Oleh: Maman El Hakiem

Ibu-ibu di Perumahan Sugih Makmur kalau pagi hari biasa rebutan sayuran di penjual sayur keliling. Bagi mereka pedagang keliling sangat membantunya untuk tidak ke pasar, apalagi masih pandemi membatasi diri untuk tidak keluar rumah.


“Tumben Bu Nunik belanjanya sedikit, cuma wortel dan bayam?” Tanya tukang sayur keliling.
“Lagi program diet kayaknya Mang.” Celetuk Nindi, tetangga sebelahnya yang biasa rumpi kalau lagi bersama milih sayuran.
“Iya diet anggaran, lagi sulit begini, harus pandai berhemat, pilih-pilih buat masak sendiri. Biar aman dan terjamin, meskipun repot juga.” Kata Nunik yang sebenarnya jarang masak, maklum pegawai kantoran tidak sempat ke dapur, suka beli yang sudah matang.


“Bu Reti tahu gak, kenapa virus corona ini gak habis-habis?” Tanya Nindi mulai kambuh penyakit ngerumpinya. Di sebelahnya ada Reti yang mulai terpancing obrolan Nindi.
“Menurutku virus itu malah bertambah manja karena dari awal dianggap tidak ada.” Jawab Reti
“Coba kalau dari awal langsung tutup pintu masuk orang asing, cepat selesainya.” Pikir Nindi.


“Lah…kalau pintu ditutup, nanti tamu gak jadi mampir…hehe. Negara kita kan sangat ramah, apalagi terhadap orang asing yang datang, karena mereka membawa dollar buat bayar utang.” Kata Bu Nunik yang memang selalu melek politik.


“Mang, daging kambing yang kemarin di pesan, ada?” Tanya seseorang yang baru datang, Hani masih anggota klub rumpi komplek perumahan tersebut.
“Adanya daging ayam Bu,kambing lagi mahal, apalagi kambing hitam..haha.” Canda tukang sayur. “Eh daging kambing kan kurang baik, cepat darah tinggi naik?” Tanya Nindi seolah mencela.
“Sebenarnya bukan dagingnya, tapi orangnya yang punya masalah, malah nyalahin kambing haha.” Jawab Hani sambil tertawa lepas.


“Benar tuh Bu,…kambing itu bermasalah bagi orang yang bermasalah, makanya suka dicari kesalahannya.” Jawab Nunik. “Nunik ini pinter juga, memang gimana ceritanya?” Tanya Nindi semakin penasaran.


“Ada orang tua yang awalnya tampak kalem, karena tidak bisa menyelesaikan masalah urusan rumah tangganya, lalu marah-marah semua disalahkan. Anak dan istrinya jadi bingung karena tidak merasa bersalah. Akhirnya dicari-cari kesalahan pada yang lain, dilihatlah ada kambing hitam lewat depan rumahnya. Ahaa…itu dia kambing hitam yang salah…penyebab darah tingginya naik..hehe.” Cerita Nunik panjang lebar.
“Sttt…Sudahlah ibu-ibu jangan ngomongin politik, bisa jadi kambing hitam lho!” Kata Hani.***