Oleh: Yuyun Rumiwati

Jika jalan dakwah ini mudah.
Tentu akan banyak orang yang mengaku sebagai nabi pembawa risalah dari Allah. Andai mengemban dakwah itu ringan. Tentu sejak awal diutusnya rasulullah banyak kaum Quraisy yang datang mengantri mengambil peran.

Andai mengemban dakwah jalan bertabur bunga. Tentu tak ditemukan berbagai hinaan, cacian, fitnahan hingga usaha pembunuhan yang dialami para nabi utusan Allah.

Di tengah berbagai tantangan. Ditaburi berbagai ujian. Namun janji dan kabar gembira sang maha kuasa senantiasa mengiringi. Iya mengiringi dari untaian surat cintanya yang tak kan terpalsukan oleh apapun dan siapapun.

Jika lelah, penat dirasa dalam jalan dakwah engkau rasa. Percayalah bahwa para penentang kebenaran justru lebih lelah. Kenapa? Karena pengemban dakwah bersandar pada sang maha kuat. Sedangkan penentang dakwah hanya bersandar pada kekuasaan semu yang rapuh.
Serapuh sarang laba-laba.

Di saat para penentang kebenaran hendak membungkam lisan dan tulisanmu. Ingatlah saat itulah mereka sibuk bertahan dan membendung. Sedangkan amunisimu untuk terus melaju menyiarkan agama-Nya kian melaju.

Karenanya jangan pernah berhenti hanya dengan satu, dua, dan puluhan hadangan. Karena bukan mustahil ratusan dan ribuan peluang Allah siapkan.

Jika ada terbersit dalam dadamu untuk berhenti. Yakinkan diri. Dakwah adalah kewajiban. Dan Allah tak pernah mewajibkan suatu syariat pada hamba-Nya di luar kemampuan. Karenanya sambutlah kewajiban dengan hati lapang.

Dialah sang pelapang dada hamba yang beriman. Dialah yang memudahkan segala urusan. Tak ada satu kesulitan ketika Allah bukakan pintu-pintu kemudahan. Tak ada suatu mustahil. Ketika Allah janjikan pertolongan dan kemenangan.
Maka cukuplah janji Allah sebagai amunisi daya juangmu. Cukuplah kabar gembira Rasulullah sebagai pelipur atas segala ujian. Bukankan Inna ma’al usry Yusro. Fa inna ma’al usry Yusro.