Oleh: Yuyun Rumiwati

Ada apa di negeri ini? Katanya “gemah ripah loh jinawi”. Tancap tongkat tumbuh padi. Mengapa kesempitan bisa dan kesengsaraan seakan tak tersudahi?

Terkenalnya negeri ramah. Namun kenapa tiap kebijakan menyulut hati rakyat marah? Hingga sumpah serapah tak bisa dielakkan. Apa rakyat negeri ini kurang menerima. Wah, jangan dikata, dibohongi berulang saja mereka masih menerima.

Apakah rakyat negeri ini terlalu meminta haknya. Ah, jangan tanya. Haknya jelas-jelas didzalimi, mereka masih berupaya untuk baik hati. Kurang baik hati apa?. Pendidikan berbiaya tinggi dijalani meski hidup di negeri yang kaya ini. Kesehatan mahal ia tempuhi dengan ikut asuransi, BPJS mandiri istilah masa kini. Berbagai pajak dan iuran mencekik pun masih mereka bayar. Di tengah pandemi, yang seharusnya negara hadir menjamin hak kebutuhan sehari-hari. Mereka secara mandiri justru bahu membahu saling berbagi.

Ayo kurang apa? Jangan bilang rakyat terlalu menuntut hak dari pada kewajiban. Hingga tak ada lagi belas kasihan darimu wahai rezim dan wakil rakyat katanya.

Hari ke hari kesabaran umat terus teruji. Diamnya mereka dengan kesibukan mengisi perut dan kebutuhan diri. Telah membuat yang di atas berbasah dengan gelimangan harta kian lupa. Hingga malam pun jadi arena pemutus kebijakan menyengsarakan rakyat.

Kurang apa rakyat? Mereka masih rela membeli listrik, air dan bahan bakar, walau seharusnya mereka tak harus beli. Mereka tak pedulikan nyawa dan wabah demi menyampaikan aspirasinya.

Sungguh kami heran, masihkan ada secuil waktu untuk memikirkan mereka wahai pemimpin rakyat dan wakil rakyat? Atau jeratan dunia tak lagi membuat hati dan pikiran berdaya? Memandang dan memahami bagaimana rakyat?

Ah, mungkin terlalu muluk rakyat meminta mereka yang diatas untuk ingat mereka. Bukankah dengan segudang janji yang keluar dari lisan mereka pun Meraka telah lupa. Bahkan, jangan-jangan siapa mereka dan untuk apa mereka hidup pun lupa mengingatnya.

Ya Rabb..
Maafkan kami. Mungkin selama ini kami telah dzalim pada diri kami sendiri. Cukup bersibuk dengan urusan dunia kami sendiri. Hingga lupa kepada siapa sandaran dan harapan terpatri.

Saat ini, ketika ketidakadilan hukum di negeri ini kian telanjang di mata kami. Baru kami sadari dalam simpuh malu kami. Memang hanya hukum dari sang maha tinggi yang tak mungkin terbeli. Karena yang membuat tak ada tendensi untuk kepentingan pribadi. Ampuni kami Yaa Rabbi..
Cukuplah peringatan-Mu..
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ

Arti: Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.