Oleh: Puji Rahayu
(Anggota Bolpen.id Club)

Selama masa pandemi, sudah berapa kali pemerintah membuat resah rakyat negeri ini dengan kebijakan-kebijakan penuh kezaliman. Tapi anehnya rakyat pula yang diminta bertaubat agar pandemi segera pergi.

Sah!. 5 Oktober 2020 wakil rakyat mengesahkan RUU Omnibus law Cipta Kerja menjadi UU. Sumpah serapah rakyat yang terzalimi pun telah tumpah karena merasa pemerintah menjadikan hidupnya semakin susah.

Kalau dengan disahkannya UU Cipta Kerja menjadikan rakyat semakin susah, lalu siapa yang disejahterakan pemerintah dengan UU ini?

Terpampang jelas dari segi tekstual dan konstektual bahwa UU Cipta Kerja ini hanya memberikan karpet merah kepada investor untuk memeras tenaga dan pikiran pekerja tanpa memikirkan kesejahteraan mereka.

Pas, sesuai dengan semboyannya “kerja kerja kerja” tapi kesejahteraan hanya angan-angan belaka. Inilah kerja paksa era penjajahan gaya baru.

Dalam UU ini pun pemerintah menargetkan bisa memperbaiki struktur ekonomi nasional sehingga bisa meraup angka pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,7-6 persen. Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso mengatakan, pertumbuhan itu akan ditopang dengan terciptanya lapangan kerja sebanyak 2,7 juta -3 juta per tahun.(VIVA.co.id).

Lagi-lagi angka pertumbuhan ekonomi disuguhkan manis penuh halusinasi di tengah pandemi yang semakin tidak terkendali. Bukankan rakyat akan lebih tenang dengan hilangnya pandemi dari kehidupan? Sehingga rakyat banyak yang sehat, bisa kerja dengan tenang. Angka pertumbuhan ekonomi otomatis berjalan naik menghindari resesi. Tapi tampaknya ini hanya pikiran rakyat jelata yang tidak berdaya.

Mengingat sistem yang diterapkan di seluruh dunia termasuk Indonesia adalah sistem Kapitalisme maka wajar jika yang diutamakan sektor pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi para kapital tentunya. Dan merekalah penguasa sesungguhnya dalam sistem ini. Rakyat biasa tidak punya harapan hidup sejahtera dalam cengkramannya. Rakyat juga tidak ada tempat mengadu terhadap kezaliman dari penguasa dan jajarannya . Hanya bisa menunggu pengadilan Tuhan.

Berbeda dengan sistem Islam. Sistem ini memiliki struktur pemerintahan yang benar-benar sesuai dengan fitrah rakyat ketika mendapat kezaliman dari penguasa dan jajarannya. Mahkamah mazhalim namanya. Mahkamah ini memiliki wewenang untuk memeriksa dan memutuskan perkara kezaliman apapun, baik kezaliman yang berkaitan dengan seseorang yang duduk di dalam struktur pemerintahan, berkaitan dengan penyimpangan yang dilakukan khalifah terhadap hukum-hukum syariah, berkaitan dengan makna nash di antara nash-nash tasyri’ dalam UUD , UU, dan seluruh hukum syariah yang diadopsi atau di sahkan oleh Khalifah, berkaitan dengan komplain rakyat terhadap peraturan administrasi yang berhubungan dengan kemaslahatan rakyat, berkaitan dengan penetapan kewajiban pajak ataupun kezaliman yang berkaitan dengan masalah yang lain yang intinya kezaliman itu dari penguasa kepada rakyatnya.

UU Cipta kerja itu merupakan kezaliman yang dilakukan penguasa kepada rakyatnya yang berkaitan hukum yang diadopsi oleh penguasa. Sekali lagi ini kalau sistem Islam yang diterapkan. Rakyat punya tempat mengadu terhadap kezaliman penguasa tanpa harus mendobrak pintu pagar agar bisa didengar atau menerjang pandemi agar bisa diayomi.

Dalam memutuskan perkara mahkamah madzalim hanya memakai hukum Syariah. Karena dalam sistem Islam kedaulan penuh ditangan syara (Allah). Keadilannya terjamin . Tidak ada yang diragukan dari hukum Allah. Allah berfirman dalam Surat An-Nisa’ ayat 58 :

اِنَّ اللّٰهَ يَاۡمُرُكُمۡ اَنۡ تُؤَدُّوا الۡاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهۡلِهَا ۙ وَاِذَا حَكَمۡتُمۡ بَيۡنَ النَّاسِ اَنۡ تَحۡكُمُوۡا بِالۡعَدۡلِ

“Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil…”. (TQS. An-Nisa :58)

Inilah sistem yang diperlukan saat ini. Sistem yang bisa menghilangkan kezaliman dimuka bumi. Maka patutlah diharapkan kehadirannya pada kehidupan ini dengan terus memperjuangkan terwujudnya seraya membumikan shalawat asghil dan biarkan menggema di angkasa.