Oleh : Andri Septiningrum, S.Si
Ibu Pendidik Generasi

“Tak kenal maka tak sayang, tak kenal maka ta’aruf (berkenalan) lah.” Ungkapan ini sering kita dengar di telinga kita, dan memang benar. Bagaimana akan timbul rasa cinta ketika kita tidak mengenal. Begitulah yang Allah inginkan, saking cinta-Nya Allah kepada kita, Allah ingin kita benar-benar mengenalnya. Cinta Allah melebihi cinta seorang ibu kepada anaknya. Kita tahu bagaimana cinta seorang ibu kepada anaknya. Bahkan Allah itu sangat cemburu ketika kita bermaksiat kepada-Nya dan ketika kita mendekat kepada-Nya, Allah semakin mendekat kepada kita. MasyaaAllah begitu cinta-Nya kepada kita, lalu bagaimana cinta kita kepada-Nya?

Allah juga memerintahkan kita untuk mengenalkan-Nya kepada buah hati kita. Allah menitipkan mereka untuk kita kenalkan kepada Rabbnya dari mulai anak itu ada dalam kandungan ibunya agar mereka mencintai Rabbnya. Dr. Ala’uddin Al Qabanji menguatkan hal ini dengan sebuah ungkapan, “Kesalahan besar jika menyatakan bahwa tidak ada pengaruh lingkungan terhadap janin (kandungan). Maka kondisi jiwa yang tenang dan menghadap kepada Allah sangatlah membantu. “

Bagaimana cara mengenalkan Rabbnya itupun Allah jelaskan dalam Al Qur’an. Dimulai dengan mengenalkan sifat-sifat Allah yang maha baik, hingga akhirnya anak-anak kita mengetahui bahwa Allah maha baik, semua yang ada dalam dirinya sejatinya adalah kebaikan dari Rabbnya. Allah menginginkan hamba-Nya mendapatkan surga-Nya, akan tetapi kita sebagai hamba-Nya lah yang sering zalim terhadap diri sendiri dengan bermaksiat kepada-Nya.

Setelah mengenalkan sifat Allah, Allah juga memerintahkan kita untuk mengajarkan aturan-Nya kepada anak-anak kita secara bertahap sesuai tahapan usia mereka. Tanpa tahapan yang benar, maka mustahil benih keimanan itu akan tumbuh dengan baik. Dr. Amani Ar Ramadi dalam bukunya berjudul Menanamkan Iman kepada Anak menjelaskan bahwa pola belajar anak berbeda di setiap tingkatan usianya. Pendidikan cinta sangat berperan dan semenjak awal orang tua semestinya mempersiapkannya. Bagaimana mendidik anak kita mencintai Allah, Rosulullah, Islam, sholat, jilbab hendaknya memang dilatih sejak dini.

Ibnu Abbas berkata: Suatu hari aku membonceng Nabi saw. Beliau bersabda kepadaku, “Nak, sungguh aku akan mengajari kamu beberapa kalimat: Jagalah (syariat) Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah (syariat) Allah, niscaya engkau akan mendapatkan (pertolongan/perlindungan) Allah senantiasa di hadapanmu. Bila engkau meminta (sesuatu) maka mintalah kepada Allah. Bila engkau memohon pertolongan maka mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR Ahmad dan at-Tirmidzi).

Betapa besar dan betapa dalam pendidikan yang diberikan oleh Rasulullah saw. kepada anak pamannya, Abdullah bin ‘Abbas, yang saat itu belum baligh.

Demikian halnya dengan cucu beliau Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra. Ia dilahirkan pada tahun 3 hijriah (ketika Rasul saw. meninggal, ia berumur 7 tahun). Hasan bin Ali ra. mengambil sebiji kurma dari kurma shadaqah (zakat). Kemudian ia memasukkan kurma itu ke dalam mulutnya (hendak memakannya). Nabi saw. lalu bersabda kepada dia, “Kakh, kakh,” agar ia mencampakkannya. Lalu beliau bersabda kepada dia, “Tidakkah engkau sadar bahwa kita tidak (halal)memakan shadaqah?” (Muttafaqun ‘alaih).

Hadits ini menjadi dasar kuat bagi prinsip pendidikan anak, yaitu sejak dini diajarkan untuk tidak memakan harta haram, menjauhi segala makanan yang tidak boleh dimakan, juga menjauhi segala perbuatan yang tidak dibenarkan Islam.

Secara khusus yang berkenaan dengan shalat, Nabi saw. telah bersabda, “Perintahlah anak-anak kalian agar mendirikan shalat tatkala mereka telah berumur tujuh tahun dan pukullah (jika tak mau shalat) tatkala mereka telah berumur sepuluh tahun.”

Pada hadist ini, Rasulullaah saw. dengan tegas mensyariatkan agar pendidikan shalat dimulai sejak dini, yaitu sebelum baligh. Bahkan ketika ia baru berumur tujuh tahun ia sudah diajarkan untuk shalat.

Begitu pula dengan perintah berjilbab, perintah ini memang dibebankan saat seorang anak sudah memasuki usia baligh. Akan tetapi semua itu perlu pembiasaan.

Maka sungguh tidak benar pernyataan seorang psikolog yang menjelaskan dampak psikologis bagi anak-anak yang sejak kecil diharuskan memakai jilbab.

“Mereka menggunakan atau memakai sesuatu tapi belum paham betul konsekuensi dari pemakaiannya itu.”

“Permasalahannya apabila di kemudian hari bergaul dengan teman-temannya, kemudian agak punya pandangan yang mungkin berbeda, boleh jadi dia mengalami kebingungan, apakah dengan dia pakaian begitu berarti dia punya batasan tertentu untuk bergaul,” tambahnya (Jurnal Gaya, 26/09/2020).

Mengenalkan anak secara dini tentang jilbab bukan berarti memaksakan kepada mereka, akan tetapi mengajak mereka untuk mencintai jilbab. Menjelaskan kepada mereka kenapa mereka harus mencintai jilbab (melakukan dialog keimanan dengan mereka), melatih mereka hingga akhirnya putri kita sendiri yang memutuskan untuk berjilbab.

Kebingungan pada anak, insyaaAllah tidak akan terjadi karena mereka sudah dijelaskan alasan ketika mereka belajar taat syariat. Justru mereka akan semakin kokoh dalam keyakinannya, tidak mudah terombang-ambing dengan kondisi yang ada, mudah terbawa arah angin. Sadar dengan identitas dirinya sebagai muslim. Anak yang tidak dikenalkan dan dipahamkan sejak dini hanya akan membuat mereka kebingungan mencari jati diri mereka. Derasnya arus liberal yang ada sekarang, dimana semua serba dibebaskan tanpa melihat lagi halal haram dan budaya materialis sangat rentan membuat mereka terbawa arus.

Kecintaan kita pada anak kitalah yang mendorong kita mengenalkan iman dan syariat kepada mereka sejak dini. Bayangkan ketika ada anak kita yang ingin mendekat ke dapur karena mereka ingin mendekat kepada kita. Akan tetapi kita tahu bahwa percikan apinya bisa jadi mengenai anak kita. Maka wajar jika kita kemudian melarang mereka untuk pergi ke dapur. Larangan itu adalah bentuk sayang kita kepada Allah, bukan pemaksaan bagi mereka. Begitu pula dengan jilbab.

Hal ini pastilah bertentangan dengan paham liberal, yaitu paham yang membebaskan manusia bertidak sesuai keinginan mereka. Anak dibesarkan dengan kebebasan tanpa batas. Kebebasan ini yang melahirkan banyak kasus-kasus yang ada sekarang seperti maraknya seks diluar nikah, menjamurnya prostitusi online dan banyak aborsi yang dilakukan oleh remaja saat ini. Maka, peran kita sebagai orang tua sangatlah penting dalam menjaganya, orang tualah yang bertugas membentuk karakter anak.

Selain orang tua sebagai pendidik utama, lingkungan dan negara juga juga tidak kalah penting perannya. Pemimpin negara dalam Islam berperan sebagai pelindung dan perisai bagi rakyatnya. Negara akan berusaha menjaga rakyatnya dari serangan budaya liberal dan materialis dengan menanamkan keimanan dan ketaqwaan pada seluruh anggota masyarakat. Hingga masyarakatnya menjadi masyarakat yang paham Islam, yang peduli terhadap sesamanya dan juga akan saling mengingatkan sebagai bukti cinta mereka kepada saudaranya. Rasa cinta ini juga akan dirasakan tidak hanya oleh sesama muslim, bahkan non muslimpun akan merasakan keindahan Islam. Negara juga akan mengawasi dan menfilter media-media yang ada dalam masyarakat. Negara tidak akan membiarkan rakyatnya teracuni oleh paham yang merusak generasinya.

Anak bagaikan kertas putih, maka percantiklah kertas itu dengan iman. Goresan didalamnya sangat dipengaruhi oleh orang tua dan lingkungannya. Anak yang belum matang pribadinya, maka orang tua, masyarakat dan negaranyalah yang bertugas mengarahkannya. Waallahua’lam bi showwab.