aku berusaha menyandarkan kepalaku disandaran tempat tidur rumah sakit. Dengan kondisi masih lemah aku berdoa memohon ampun kepada Allah. suaraku yang lirih dan terdengar getir menjadi teman kesunyian dikamar VIP yang kuhuni beberapa hari ini. Hingga sebuah tangan terulur menyerahkan sebuah tasbih padaku.

“Ambil ini, kau tahukan harus berharap pada siapa?” suara itu sama lirihnya dengan suaraku. Aku melihat lekat tasbih warna hijau yang masih berada digenggaman Kordesku. Dengan tangan bergetar aku meraih benda bulat-bulat kecil yang menyatu karena seutas tali yang melingkar mengikat 99 butiran kecil itu.

Setelah berangsur pulih aku kembali ke lokasi KKN untuk melanjutkan proses KKNku yang menjadi matakuliah dengan SKS terbesar. Rayanti kembali memakai topeng dan memutarbalikkan fakta. Aku kembali terkena masalah. Aku dituduh menggelapkan uang living cost dan menghambur-hamburkan uang itu untuk keperluan pribadi. Tak urung Kordesku mengambil alih tugasku yang awalnya bendahara. Uang yang masih tersisa dan buku catatan bendahara ditahan Kordes dan aku tak diizinkan mengelola lagi uang living cost. Selain itu aku tidak diizinkan mengikuti kegiatan posko atau berpartisipasi dalam program kerja posko. Aku hanya dilibatkan secara incidental.

Aku melewati masa-masa KKN dengan ikhlas dan coba menerima keadaan dengan lapang dada. Rayanti semakin dingin dan menganggapku seolah tidak ada disekitarnya. Walaupun berkali-kali ia mencoba melancarkan aksinya untuk menjatuhkanku. Aku yakin ada fase yang digariskan Allah untuk menguji kesabaran hamba-Nya dan ada fase untuk menguji pertahanan kita sebagai manusia. Kondisi KKN berbanding terbalik dengan sikap anak-anak penduduk yang mengaji di masjid tempat ber-KKNku. Dari yang kudengar, selama aku dalam masa pemulihan anak-anak tidak berhenti berdoa demi kesembuhanku dan menanyakan keadaanku pada teman-teman posko. Mereka bahkan tak berhenti mengucapkan syukur ketika mengetahui aku akan kembali menjalani aktivitasku sebagai mahasiswa ber-KKN diposko. Aku sungguh bersyukur dibalik semua cobaan yang kualami masih ada anak-anak bak malaikat yang mencintaiku dengan tulus.

Beberapa minggu berlalu, penarikan mahasiswa dari lokasi KKN dilakukan dan kami kembali ke kampus kami yang berada di kota untuk menyelesaikan tugas kami yang berupa laporan pertanggungjawaban selama KKN. Setelah KKN berakhir, aku tidak lagi bertemu dengan sahabatku Rayanti. Aku selalu mendoakan dan berharap bisa bertemu dengannya. Tak terbersit sedikitpun dendam dalam pikiranku. Aku yakin Rayanti hanya khilaf. Dipenghujung tahun 2019, aku berhasil menyelesaikan hasil penelitianku. Aku sedih mengingat Rayanti tidak datang dalam seminar hasil penelitianku. Aku hanya merapalkan kalimat istighfar dan mencoba berhusnuzon pada Rayanti. Beberapa waktu kemudian, aku menjalani sesi ujian Komprehensif sebelum menuju tahap akhir ujian Munaqasyah. Ujian yang cukup sulit dan lumayan memforsir tenaga untuk belajar. Aku bersyukur aku bisa melewati ujian komprehensif hanya dengan sekali tes dan mendapat skor yang memuaskan.

Namun, rupanya ujian kehidupan dan fitnah kejam masih betah menghampiriku. Aku dituduh menggunakan orang dalam untuk memuluskan langkahku untuk menuju tahap akhir. Tidak hanya itu aku juga difitnah berafiliasi dengan ajaran sesat yang tentunya tidak diperbolehkan kampusku dan berakibat sanksi skorsing selama satu semester. Ujian munaqasyah yang sudah dipelupuk mata terpaksa batal seraya menunggu skorsing berakhir. Surat keterangan skorsing yang sudah berada ditanganku kupegang dengan erat sehingga hampir kusut. Tiba-tiba notifikasi whatsapp berbunyi menandakan sebuah pesan whatsapp masuk. Aku menghela nafas dan membuka pesan whatsapp dari seorang teman yang mengundangku datang ke kamar kostnya. Aku sudah tiba didepan pintu kamar kost temanku. Aku hendak meraih gagang pintu, namun gerakanku terhenti mendengar tawa Rayanti yang mengejekku. “Aku berhasil membuat Adenia diskorsing, aku sekarang puas. Bukankah sepadan dengan yang ia lakukan? Rasanya aku tidak sabar melihat kehancurannya.

Anak sok pintar itu harus didepak dari kampus kita.” Suara itu seolah meruntuhkan segala kepercayaanku pada Rayanti. Aku salah mempercayai dan berharap ia tetap menjadi sahabat yang tetap disisiku dalam suka dan duka. Aku berlari menjauhi kost itu dan memasuki kost sahabatku yang lain, Yulia. Yulia hanya memelukku dan mengelus pelan pundakku ketika mendengar ceritaku. Tangisanku semakin pecah, aku tidak peduli jika tangisanku terdengar hingga kekamar kost lain. Aku hanya ingin didengar. Hatiku semakin teriris mengingat perkataan Rayanti tadi. Jika dulu yang kutakuti adalah topeng Halloween yang menurutku sangat seram namun sekarang aku sadar topeng yang menakutkan adalah topeng pengkhianatan sahabat yang berlandaskan kemunafikan.

Aku percaya jika aku sujud rendah memohon perlindungan dan pertolongan dari topeng menakutkan itu kepada Allah pasti akan memperlihatkan hikmah-Nya agar aku bisa melepaskan diri dari kejamnya dekapan topeng kemunafikan yang dipakai sang “mantan” sahabatku. Air mataku menetes. ada kekecewaan, kesakitan, dan ketakutan bercampur jadi satu sebagaimana sayunya mataku menatap tasbih serupa yang pernah diberikan Kordes saat dirumah sakit dulu. Butir bulat berjumlah 99 buah kembali terulur kepadaku dengan tangan yang sama yang mengulurkannya dulu.

Pada kenyataannya rancangan skenario Allah mustahil ditandangi makhluk-Nya. Hanya kualitas takwa dan bertambahnya kapasitas kesyukuran yang sanggup meyakininya. Beberapa minggu kemudian, keajaiban terjadi. Ketua Program Studi menghubungiku via telpon dan memberitahukan skorsingku resmi dicabut dan aku akan melaksanakan ujian munaqasyah atau ujian skripsi. Tepat hari senin 6 April 2020 pukul 13.00 ujianku dilaksanakan dan 45 menit kemudian aku dinyatakan lulus dengan gelar sarjana Pendidikan Islam dan nilai yang memuaskan. Tak hanya itu aku menjadi sarjana Pendidikan pertama di Fakultasku. Aku bersujud syukur dan terus mengumandangkan kalimat hamdalah dan terima kasih. Semua cobaan dan fitnah berhasil kulewati. Doa yang selalu kupanjatkan disepertiga malam terkabul laksana anak panah yang mengenai sasarannya. Hanya saja batinku bertanya-tanya kemana Rayanti, orang yang dulunya sahabat baikku.

Aku mencarinya bukan untuk memberitahu bahwa hidupku tak sehancur harapannya tapi ingin merangkulnya kembali kejalan yang benar. Memang tak mudah rasanya melupakan namun aku berusaha memaafkan sahabatku itu. Hanya doa yang sanggup mengekspresikan rinduku saat ini pada Rayanti. Jika kelak aku bertemu ingin kurangkul ia dengan kalam kebenaran agar ia kembali menjadi Ahsanul Insan.