Oleh: Ainun, Tegalsari, Sumedang


Sumedang – Kegiatan Acara Napak Tilas Gunung Pangadegan di Kawasan Kancah Nangkub, Desa Rancamulya, Kabupaten Sumedang diduga melanggar protokol kesehatan. Sebab, diwarnai dangdutan. Video berdurasi kurang lebih 36 detik itu nampak sejumlah orang yang berjoget tidak menerapkan protokol kesehatan. Video itu pun menjadi perbincangan hangat di medsos.
Menurut informasi yang didapat detikcom, acara yang digelar pada hari Minggu (20/9/2020) itu, pihak panitia menyuguhkan sejumlah hiburan salah satunya yaitu dangdutan. Pengelola Kancah Nangkub, Beben HVA mengatakan pihaknya sudah menyarankan kepada pihak panitia agar tidak menggelar kegiatan acara Napak Tilas Gunung Pangadegan. Namun hal itu tidak di respon oleh pihak penyelenggara. Menurutnya, setelah berkoordinasi dengan pihak Kecamatan, pihak Kecamatan pun tidak mengetahui ijin tersebut sehingga akhirnya saling lempar tanggung jawab.
“Saya koordinasi dengan Camat menanyakan surat ijin dari gugus tugas Covid-19, malah dilempar ke PSB,” kata Beben kepada detikcom, saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (21/9/2020).
Ia menuturkan sebelum kegiatan itu di gelar, pihaknya bersama pihak Satpol PP telah membongkar tenda untuk acara tersebut pada malam harinya, hal itu setelah ada kesepakatan dari camat dan pihak panitia acara tersebut. “Setelah koordinasi akhirnya sepakat (tenda) untuk dibongkar, itu disaksikan anggota Polsek, Satpol PP dan tokoh masyarakat setempat pak Iwan,” katanya.
Dalam situasi pandemi yang kecenderungan nya meningkat ini, masih saja ada segolongan orang yang masih melanggar protokol kesehatan. Mengadakan acara dangdutan yang tidak ada hubungannya dengan napak tilas. Mengapa ini kejadian selalu terjadi? Sebab kebijakan pemerintah dalam menangani pandemi covid ini tidak tegas. Coba kalo pemerintah lebih memperketat lagi, jangan sampai pemerintah lalai. Ditambah rakyat sudah merasa aman, karena kebijakan pemerintah yang dlu pernah menerapkan AKB. jadi rakyat kadang tidak mendengar lagi apa ucapan pemerintah.
Solusinya tetep tidak menyelesaikan masalah wabah. malah kebijakan pemerintah sendiri yang menjadikan nyawa rakyat begitu murah, karena dalam situasi pandemi pemerintah pernah menerapkan AKB, yang akhirnya malah semakin meningkat pasien covid. akibat dari kebijakan pemerintah yang abai. Lebih mementingkan ekonomi berjalan, pariwisata, dibandingkan nyawa rakyat yang begitu murah.
Sumedang – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumedang akan kembali memperketat aktivitas kegiatan warga di masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) guna mengantisipasi peningkatan kasus COVID-19 yang saat ini terus meningkat di sejumlah wilayah di Jawa Barat. Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir mengatakan saat ini pihaknya sedang siap siaga memperketat setiap aktivitas masyarakat mengingat saat ini kasus positif COVID-19 di sejumlah daerah di Jawa Barat mengalami peningkatan.
“Disamping itu, tetangga Kabupaten Sumedang dalam beberapa waktu terakhir seperti Bandung, Garut, dan Majalengka menunjukkan pertumbuhan jumlah terkonfirmasi yang cukup signifikan,” kata Dony kepada detikcom, melalui pesan singkatnya, Senin, (21/9/2020).
Maka, dirinya meminta kepada para Kepala Desa melakukan pendataan bagi pendatang dari zona merah kemudian diminta untuk melakukan isolasi mandiri, sebelum mereka bisa berinteraksi kembali dengan masyarakat lainnya. “Para Kepala desa diharapkan untuk terus mengaktifkan Desa Siaga Corona, kemudian mengintensifkan kembali kegiatannya. Forkopimcam dan puskesmas diharapkan dapat melakukan monitoring terhadap kegiatan ini,” katanya.
Kemudian, bagi warga yang sedang dalam masa diisolasi, kata Dony, nantinya ada petugas yang terus memantau perkembangan kondisi kesehatan mereka. Sehingga mereka benar-benar dalam pemantauan yang ketat. “Pastikan yang sedang melakukan isolasi mandiri akan di awasi oleh dinas terkait, Kecamatan, termasuk oleh Petugas Desa Siaga Corona, RT/RW, sehingga terhindar dari Klaster Keluarga,” tambahnya.
Selain itu juga, Dony mengimbau bagi warga Sumedang yang akan bepergian keluar daerah khususnya ke zona merah untuk dapat menunda perjalanannya sementara waktu, sampai benar-benar kondisinya dinyatakan aman dan terkendali. “Kepada Seluruh warga Sumedang diharapkan untuk menunda perjalanan ke Luar kota terutama ke zona merah, seperti Jakarta, Depok, Bandung, dan juga wilayah yang saat ini pertumbuhan COVID-nya seperti Garut dan Majalengka. Kecuali sangat Mendesak,” ucapnya.
Hal itu juga kata Dony untuk mencegah penyebaran virus Corona secara meluas sehingga masyarakat akan lebih aman dan juga mengurangi risiko penularan terhadap yang lainnya. Untuk dapat memperketat masa AKB ini, Dony meminta Satpol PP Kabupaten Sumedang untuk terus memperketat operasi penegakan disiplin terhadap warga yang melanggar protokol kesehatan di saat pelaksanaan operasi di lapangan.
“Tindakan tegas dengan penerapan sanksi (administratif), dan juga memberikan sanksi kepada para pelanggar. Kemudian meningkatkan lagi disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan,” ucap Dony. Sanksi tersebut tertuang dalam Peraturan Bupati (Perbup) Sumedang nomor 74 tahun 2020 tentang sanksi administratif terhadap pelanggaran tertib kesehatan dalam pelaksanaan adaptasi kebiasaan baru dan penanggulangan COVID-19.
“Sekarang warga harus lebih disiplin lagi, tak pakai masker bakal ada denda Rp 100 ribu hingga 150 ribu,” ucap Dony. Ketika pasien pandemi meningkat, kebijakan pemerintah baru muncul, seharusnya dari awal-awal ketika wabah melanda. kata pemerintah rakyat harus disiplin. Tapi nyatanya para pemerintah pun tidak disiplin. Seharusnya terus memantau rakyat. kadang waktu untuk rakyat hanya waktu wabah meningkat saja adanya, protokol kesehatan, seperti razia masker dengan denda yang begitu lumayan besar. Tapi ketika wabah sedikit pemerintah diam seribu bahasa.


Jelas, ini wabah melanda lebih besar itu diakibatkan penanganan pemerintah yang lalai akan rakyat nya. Coba kalo Lockdown nya lama! mungkin tidak akan terjadi seperti ini.
Jadinya pemerintah bingung, karena nasi sudah menjadi bubur. akibat dri kebijakan yang hanya mementingkan urusan pribadi, pemerintah. Mulai dengan membuka pariwisata, karena mereka tidak punya masukan.
JAKARTA, KOMPAS.com – Presiden Joko Widodo mengajak masyarakat untuk saling membantu antar sesama di tengah pandemi Covid-19 yang turut berdampak pada perekonomian. Bagi umat muslim, Jokowi mengajak untuk memperbanyak infak dan sedekah di masa pandemi ini. Hal tersebut disampaikan Jokowi saat membuka Muktamar IV Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) secara virtual, Sabtu (26/9/2020).
“Kita juga tidak boleh melupakan istighfar, dzikir, taubat kepada Allah SWT, dan memperbanyak infak dan sedekah,” kata Jokowi yang memberi sambutan dari Istana Kepresidenan Bogor. “Karena banyak saudara-saudara kita yang memang perlu dibantu di tengah kesulitan yang mereka hadapi,” sambungnya. Jokowi menyebut, pandemi Covid-19 telah menyebabkan perlambatan ekonomi dunia.
Pertumbuhan seluruh negara yang biasanya di angka positif kini terkontraksi secara tajam. Pada kuartal II 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga minus 5,32 persen. Banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan dan mata pencaharian. Namun Kepala Negara mengajak masyarakat untuk tidak menyerah dengan keadaan.
“Dalam menghadapi cobaan ini kita tidak boleh menyerah, kita harus terus berikhtiar, berikhtiar dengan sekuat tenaga untuk mengendalikan penyebaran Covid-19 dan agar sekaligus membantu saudara-saudara kita agar tidak semakin terpuruk karena kesulitan ekonomi,” kata Jokowi. Ia menegaskan pemerintah tak bisa menghadapi pandemi ini sendirian.
Sudah tau rakyat juga susah sekali mencari pekerjaan di masa wabah ini, ini lagi kebijakan rezim pada rakyat agar berinfak dan saling tolong menolong, bukankan ini tanggung jawab pemerintah. rakyat juga susah tuk makan juga. banyak yang nganggur karena pandemi. Memang bagus juga pemerintah mengajak umat untuk selalu berzikir, dan mengajak masyarakat untuk bertaubat. Tapi tetap tidak cukup bertaubat tetapi harus memberikan solusi terbaik agar pandemi semakin berkurang.
Cara islam mengatasi wabah, jelas tidak cukup dengan istigfhar dan bertaubat. tetapi harus menjalankan seluruh perintah syariat disaat krisis wabah. dengan menerapkan islam sebagai solusi permasalahan insyaallah wabah akan berakhir. Karena ini syariah berasal dari sang Pencipta. yang asasnya bukan manfaat dan materi belaka.