Oleh: Maman El Hakiem

Rasa itu ada, tetapi mencuat sesaat dan bisa berubah. Perasaan adalah “ruhaniyah” yang didorong oleh rangsangan lingkungan sekitar. Apa yang mempengaruhi pikiranmu, menjalar menjadi rasa. Tetapi, rasa tidak perlu meminta dalil hukum. Rasa benci dan cinta bisa tiba-tiba muncul sifatnya reaktif karena adanya dorongan untuk bertindak. Saat menyaksikan ketidak adilan atau sikap sewenang-wenang penguasa misalnya, maka rasa menggelora ingin memperotes. Namun, jika rasa itu masih tersimpan belum terekpresikan, tidak bernilai pahala atau dosa. Karena rasa belum bisa dimintai pertanggungjawaban.


Islam bukan sekedar agama rasa, tetapi sikap. Kalau sekedar rasa, maka Islam sama saja seperti agama lain, hanya perkara “ruhani” sekedar menjadikan hati peka dan bersih. Sensitifisme tanpa terekspresikan dalam sikap hanya menjadikan manusia tanpa kreatifitas. Karena itu jika perasaanmu baik, maka harus menjadikan seluruh gerakmu menjadi baik. Agar rasa dapat terkendali harus ada adab dalam bersikap. Sampai sini kita harus mencari dalil hukum. Karena setiap sikap atau perbuatan manusia harus terikat dengan hukum Allah SWT.


Bersikap artinya menjadikan perbuatan manusia itu memiliki “ruh”, yaitu keterikatan amal perbuatan manusia dengan perintah atau larangan Allah SWT. Spritualitas bagi seorang muslim berupa keimanan sebagai dasar dalam beramal. ini yang menjadika seorang yang beriman berbeda dengan manusia pada umumnya. Mereka sama-sama memiliki rasa atau perasaan, tetapi bagi seorang mukmin perasaan itu harus teraktualisai pada sikap atau tindakan yang tidak boleh melanggar hukum syariah.


Nilai ruhani seorang muslim adalah perpaduan antara olah pikir dan olah rasa, sehingga menjadi pola sikap atau kepribadian. Ruhani atau keruhanian bukan perkara kesehatan jiwa semata, tetapi kesatuan gerak hidup manusia. Jika dalam dirimu ada “qolbun” yang baik, maka akan baik pula seluruh sikap perbuatannya. Qolbun bukan sekedar hati yang memancarkan rasa, tetapi akal yang mencerahkan pemikiran, juga kesadaran akan adanya perintah dan larangan Allah SWT yang menggerakan seluruh aktifitas dalam kehidupannya.

Mereka yang tetap berjuang mengaktualisasikan ajaran Islam secara kaffah di muka bumi ini, boleh jadi dunia serasa di penjara. Tetapi, hati yang bergetar membuatnya tegar meskipun hidup bercucuran air mata. “Rasulullah saw. telah menasihati kami yang menyebabkan hati kami bergetar dan air mata kami bercucuran.” (HR. Abu Dawud, at Tarmidzi mengatakan: ‘hadis ini hasan shahih’).
Wallahu’alam bish Shawwab.***