Oleh: Marvha Mirandha (Aktivis Mahasiswi)

Di era teknologi canggih dengan kebebasan berpendapat membuat masyarakat bisa menyampaikan aspirasinya. Baru baru inipun masyarakat kembali menyampaikan aspirasinya terkait salah satu vidio unggahan media asal Jerman.

Media asal Jerman Deutch Welle (DW) dihujat sejumlah tokoh dan netizen karena membuat konten video yang mengulas tentang sisi negatif anak pakai jilbab sejak kecil. Postingan DW Indonesia menarik perhatian netizen. Mereka menghujat DW Indonesia karena dianggap membuat konten islamofobia.
“Liputan ini menunjukkan sentimen “islamofobia” n agak memalukan utk kelas @dwnews,” kata anggota DPR yang juga Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon melalui akun Twitternya, @fadlizon.(jurnalgaya.pikiran-rakyat.com)

Dalam postingannya DW Indonesia, mencoba mempertanyakan apakah pemakaian jilbab tersebut, atas pilihan anak itu sendiri ? “Apakah anak-anak yang dipakaikan #jilbab itu memiliki pilihan atas apa yang ingin ia kenakan?.(gelora.co)

Postingan ini memang dapat memberikan berbagai efek, terlebih seolah olah ketika ada orang tua yang mengajari dan membiasakan anaknya sedari kecil mengenakan jilbab seolah mengekang anak dan justru berkemungkinan memumbuhkan psikologi yang tidak baik pada anak. Namun benarkah demikian?. Bagaimana mungkin syariat yang Allah turunkan berupa kewajiban mengenakan jilbab justru menjadi suatu yang harus dikhawatirkan. Sedang kita mengetahui bahwa segala syariat Allah dimuka bumi merupakan syariat terbaik yang jika dilaksanakan akan mendatangkan banyak berkah.

Pemikiran sekulerisme yang seolah mendarah daging, membuat agama harus dipisahkan dari kehidupan bahkan sejak anak masih usia dini. Padahal sebagai orang tua yang paham akan tanggung jawabnya sebagai seorang muslim, maka sudah kewajiban bagi setiap orang tua mengenalkan setiap syariat Allah, membuat anak memahami, terbiasa dan kemudian melakukan syariat Allah ini dengan penuh kecintaan demi keridhoan Allah semata. Maka mengajari anak sedari dini mengenakan jilbab bukanlah hal yang harus dikhawatirkan namun justru hal yang harus diapresiasi.

Orang tua bertanggung jawab akan pendidikan anak dan ingin menjadikan anak seperti apa. Maka ketika anak belum mencapai usia balligh orang tua harus mulai mempersiapkan anak agar ketika mereka mencapai masa balligh mereka akan mampu sepenuhnya menjalankan apa yang Allah perintahkan. Dalam sebuah hadits dijelaskan:
“Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Seperti hewan melahirkan anaknya yang sempurna, apakah kalian melihat darinya buntung (pada telinga)?”

Sedari sini kita menyadari ada tanggung jawab yang besar bagi setiap orang tua untuk membiasakan anak taat sedari dini. Selain itu negara pun ikut bertanggung jawab dalam menjaga aqidah setiap rakyatnya, maka pemikiran pemikiran yang membahayakan dan justru menjadikan rakyat menjadi islamo phobia harus dicegah bahkan dihentikan. Hal ini karna juga berkaitan dengan bentuk riayyah (kepengurusan) negara terhadap rakyat.

Kita melihat banyak contoh generasi yang dididik dengan sistem islam justru mampu mencapai banyak hal hebat dalam dunia namun tetap taat kepada Allah. Sesungguhnya generasi generasi yang cinta syariat sudah harus dipersiapkan sedari dini, termasuk dalam mencintai syariat Allah berupa “Jilbab”. Wallahu’alam bis showwab.