Oleh: Maman El Hakiem

Semuanya akan berakhir. Terlebih episode hidup bersama covid-19 ini. Mereka yang percaya ada atau tidak adanya, hidup telah mengalami jaman ini. Semua menjadi takdir yang membuat pola perubahan perilaku manusia. Virus mematikan, tetapi sebenarnya bukan sumber kematian. Penyebab kematian manusia hanya satu, saat ajal itu tiba. Ajal adalah batas waktu kehidupan setiap makhluk yang bernyawa. “ Setiap berjiwa akan merasakan mati.” ( QS. Ali Imraan: 185).

Manusia, hidup dan alam semesta adalah ciptaan Allah SWT yang berbatas ruang dan waktu. Dunia ini adalah ruang kehidupan untuk menjadikan manusia berbuat yang terbaik dengan aturan yang telah diberikan Allah SWT. Bukan ruang materi semata, karena manusia terlahir dengan membawa simpul pertanyaan yang harus dipecahkan, tentang asal kehidupan, arti hidup di dunia dan setelah berakhirnya kehidupan yang fana ini. Tiada seorang pun tahu apa yang dialaminya di hari esok, yang ada hanya dugaan dan analisa yang perlu pembuktian.

Hadirnya wabah covid-19 ini, telah mengusik ranah ilmu dan iman. Secara keilmuan, virus yang jasadnya adalah makhluk renik mikroskopik, menjadi obyek keilmuan yang membuat akal manusia berpikir tentang ciptaan Allah yang sangat luar biasa. Eksperimen untuk membuktikan virus itu ada merupakan wujud mendekatkan diri kepada Allah yang telah menciptakan akal untuk berpikir akan kekuasaan-Nya. Bersikap bodoh dengan mengabaikan protokol kesehatan adalah kesombongan manusiayang tidak memahami hakikat ilmu sebagai kunci dalam beramal.

Yang harusnya menjadi pelajaran dari wabah ini, sebenarnya bukanlah tentang kematian manusia sebagai makhluk yang pasti menemukan ajalnya, baik ada ataupun tidak adanya virus yang bermula dari negara China ini. Rasa benci terhadap sistem peradaban yang diterapkannya, bukan berarti membuat sikap seorang muslim menjadi tidak adil. Tidak boleh menuduh wabah ini sebagai konspirasi jika secara keilmuan memang virus ini terbukti ada.

Mereka juga sama merasa cemas dengan wabah ini, tetapi bagi seorang muslim harusnya mampu mengelola kecemasan itu dengan evaluasi diri untuk meningkatkan nilai ketakwaan kepada Allah SWT. Mengatasi wabah penyakit apapun faktor gejalanya, seperti diabetes, jantung ataupun murni karena infeksi virus tidak boleh dijadikan sebab kematian. Hakikat kematian karena semata-mata telah datangnya ajal sebagai akhir hidupnya. Harusnya wabah yang telah membuat banyak “orang gila” ini dijadikan momentum tepat untuk menyadarkan umat akan bobroknya sistem peradaban manusia saat ini yang diterapkan oleh banyak negara, yaitu kapitalisme dan sosialisme. Allah SWT melalui virus ini harus menjadi pelajaran bagi orang-orang yang berakal, untuk segera menerapkan syariah secara kaffah. Karena hanya sistem Islam yang akan menjadi pilihan satu-satunya sebelum akhir kehidupan.“…Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi (Muhammad) diam.” (HR Ahmad).

Wallahu’alam bish Shawwab.***