Ditulis : Nunik Bunda Fayha

    

Dalam salah satu hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda : Tidak ada pemberian orangtua yang paling berharga di dunia daripada pendidikan akhlak mulia.

Deutscwelle Indonesia, pada 25 September lalu membahas masalah jilbab dan anak-anak. Mereka mempertanyakan apakah anak-anak yang dipakaikan jilbab itu tidak punya pilihan atas apa yang ingin ia kenakan? Menurut mereka, anak-anak seharusnya dibiarkan dulu memakai apa pun atau menjadi siapa pun. Woooilaaa. Ternyata ada nama tokoh beken JIL di baliknya. Meski disebut alumni kampus Islam yang mengambil jurusan Hadist bahkan konon skripsi cum-laude-nya membahas jilbab, bagaimana bisa dia mempertanyakan pemakaian jilbab. Apakah yang dibahas dalam skripsinya dulu sama dengan apa yang dihayatinya saat ini. Wallahu’alam. Yang jelas sudah lama kerudung dia tinggalkan. Apalah lagi jilbab, sudah jauh dari kamus hidupnya.

Rasulullah SAW dalam sebuah riwayat pernah berkata, ”Sesungguhnya, setiap anak yang dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan suci (fithrah, Islam). Dan, karena kedua orang tuanyalah, anak itu akan menjadi seorang yang beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”


Penjelasan ini menegaskan bahwa sesungguhnya setiap anak yang dilahirkan, laksana sebuah kertas putih yang polos dan bersih. Ia tidak mempunyai dosa dan kesalahan serta keburukan yang membuat kertas itu menjadi hitam. Namun, karena cara mendidik orang tuanyalah, karakter anak bisa berwarna-warni : berperangai buruk, tidak taat kepada kedua orang tuanya, dan tidak mau berbakti kepada Allah SWT (republika.co.id).
Berkaitan dengan jilbab, kita hendaknya merujuk Surah Al-Ahzab : 59:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Ketika Allah menetapkan suatu urusan, sebagai orang beriman, kewajiban kita menjalankan dengan sekuat kemampuan, menjauhi dengan segenap upaya. Bukan hak kita untuk mengkritisi hanya dengan kemampuan sempit akal kita.

     

Apa yang dipertanyakan DW Indonesia, sesungguhnya adalah bentuk penjajahan pemikiran mereka atas pilihan umat Islam. Sebagai muslim, wajib bagi kita menjalankan aturan Allah. Dan kita juga disuruh mendidik keluarga kita untuk senantiasa dalam ketaatan.

    

Muhammad Abduh Tuasikal, MSc dalam tulisan beliau menyatakan bahwa saat ini muslim tidak lagi punya kekhasan sendiri. Yang ada dari gaya dan penampilan bahkan akhlak dan tingkah lakunya hanya ingin mengikuti gaya barat atau gaya orang kafir. Coba kita lihat dari model rambut, cara berpakaian dan penampilan muda-mudi saat ini, sudah sama dengan gaya Ronaldo, Roberto dan Jenifer. Begitu pula termasuk perayaan seperti Ultah dan New Year yang pemuda muslim rayakan semuanya diimpor dari ajaran non-muslim, bukan ajaran Islam sama sekali. Benarlah disebutkan dalam hadits, umat Islam selangkah demi selangkah akan mengikuti jejak non muslim.

Mengajarkan ketaatan yang terbaik pada anak ialah dengan pembiasaan. Misalnya shalat, diajarkan pada anak usia 7 tahun untuk membiasakan mereka mengerjakan shalat. Diharapkan ketika sudah berusia 9 tahun mereka sudah memiliki kebiasaan yang sesuai syariat. Begitu pun jilbab dan kerudung bagi anak perempuan. Semua itu adalah pembelajaran ketaatan anak pada perintah Rabbnya. Diharapkan dengan pembiasaan dari kecil akan membuat anak sudah memiliki kebiasaan dan pemahaman atas kewajibannya pada saat dia memasuki usia mukallaf. Usia di saat dia sudah diberi kewajiban hukum.

Ustadzah Yanti Tanjung menggarisbawahi urgensitas orangtua dalam memberikan masukan ilmu dan latihan ketaatan pada Allah dan RasulNya. Pembiasaan inilah yang menjaga anak dari gegar budaya, gegar pergaulan. Dengan pengajaran dan pendidikan ‘step by step’ yang diberikan sesuai usia, akal, naluri dan perkembangan fisik, maka tidak ada anak yang memasuki fase baligh dengan kebingungan dan ketakutan karena bagi merewka sudah dilakukan pendidikan berjenjang menuju kepribadian Islam. Kurikulum sekulerlah yang tidak memiliki materi untuk mengantarkan anak-anak menuju jenjang mukallaf yang siap menerima beban syariat.

Sesungguhnya umat Islam saat ini sudah mengalami penyesatan luar biasa dan dipisahkan dari agamanya sejak lama. Mereka digiring untuk sekedar ber-Islam dengan kekurangan Iman. Mereka dijejali pemikiran, bahwa menjalankan aturan Allah cukup sesuai kebiasaan, sesuai keumuman. Cukup yang berkaitan dengan hubungan antara dirinya dan Tuhannya.

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669).

Umat disapih dari kebenaran agamanya, tidak saja oleh para kafirin pembenci Islam tapi oleh para munafikun yang sudah terjajah akalnya. Bagaimana mereka dengan riang gembira menjadi bebek, berjalan ke manapun ujung tongkat tuannya diarahkan. Bagaimana tidak bersukacita bila di depan matanya surga dunia dihamparkan. Bahkan sampai cacing dalam lambung mereka kepanasan.





    

Para munafikun berpesta di atas surganya sembari meneriaki saudaranya yang bersusah payah dalam ketaatan. Mereka, bahkan yang mengaku berilmu, bersukaria dalam kolam ke’dungu’an sembari terus mengorek apa pun yang bisa dipakai mencela ‘saudara’nya demi mendapat kucuran dunia yang fana dan semu.

Umat harus semakin teliti dan waspada dengan tipe orang berilmu tapi niatnya menyesatkan. Pemahaman mereka dijungkirbalikkan dengan kemampuan akalnya. Padahal mereka hanya Diberi secuil ilmu dari luasnya ilmu Allah. Mereka berlaku bagai syaithan yang semakin merajalela menyadari semakin dekatnya akhir dunia. Mereka bagai tak rela saudaranya selamat dari siksaNya. Sebagaimana termaktub dalam QS. Al Hasyr (59) : 16 yang artinya “(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) shaitan ketika dia berkata kepada manusia: “Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kafir, maka ia berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta Alam”.