Oleh : Zai ( aktivis mahasiswi)


Umat Islam lagi-lagi harus menghela nafas panjang akibat narasi sentimen agama. Narasi itu yakni berasal dari Media asal Jerman Deutch Welle (DW) karena membuat konten video yang mengulas tentang sisi negatif anak pakai jilbab sejak kecil. Dalam vidio tersebut disebutkan bahwa pengunaan jilbab pada anak dianggap suatu pengekangan yang dapat merusak psikologi anak. DW Indonesia mewawancarai psikolog Rahajeng Ika. Ia menanyakan dampak psikologis bagi anak-anak yang sejak kecil diharuskan memakai jilbab.

“Mereka menggunakan atau memakai sesuatu tapi belum paham betul konsekuensi dari pemakaiannya itu,” kata Rahaeng Ika menjawab pertanyaan DW Indonesia. “Permasalahannya apabila di kemudian hari bergaul dengan teman-temannya, kemudian agak punya pandangan yang mungkin berbeda, boleh jadi dia mengalami kebingungan, apakah dengan dia pakaian begitu berarti dia punya batasan tertentu untuk bergaul,” tambahnya. (26/9/20 Jurnal gaya)

Tentu saja hal ini memicu kemarahan umat Islam. Memakai Jilbab atau istilah lain yang lebih tepat yakni kerudung adalah kewajiban bagi setiap muslimah. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat An-Nur :31 yang artinya :

” Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya….”. Salah satu bentuk ketaatan ini memanglah harus ditanamkan sejak dini terutama pada masa kanak-kanak. Masa ini adalah masa golden age untuk membentuk sikap dan pola pikir anak. Maka hal yang paling utama adalah menanamkan akidah. Dengan penanaman akidah yang kuat sejak kecil diharapkan kelak ketika dewasa akan menjadi pribadi yang bertakwa kepada Allah SWT. Itulah mengapa alasan dalam narasi tersebut harus ditolak. Narasi tersebut justru berpotensi menjauhkan anak dari ketaatan beragama.

Narasi sentimen agama seperti ini akan selalu ada pada kehidupan berasas sekulerisme atau pemisahan agama dari kehidupan seperti sekarang. Karena kehidupan sekulerisme menginginkan kebebasan hidup tanpa aturan agama. Hal inilah yang menjadi sebab utama narasi sentimen agama senantiasa dilontarkan. Umat Islam harus berupaya dengan keras terhadap serangan pemikiran-pemikiran liberal yang saat ini gencar diopinikan kepada umat Islam. Fakta permasalahan ini tentu tidak bisa diselesaikan sekadar melawan melalui ide politik saja namun juga perlu diselesaikan secara sistemik. Sehingga solusi yang tepat untuk mencegah adanya sentimen agama terutama kepada agama Islam yakni kembali mengatur kehidupan ini dengan berasas Islam dalam bingkai khilafah. Apabila kehidupan ini dibiarkan tanpa diatur dengan aturan Islam maka pemikiran umat Islam akan tercampur dengan pemikiran barat yang sesat dan menyebabkan perpecahan.