Oleh: Masrina Sitanggang

Memasuki masa new normal, pemulihan ekonomi Indonesia telah menunjukkan perbaikan ke arah yang positif. Hal ini terlihat dari penguatan berbagai indikator seperti penguatan indeks pasar modal dan apresiasi nilai tukar rupiah, perbaikan PMI manufaktur, kenaikan Indeks Keyakinan Konsumen, dan pertumbuhan penjualan ritel. Begitu dikatakan Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto saat memberikan sambutan pada acara Konferensi Pertama Mekanisme Konsultasi Belt and Road Antar Partai Politik China-Indonesia yang digelar secara virtual di Jakarta, Senin (28/9).
Ditengah pandemi yang tak kunjung berakhir, pemerintah mampu mengambil gerakan seribu langkah dalam membangun ekonomi yang sebelumnya sempat anjlok akibat pemberlakuan PSBB. Namun sayang, dalam hal pendidikan pemerintah seakan tidak punya solusi pasti. Masyarakat, siswa, guru dan wali murid selalu bertanya-tanya perihal “kapan belajar daring akan berakhir?” setelah berjalan selama satu semester, pembelajaran secara daring dirasa kurang efektif dalam membangun mental anak. Pemerintah tidak mampu memajukan ekonomi sekaligus pendidikan dalam waktu yang bersamaan. Hingga saat ini masih banyak anak dipelosok negeri yang kesulitan dalam mendapatkan pembelajaran secara layak dan efektif.
Dampak pandemi merambat dan memberikan pengaruh ke berbagai bidang kehidupan. Mulai dari ekonomi, politik, pendidikan dan yang lainnya. Jika ditelusuri sikap dari pemerintah, seakan pandemi ini hanya berdampak pada pendidikan semata. Buktinya, hingga saat ini sistem daring masih dilaksanakan disebagian besar wilayah indonesia. Sedangkan pusat perbelanjaan modern dan tempat pariwisata masih tetap terbuka lebar. Menampung semua masyarakat baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
Begitupun jika dilihat dari sikap pemerintah dalam segi politik, seakan wabah ini tidak ada bahayanya sama sekali. Ditengah maraknya wabah covid-19, jumlah korban semakin meningkat hingga mencapai puluhan ribu. Namun, pemerintah masih saja berencana melakukan pesta demokrasi. Pemerintah menyerukan protocol kesehatan untuk jaga jarak, namun di sisi lain pemerintah secara resmi memberikan kesempatan untuk masyarakat melakukan perkumpulan jika acara pesta demokarasi tetap dilaksanakan ditengah pandemi. Sayang sekali, negara tidak kunjung sadar diri telah di lockdown oleh 59 negara luar, akibat kelalaian dan kelambatan dalam mencegah dan menangani wabah covid-19.

Begitulah wajah asli sistem buatan manusia. Sistem kapitalis-sekuler yang berdiri diatas pijakan asas manfaat semata. Wajar saja jika dimana-mana sistem ini selalu menemui kegagalan dalam menangani setiap persoalan. Karena yang membuatnya juga adalah manusia yang lemah, terbatas, serba kurang. Selain itu, Sistem kapitalis sekuler juga selalu mengalami perubahan sesuai dengan kepentingan para pemimpin dan pemilik modal.
Berbeda dengan sistem islam yang diturunkan langsung oleh sang Pencipta alam semesta. Yang sudah tau pasti tentang fitrah dan kebutuhan setiap makhluk cipataanNya termasuk manusia. Yang apabila aturan ini yang dilaksanakan, maka sudah bisa dipastikan bahwa manusia akan berada dalam keberkahan dan kesejahteraan. Sebagaimana yang telah Allah jelaskan dalam surah al-a’raf ayat 96 yang berbunyi : “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” Begitupun sebaliknya, ketika aturan Allah dicampakkan dan diabaikan oleh manusia, maka kita bisa lihat sekarang ini, betapa masyarakat jauh sekali dari kata tentram. Aturan Allah hanya bisa diterapkan sempurna oleh seorang pemimpin dalam sistem islam.
Seorang pemimpin dalam negara islam bukanlah pembuat hukum dan aturan. Namun ia hanyalah sarana untuk menjalankan dan melaksanakan segala aturan yang telah Allah turunkan secara totalitas. Termasuk aturan dalam hal pendidikan, kesehatan, politik dalam negeri dan luar negeri, ekonomi, dan yang lainnya. termasuk penanganan pandemi, ia akan merujuk kepada hal yang pernah Rasul contohkan untuk mengakhiri wabah. Pemimpin tidak akan pernah menggadaikan nyawa rakyatnya. Karena ia sadar kedudukannya sebagai periayah dan perisai bagi ummat, dan nyawa seorang muslim lebih berharga dibandingkan dunia dan seisinya. Hanya islam yang mampu mengatasi dan memberikan solusi atas setiap problematika ummat dalam segala aspek kehidupan secara bersamaan, tanpa menggadaikan aspek yang lain.
Setiap aturan yang diberlakukan oleh pemimpin dirujuk dari islam, karena islam bukan hanya agama semata, namun islam juga memiliki seperangkat aturan komplit dalam menjalankan kehidupan, dan merupakan rahmat bagi seluruh alam. Negara islam menjamin kesejahteraan seluruh rakyat yang ada di bawah naungannya. Tanpa memperhatikan ras, agama, warna kulit, suku dan yang lainnya. Karena semua warga negara memiliki hak yang sama untuk hidup sejahtera dibawah naungan islam.