Oleh: Muliyana, S.Sos


Peran perempuan dalam kehidupan kapitalisme terkhusus pada dunia kerja sangatlah penting. Sehingga mengharuskan perempuan banyak terlibat dengan alasan untuk penguatan dibidang ekonomi. Tak hanya itu, peran perempuan juga terus didorong dengan dalih perempuan punya kesempatan dan hak yang sama dengan laki-laki. Hal ini menjadi konsep mendasar yang terus diaruskan oleh pejuang kesetaraan gender kepada perempuan tak terkecuali perempuan muslim yang menjadi target. Yang harus dipahami pada standar kapitaslime adalah adanya pemisahkan agama dengan urusan dunia.


Dalam pandangan seorang pengamat Politik Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin mengatakan, dalam ilmu politik, baik laki – laki dan wanita, memiliki peluang yang sama besar, tergantung kapabilitas atau kemampuan yang dimiliki calon baik laki-laki maupun wanita (Banjarmasin, klikkalsel.com). Dari empat bakal calon kepala daerah yang telah mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) awal September lalu, ada satu sosok wanita yang mewakili kaum millennial mengingat usia beliau yang masih muda.
Tak hanya itu, di Tanah Bumbu juga ada sosok perempuan yang menjadi bakal calon bupati Tanah Bumbu. Pasangan calon perseorangan Mila Karmula – Zainal Arifin akhirnya dinyatakan bisa mendaftar sebagai calon Bupati dan Wakil Bupati di Pilkada 2020 ini. “Kami maju menjadi calon Bupati dan Wakil Bupati ini bukan menjadi calon bayangan, dan itu kami buktikan dengan berhasil mengumpulkan dukungan masyarakat Tanah Bumbu sehingga dinyatakan lolos dan memenuhi syarat sebagai calon Bupati dan calon Wakil Bupati,” tegas Mila (dikutip dari banjarmasinpost.co.id).
Kesadaran perempuan dalam keterlibatan pada politik negeri sangatlah baik. Hanya saja yang dikhawatirkan adalah bagaimana menjalankan perannya sebagai seorang perempuan yakni sebagai seorang ibu begitupun sebagai seorang anak. Karena tuntunan saat ini yang mengharuskan banyaknya aktivitas di luar rumah padahal aktivitas tersebut adalah aktivitas mubah bukan sebuah kewajiban. Dan juga banyaknya keterlibatan perempuan dipublik justru bisa menghantarkan kehancuran jika tidak disesuaikan dengan islam, karena perubahan yang dikehendaki justru bertentangan dengan Islam jika standarnya menggunakan pandangan kapitalisme yang serakah dengan keuntungan duniawi.


Islam sudah memberikan tempat istemwa bagi perempuan. Sebuah tempat untuk menjaga fitrah yang sudah ALLAH berikan, yaitu sebagai ummu warobbatul bait. Baik itu sekarang atau nanti untuk menjalankan perintah ALLAH. Dengan menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya dan menjadi pencetak generasi yang khoiru ummah. Mampu mencintai ALLAH dan RasulNya. Mampu memproses anak untuk bisa menempatkan islam sebagai poros dalam aktivitas kehidupan sehari-harinya. Serta sebagai manager yang mengurus dan mengatur rumah tangganya.
Perempuan memiliki kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan setinggi-tingginya. Demikian juga dalam amalan-amalan lain di segala bidang, suara perempuan dalam memilih pemimpin Negara sebagai junnah yang melindungi merekapun juga menjadi perhitungan suara dalam menentukan pemimpin terbaik, bahkan perempuan ikut ambil bagian dalam dakwah yang mulia, menyeru manusia kepada islam. Bunda Khadijah adalah sosok perempuan yang mampu berkiprah dibidang perdagangan yang kala itu tak perlu diragukan lagi. Harta beliau dedikasikan untuk kepentingan dakwahnya Rasulullah. Dari sosok beliaulah yang mampu mencetak generasi saat itu seperti Fatimah azZahra, seorang perempuan yang dikenal sangat baik dan memiliki sifat yang sangat mulia.
Dalam menjaga fitrah perempuan agar prioritas dijalankan yakni aktivitas wajibnya sebagai ummu warobbatul bait serta tetap bisa memilih aktivitas mubah yang dilakukan di luar rumah termasuk kerja ataupun berkiprah di publik. Maka hal ini tak akan pernah ditemukan dan dirasakan oleh perempuan selama kapitalisme masih bercokol di negeri ini. Sebaliknya perempuan akan buta dengan rutinitasnya padahal itu bukanlah sebuah keharusan untuk diambil bahkan bisa berujung pada kelalaian dalam memenuhi perintah ALLAH untuk bisa mengurus dan menjaga anak-anaknya serta sebagai seorang istri jika saat ini belum memiliki anak, ataupun perempuan yang masih berstatus sebagai anak saja untuk bisa berbakti kepada kedua orangtua.

Kapitalisme justru menambah pelik problematika perempuan hingga hari ini. Maka sungguh problematika perempuan saat ini hanya dapat tuntas ketika perempuan berada dalam naungan Khilafah Islamiyah saja. Maka dari itu, teruslah berjuang bersama agar kiranya kemulian perempuan benar-benar terwujud nyata. Agar kiranya perempuan muslim pada akhirnya punya pandangan yang sama bahwa kemulian mereka hanya dalam kacamata islam bukan kapitalisme.