Oleh: Dewi Tisnawati, S. Sos. I (Pemerhati Soaial)

Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi “PR”. Sepanjang Januari hingga September 2020, tercatat 18 kasus. Namun dibandingkan dua tahun terakhir, tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak mengalami penurunan. Tahun 2019, tercatat 28 kasus dan 2018 terdapat 49 kasus.

Kabid Layanan Perlindungan Perempuan dan Anak Korban kekerasan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Kendari, Fitriani Sinapoy mengungkapkan akan terus berusaha semaksimal mungkin meminimalisir terjadinya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Jika bisa, tidak terjadi lagi kasusnya di Kota Kendari. “Dari 18 kasus yang ditangani terdiri dari 11 kasus kekerasan terhadap anak dan 7 kasus kekerasan terhadap perempuan. Keadaan ini sangat miris,” ujar Fitriani Sinapoy kemarin. (20/09/2020)

Mungkinkan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak bisa diminimalisir bahkan tidak akan ada lagi, jika masih diterapkannya sistem kapitalis sekuler dan liberal? Kapitalis sekuler menjadikan wanita sebagai komoditas dagang dan mendorong mereka untuk setara dengan laki-laki. Mereka diberi kebebasan dalam segala hal tanpa aturan yang dapat menjaga dan melindingi kehormatan mereka. Jika demikian maka kekerasan terhadap perempuan dan anak akan terus ada bahkan akan terus menjadi subur.

Perlu diketahui bahwa polemik tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak akan selalu ada ketika sistem berbasis kebebasan dalam kapitalis masih diterapkan. Wanita akan selalu menjadi korban ketika tidak adanya penjagaan. Tidak ada harapan lagi untuk keamanan bagi perempuan dan anak dalam sistem hari ini. Maka, perlu ada sistem yang baik, yang mempunyai sejumlah aturan untuk melindungi mereka dari segala bentuk kekerasan.

Adapun sistem yang baik itu adalah Islam. Islam mengatur sedemikian rupa kehidupan perempuan. Kehormatan dan perlindungan terhadap perempuan dan anak akan didapatkan di dalamnya.

Islam memprioritaskan pemeliharaan terhadap perempuan sejak kelahirannya, sehingga hal itu membawa pengasuhan yang baik dan memelihara pintu bagi orang tuanya untuk memasuki Jannah. Seperti yang diriwayatkan oleh Abdullah ibn Abbas, semoga Allah merahmati mereka berdua, berkata: Rasululah SAW bersabda:

“Siapa pun yang memiliki seorang anak perempuan yang lahir untuknya dan dia tidak menguburkannya atau menghinanya, dan tidak memanjakan anak laki-lakinya melebihi anak perempuannya, Allah akan mengizinkan dia untuk memasuki Jannah karena anak perempuannya. “(HR. Ahmad, dikoreksi oleh Al-Hakim).

Jika anak perempuan itu tumbuh dewasa, dia harus dijaga dan dirawat oleh pengasuhan penjaganya; ayah bersikap protektif, dan dia melindunginya dari bahaya. Jika dia menikah, dia dihargai dan dihormati dan suaminya harus memperlakukannya dengan baik, bersikap baik padanya, dan bersikap lembut padanya. Allah SWT berfirman yang artinya:

“Dan hiduplah bersama mereka dalam kebaikan.” [An-Nisa: 19]
Dan Rasulullah Saw menasehati semua kebaikan bagi mereka ketika Rasulullah Saw mengatakan: “Bertindak baiklah terhadap perempuan” (HR. Ibn Majah).

Nabi Saw juga menyerukan para suami untuk bersikap ofensif terhadap istri mereka, dan mengabaikan kekurangannya, dan untuk menghargai kebajikannya sehingga hidup menjadi lebih baik: “Seorang mukmin tidak boleh membenci perempuan mukminah (istrinya), jika ia tidak menyukai darinya salah satu perilakunya, maka dia menyukai darinya perilakunya yang lain” (HR. Muslim).

Kemuliaan wanita ada ketika syariat diterapkan dalam seluruh sendi kehidupan. Mulai dari menutup aurat hingga aturan pergaulan dalam masyarakat. Islam pun menjaga kaum wanita dari segala hal yang dapat menodai kehormatannya, menjatuhkan wibawa dan merendahkan martabatnya.

Wanita bagai mutiara yang mahal harganya, Islam menempatkannya sebagai makhluk yang mulia yang harus dijaga. Atas dasar inilah sejumlah aturan ditetapkan oleh Allah SWT., dan berikutnya agar kaum wanita dapat menjalankan peran strategisnya sebagai pendidik dari anak-anaknya dan umat pada generasi yang mendatang.

Adapun aturan yang khusus bagi wanita adalah aturan dalam pakaian yang menutupi seluruh tubuh wanita. Aturan ini berbeda dengan kaum laki-laki. Allah SWT memerintahkan demikian agar mereka dapat selamat dari mata-mata khianat kaum laki-laki dan tidak menjadi fitnah bagi mereka. Allah SWT, berfirman, yang artinya:

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnyake seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzâb [33]: 59)

Wanita pun diperintah oleh Allah untuk menjaga kehormatan mereka di hadapan laki-laki yang bukan suaminya. Adapun caranya adalah tidak bercampur baur dengan mereka, lebih banyak tinggal di rumah, menjaga pandangan, tidak memakai wangi-wangian saat keluar rumah, tidak merendahkan suara dan lain-lain.

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al Ahzâb [33]: 33)

Semua syariat ini ditetapkan oleh Allah dalam rangka menjaga dan memuliakan kaum wanita, sekaligus menjamin tatanan kehidupan yang baik dan bersih dari prilaku menyimpang yang muncul akibat hancurnya sekat-sekat pergaulan antara kaum laki-laki dan wanita. Merebaknya perzinahan dan terjadinya pelecehan dan kekerasan seksual adalah diantara fenomena yang diakibatkan karena kaum wanita tidak menjaga aturan Allah diatas.

Lebih dari itu, kaum laki-laki sebagai pemimpin dan penanggungjawab mereka lalai dalam menerapkan hukum-hukum Allah atas kaum wanita. Maka, sudah sepantasnya semua umat muslim baik laki-laki maupun perempuan untuk saling membantu dalam rangka menegakkan syariat Islam itu, sebagai pelindung dari perempuan dan seluruh umat baik muslim maupun non muslim. Wallahu a’lam bish shawwab.