Oleh : Dian Puspita Sari
Aktivis Muslimah Ngawi

Akhir-akhir ini marak terjadi insiden kecelakaan berujung maut. Salah satunya kecelakaan yang diakibatkan jebakan tikus. Polres Ngawi mencatat terdapat 24 kasus kematian akibat tersengat aliran listrik dari jebakan tikus yang dipasang di area persawahan untuk membasmi hama tikus.

Kepala Satuan Reskrim Polres Ngawi, AKP I Gusti Agung Ananta Pratama, mengatakan, kasus kematian yang banyak tersebut tercatat selama kurun waktu tahun 2019 hingga September tahun 2020. Karena itu, jebakan tikus beraliran listrik dilarang di Ngawi. “Sekali lagi kami tegaskan, pemasangan jebakan tikus dengan aliran listrik dilarang karena membahayakan nyawa,” ujar dia, di Ngawi, Rabu. (antaranews.com, 30/9/2020)

Petaka jebakan tikus di area persawahan ini sudah puluhan kali terjadi hingga menelan korban jiwa. Namun pemasangnya belum jera. Karena tidak ada sanksi tegas jika hal ini memang dilarang. Sejauh yang penulis lihat, tanggapan kebanyakan masyarakat di Ngawi tentang insiden bertubi-tubi ini biasa-biasa saja. Mereka menganggap bahwa insiden semacam ini merupakan kecelakaan yang biasa terjadi.
Padahal jika hal ini terus dibiarkan, seperti yang dikatakan Kasatreskrim Polres Ngawi, sangat membahayakan nyawa orang lain. Setiap tahun korban juga akan terus bertambah. Lantas, siapa yang bertanggung jawab atas semua insiden jebakan tikus berulangkali yang berujung maut ini ?
Ini sama halnya jalan umum berlubang yang memakan banyak korban kecelakaan saat hujan deras hingga jalan berlubang itu tak diketahui oleh pengguna jalan. Atau permainan layang-layang misalnya, juga berbahaya saat tali layangannya bisa menjerat pengendara motor di jalan raya.

Begitu juga dengan jebakan tikus di sawah. Jika insiden sudah terjadi sekali, dua kali apalagi berulang kali, pihak-pihak terkait seharusnya menanggapinya serius. Dengan menyelidiki dan mengusut akar persoalan jebakan tikus ini. Sebagai langkah antisipasi agar tidak terulang kembali di lain waktu.
Jika jebakan tikus itu dilarang, maka harus ada sanksi tegas terhadap pemasangnya dari aparat negara sehingga menjadikan pelakunya jera.
Warga juga harus diberikan edukasi yang intensif tentang bahaya memasang jebakan tikus terhadap nyawa orang lain.

Haram Membahayakan Nyawa Orang

Dalam Islam sendiri, melalui sabda Rasulullah Saw., Allah telah melarang kita untuk membahayakan nyawa orang lain.

عَنْ أَبِـيْ سَعِيْدٍ سَعْدِ بْنِ مَالِكِ بْنِ سِنَانٍ الْـخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّـى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَار

“Dari Abû Sa’îd Sa’d bin Mâlik bin Sinân al-Khudri Radhyallahu anhu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ibnu Mâjah, ad-Dâraquthni) [2]

Tanggung Jawab Pemimpin

Mungkin di zaman sekarang, banyak orang mengabaikan hal sepele. Hingga mereka keberatan jika semua persoalan yang mereka anggap sepele sering dihubungkan dengan tanggung jawab pemimpin.
Padahal persoalan sepele bisa jadi besar bagi Allah.
Allah akan menghisab setiap perbuatan manusia sekecil apapun.

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ . وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”
(QS. al-Zalzalah [99] : 7-8)

Persoalan yang dianggap sepele bagi orang, seperti jebakan tikus, layang-layang atau jalan berlubang tapi bisa berakibat fatal bagi nyawa manusia adalah hal-hal kecil yang yang takkan lolos dari hisaban Allah di yaumil akhir.

Ketika menjabat sebagai khalifah, Umar bin Khattab RA suatu kali pernah bertutur, “Seandainya seekor keledai terperosok ke sungai di kota Baghdad, nicaya Umar akan dimintai pertanggungjawabannya dan ditanya, ‘Mengapa engkau tidak meratakan jalan untuknya?’.”

Demikian berat cakupan definisi tanggung jawab seorang pemimpin bagi Khalifah Umar bin Khaththab. Ia berada di kota Madinah dengan segala keterbatasan komunikasi dan transportasi saat itu. Tapi masih sempat memikirkan tanggung jawabnya akan apa yang terjadi ribuan mil di Kota Baghdad.

Jika definisi pemimpin yang dipahami orang-orang saat ini sama apa yang dipahami Umar bin Khaththab, tentu tidak ada orang yang berambisi untuk menjadi pemimpin. Saat ini, orang berlomba-lomba mengajukan diri menjadi wakil rakyat baik di eksekutif maupun legislatif. Pahamkah mereka dengan definisi kepemimpinan seperti yang dituturkan Umar bin Khaththab?

Itulah beratnya menjadi seorang pemimpin. Di akhirat dia akan ditanya berbagai masalah kepemimpinannya hingga sekecil apapun.

Dalam berbagai riwayat disebutkan, Rasulullah Saw. juga tidak menyukai orang yang menyatakan dirinya ingin menjadi pemimpin. Abu Musa RA pernah meriwayatkan tentang dua orang yang datang kepada Rasulullah dan berkata, “Angkatlah aku ini sebagai amir, wahai Rasulullah!”

Menanggapi permintaan orang tersebut, Rasulullah Saw. pun bersabda, “Aku tidak akan menyerahkan ini kepada orang yang meminta dan tidak juga kepada yang sangat menginginkannya.” (HR Bukhari Muslim). Rasulullah Saw. justru menyerahkan jabatan tersebut kepada Abu Musa yang tak pernah meminta jabatan. [3]

Gambaran keengganan mayoritas muslim untuk memegang amanah kepemimpinan ini mustahil terwujud dalam sistem demokrasi sekuler. Yang tampak saat ini adalah manusia berbondong-bondong mengucapkan syukur “alhamdulillah” dan bersujud saat mereka terpilih jadi pemenang di pilkada atau pilpres.
Sebaliknya, keengganan mayoritas muslim untuk menjadi pemimpin hanya tampak di dalam sistem kehidupan yang di atur oleh Islam dalam naungan khilafah ar Rasyidah. Figur muslim yang layak terpilih menjadi pemimpin pun akan banyak beristighfar, bersikap tawadhu dan zuhud selama hidupnya.
Benar. Penerapan syariat Islam secara kafah dalam naungan khilafah akan :
• Menumbuhkan rasa takut karena Allah dalam jiwa kaum muslimin.
• Melahirkan sosok pemimpin yang takut karena Allah. Sebagaimana takutnya Khalifah Umar bin Khaththab akan azab Allah.

Wallahu a’lam bishawwab.

Catatan Kaki:

  1. https://www.antaranews.com/berita/1757213/polres-ngawi-catat-24-kasus-kematian-akibat-jebakan-tikus
  2. https://almanhaj.or.id/12328-tidak-boleh-membahayakan-orang-lain-2.html
  3. https://republika.co.id/berita/nenhso48/beratnya-beban-kepemimpinan