Oleh: Dewi Meiliyan Ningrum

Beberapa waktu lalu, konten Deutsche Welle (DW) Indonesia mendapat banyak respon negatif utamanya dari umat muslim. Pihak DW mengunggah video hasil wawancara dengan beberapa orang kemudian mengulas sisi negatif menyuruh anak berjilbab sejak kecil.

Narasumber dalam konten video DW Indonesia di antaranya adalah Rahajeng Ika selaku psikolog, Darol Mahmada sebagai feminis muslim, juga salah seorang wanita yang mewajibkan putrinya mengenakan kerudung sejak kecil. Dalam unggahan tersebut DW Indonesia menggiring opini dengan menuliskan kalimat “Apakah anak-anak yang dipakaikan #jilbab itu memiliki pilihan atas apa yang ingin ia kenakan?“

Mengapa konten yang dibuat seolah-olah menyudutkan umat muslim? Bukankah masih banyak hal lebih mendesak untuk dibahas? Terlebih, pendapat narasumber dinilai menguatkan tujuan dari pembuatan konten tersebut. Hal tersebut sangat disayangkan karena yang dibahas adalah syariat Islam. Seharusnya yang dijadikan narasumber adalah ulama atau yang dinilai berkompeten.

Dalam Islam, hukum menutup aurat baik bagi laki-laki maupun perempuan yang sudah balig dan sehat akalnya adalah wajib. Tidak ada yang perlu diperdebatkan. Sebagai pendidikan terhadap anak-anak, tentunya kewajiaban ini perlu dikenalkan sedini mungkin.

Langkah selanjutnya yang ditempuh oleh orang tua adalah membiasakan putra dan putri mereka untuk menutup aurat sehingga rasa malu akan muncul ketika pakaian mereka tersingkap. Pendapat yang menilai bahwa pendidikan semacam ini akan berdampak negatif hanya didasarkan pada pemikiran dan perasaan manusia yang terbatas.

Nyatanya sudah banyak keluarga muslim yang menerapkan pendidikan semacam ini juga anaknya setelah dewasa tidak merasa keberatan sama sekali. Hal itu terjadi karena memang hanya Islam yang mampu memberikan pengaturan detail demi mempertahankan kehormatan dan meminimalisir tindakan pelecehan yang tidak kita inginkan.