Oleh: Risma Aprilia (Aktivis Muslimah Majalengka)

Ustadz Felix Siauw dikenal sebagai pendakwah sekaligus penulis buku. Banyak buku yang sudah beliau tulis, salah satu diantaranya berjudul Muhammad Al-Fatih 1453, yang baru-baru ini menjadi rekomendasi oleh Dinas Pendidikan Bangka Belitung (Babel), untuk mewajibkan siswanya membaca buku tersebut, melalui surat edaran kepada seluruh sekolah SMA/SMK. Namun selang satu jam setelah beredar surat tersebut dibatalkan.

“Di masa pandemi ini kita memberi siswa tugas untuk membaca guna meningkatkan kemampuan mereka. Cuma buku itu saja kita masukan karena melihat perjuangan Muhamamd Al Fatih yang sejak kecil sudah hafiz dan perjuangan dia merebut konstatinopel (Turki). Setelah mendapat informasi penulisnya pentolan HTI langsung kita batalkan,” tutur kepala Disdik Babel, Muhammad Soleh. (babel.inews.id, 2/10/2020)

Memang jika kita perhatikan dengan seksama generasi saat ini, mempunyai minat membaca yang kurang, ditambah lagi sedikitnya dukungan dari pihak sekolah agar siswanya rajin membaca, tugas dari Disdik Babel tersebut cukup bagus. Namun sangat disayangkan sekali dengan dibatalkannya surat edaran tersebut, hanya dengan melihat latar belakang penulis, bukan melihat pada hasil karya yang dibuatnya.

Padahal jarang sekali penulis yang mengangkat sejarah sosok Muhammad Al-Fatih, ditambah dengan penyampaian yang begitu rinci dan menarik, apalagi sejarah merupakan pelajaran yang sedikit peminatnya. Ini bisa menumbuhkan minat pada pelajaran sejarah disamping menumbuhkan minat membaca.

Salah satu problem besar bangsa ini dalam melakukan perubahan profil generasi adalah tiadanya gambaran tentang sosok teladan. Dengan memahami kisah Muhammad Al-Fatih, dapat mengangkat mentalitas generasi agar menjadi bangsa unggul, karena kerja kerasnya semata membuktikan bisyarah.

Dalam buku Muhammad Al-Fatih 1453 sendiri, menceritakan bahwa Muhammad Al-Fatih adalah seorang pemimpin pada masa kekhilafahan Utsmani. Beliau dikenal sebagai sosok yang luar biasa, dimana dirinya mampu menaklukkan Konstantinopel. Sebuah kota yang Rasulullah kabarkan akan ditaklukkan oleh Islam, yakni oleh pemimpin terbaik serta pasukan yang terbaik. “Konstantinopel akan takluk di tangan seorang laki-laki maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinya dan sebaik-baik tentara adalah tentaranya” (HR. Ahmad)

Mehmed II nama lain dari Muhammad Al-Fatih sejak usia 6 tahun dididik secara khusus dan mempersiapkannya menjadi pengganti ayahnya, Murad II. Mehmed mulai mempelajari berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan Al-Qur’an, tsaqafah Islam dan juga ilmu fiqih, maupun ilmu-ilmu lainnya seperti bahasa, astronomi, matematika, kimia, fisika dan juga teknik perang dan militer.

Dua ulama yang berhasil mendidik beliau ialah Syaikh Ahmad Al-Kurani dan Syaikh Aaq Syamsuddin. Bahkan Syaikh Syamsuddin selalu mengulang-ulang perkataannya kepada Mehmed, bahwa dirinyalah pemimpin yang dimaksud dalam hadits Rasulullah. Syaikh betul-betul meyakinkannya bahwa Mehmed-lah Ahlu bisyarah.

Hal tersebut sangat berpengaruh besar pada diri Mehmed, sehingga dalam umur kurang dari 17 tahun Mehmed dapat menguasai bahasa Arab, Turki, dan Persia dan juga fasih dalam percakapan bahasa Perancis, Yunani, Serbia, Hebrew dan Latin. Ketertarikan luar biasa juga ditunjukkannya dalam ilmu sejarah dan geografi, syair, dan puisi, seni, serta ilmu teknik terapan. Keahliannya dalam perang pun selalu menjadi buah bibir.

Inilah salah satu bukti bahwa sistem Khilafah mampu menghasilkan sosok Muhammad Al-Fatih, dimana dalam Khilafah setiap individu ditanamkan dengan keimanan serta ketakwaan pada Sang Pencipta, Allah SWT. Untuk patuh dan taat pada syariat-Nya, serta meyakini akan janji-janji-Nya, termasuk kabar gembira akan ditaklukkannya Konstantinopel, sehingga terbentuklah kesadaran dalam menjalankan setiap aktivitas hidupnya, terlebih dalam memilih jalan hidup. Karena menyadari bahwa tujuan hidup di dunia ialah ibadah, serta akhir yang mereka inginkan ialah jannah-Nya.

Dalam sistem Islam pun, negara menjamin pemenuhan hak-hak pendidikan secara gratis, sehingga warga negaranya bebas untuk menuntut ilmu sampai jenjang yang tinggi. Serta dengan kualitas pendidikan sesuai syariat. Sehingga terbentuklah generasi-generasi yang mempunyai pemikiran gemilang.

Tidak seperti saat ini di dalam sistem Sekuler Demokrasi, disamping biaya pendidikan yang begitu mahal, generasinya pun dicekoki dengan budaya hedonis, dimana setiap individu diberi kebebasan dalam hidupnya, mulai dari bebas berpendapat, berpakaian, bahkan berkeyakinan. Maka bisa dilihat hasilnya saat ini, sistem hanya menghasilkan generasi ‘pembebek’, lebih senang mengikuti tren barat atau Korea dibanding Islam, bahkan lebih bangga bisa menjadi bagian fans artis-artis luar dibanding menjadi bagian pejuang Islam. Seperti kehilangan arah hidup dan menganggap hidupnya akan kekal di dunia. Na’udzubillah.