Oleh: Maman El Hakiem

Bos Ojo, begitu orang mengenalnya. Baru saja membeli tanaman hias yang harganya fantastis. Seratus juta rupiah. Semua orang pasti kaget, apalagi jika lihat tanamannya kaya daun dimakan ulat. Tetapi, bagi bos Ojo hobi mengalahkan logika matematika. Secara logika, di jaman susah ini uang sebanyak itu bisa buat sembako orang sekampung.
“Bos, itu tanaman bolong-bolong gitu kok mahal ya?” Tanya koleganya, Bang Omat.
“Bolongnya itu yang mahal…, itu asli dari Amerika Tengah.” Ucapnya bangga.
“Kalau bolongin sih gampang, apalagi kalau mendekati pilihan haha..” Canda Bang Omat.
Mereka berdua memang orang pembisnis. Sering mencari celah usaha yang aneh-aneh. Dulu saat anthrium heboh, di pekarangan rumahnya penuh dengan tanaman “gelombang cinta” tersebut. Meskipun pernah tertipu karena jenis athrium yang diborongnya ternyata tidak diminati banyak orang. Usaha memang tidak boleh kapokan, jatuh sekali atau dua kali harus cepat bangun jangan cengeng. Begitu Bos Ojo menyikapi kegagalan dalam bisnisnya.
“Bos benar monstera ini bakal laku di sini? Tanya Bang Omat ingin meyakinkan.
“Ini monstera adansonii, yang kalau di jual online ratusan juta harganya.” Jawabnya sambil menunjukan tanaman hias kebanggaannya itu. Kalau dilihat-lihat hanya daun yang merambat, bolong-bolong tengahnya. Orang di kampung itu menyebutnya “janda bolong”. Sungguh sebutan yang sebenarnya merendahkan status seorang perempuan yang sudah tidak bersuami.
“Sudah ada yang pesan, Bos? Kira-kira ditawar berapa?” Tanya Bang Omat yang memang penasaran.
“Sebentar lagi orangnya mau ke sini, kemarin malam sudah deal kalau asli monstera berani beli seratus lima puluh juta. Kan rezeki nomplok namanya.” Jawabnya bersemangat.
Sementara mereka sedang asyik mengobrol, terdengar dering suara ponsel. Bos Ojo segera mengangkatnya.
‘Oh… Pak Mikhael, gimana jadi mau beli monstera punya saya? Uangnya bisa ditransfer sekarang?” Pinta Bos Ojo. Ternyata panggilan telepon dari Pak Mikhael calon pembeli tanaman hiasnya.
“Begini bos, tadinya saya sudah semangat ingin membeli. Tetapi karena orderan saya gagal, ditambah lagi para pekerja banyak demo karena menolak UU Cipta Kerja. Dengan berat hati dibatalkan.” Jawabnya yang membuat pikiran Bos Ojo terasa pening.
“Kenapa Bos kelihatannya mau pingsan? Hati-hati bisa jadi gejala covid-19. Karena penyebab orang sakit tiba-tiba bukan karena virusnya, tetapi pikirannya.” Kata Bang Omat yang melihat Bos Ojo tiba-tiba tampak lemas. “Bukan itu, tetapi monstera….jadinya monstera covidia.” Jawab Bos Ojo lirih.
“Monstera covidia haha…asli monster covid menakutkan di tengah krisis ekonomi ini, malah heboh tanaman yang aslinya permainan bisnis orang-orang borjuis” Pikir Bang Omat dalam benaknya orang harus berpikir seribu kali jika ada peluang untung dengan jalan enteng***