Oleh : Ida Yani

Bisnis.com, JAKARTA — Saat ini tenaga kerja perempuan masih dibayar lebih rendah dibandingkan laki-laki, dengan perkiraan kesenjangan upah sebesar 16 persen.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh International Labour Organization (ILO) dan UN Women, perempuan memperoleh 77 sen dari setiap satu dolar yang diperoleh laki-laki untuk pekerjaan yang bernilai sama.

Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Ida Fauziyah, menegaskan bahwa Indonesia telah meratifikasi Konvensi ILO No. 100 tentang Kesetaraan Upah pada 1958, lebih dari 60 tahun lalu. Pentingnya kesetaraan upah bagi pekerja laki-laki dan perempuan untuk pekerjaan bernilai sama tidak mengalami perubahan.

Untuk pertama kalinya Dunia termasuk Indonesia memperingati Hari Kesetaraan Upah Internasional pada 18 September 2020.Meski sudah 60 tahun ada wacana kesetaraan upah oleh Badan Dunia.

Memang sejak jaman jahiliah perempuan tidak diterima dalam masyarakat , bahkan dikubur hidup- hidup saat masih bayi. Padahal tanpa perempuan apakah perputaran Dunia akan bisa langgeng?
Sejak Budaya Islam pada masa Rasul Saw tak ada lagi bayi perempuan yang dikubur.
Seiring bergulirnya waktu peradaban demi peradaban hingga saat ini,
para pegiat gender mulai memperjuangkan kesetaraan dengan laki- laki.
Namun masih saja perempuan sosok yang tidak dipandang mulia , dengan seribu satu jasanya.

Apalagi di era kapitalis seperti sekarang , perempuan dieksploitasi dari segala segi.
Suasana pemikiran tanpa nuansa Islam makin mengintimidasi si perempuan.Ketika asap dapur tak mampu mengepul, tanggung jawab segera dipikul. Bergelut demi sesuap nasi bagi seluruh keluarga dengan penuh kerelaan.
Ada lagi yang merasa tidak keren jika tidak menjadi wanita karier.Maka seluruh waktunya dihabiskan di luar rumah. Dengan bekerja dan kegiatan sosial.Tanpa pertimbangan pekerjaan di dalam rumah lebih mulia.

Dengan kecantikan, keluwesan, ketelitian, keuletan, kegigihan perempuan, semua bisa menghasilkan uang. Tapi juga bisa menghamburkan uang.
Budaya hedonis yang dihembuskan membuat perempuan jadi konsumtif.
Dari hal paling kecil hingga besar.
Ujung rambut hingga ujung kaki.
Keinginan yang tidak dibentengi dengan aturan Allah ini begitu menguntungkan si pemilik modal untuk memasarkan produk serta pemahaman yang makin meracuni.
Bisakah teman- teman merasakan hal ini?

Mengapa demikian?
Sistem kapitalis sekuleris menghalalkan perempuan melakukan apa saja, yang penting menghasilkan uang.
Tanpa memperhatikan fitrah sesungguhnya, untuk apa Allah Swt menciptakan perempuan.

Hanya Islam yang bisa membela perempuan secara hakiki. Perempuan tidak butuh UU penyetaraan upah dan kesetaraan gender.
Dalam system Islam perempuan punya tempat yang mulia, sebagai Ibu.
Yang mengatur rumah tangga, melahirkan serta mendidik sosok calon mujahid, mujahidah cemerlang yang menjadi harapan negara di masa depan. Inilah jasa Ibu yang tidak bisa digantikan siapapun.
Islam mewajibkan laki- laki menafkahi perempuan.
Surat Al baqoroh ayat 23 menyatakan : ” kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf.”
Ini adalah UU dari Allah Swt, dengan jelas memberi perintah kepada kaum laki- laki.

Jadi perempuan hanya butuh khilafah yang menerapkan aturan Islam, mewarnai kehidupan dengan pemikiran dan budaya Islam, maka semua tuntas. Bukan aturan lain yang harus digodog dan digoreng dari masa ke masa tanpa henti. Insyaallah.