Oleh: Puspita Ningtiyas, SE

Heboh Surat Disdik Babel Perintahkan Siswa Baca Buku Felix Siauw yang diberitakan oleh Viva news, dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung baru-baru ini membuat heboh jagat maya dengan mengeluarkan surat tentang instruksi membaca buku Muhammad Al Fatih 1435 karya Felix Y Siauw untuk meningkatkan minat literasi siswa.

Surat bernomor 420/11.09.F DISDIK tertanggal 30 September 2020 itu ditujukan kepada seluruh Kepala Sekolah SMA/SMK se-provinsi Bangka Belitung yang ditandatangani Muhammad Soleh selaku Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Bangka Belitung.
Dalam surat yang viral tersebut, diinstruksikan kepada siswa untuk membaca buku ‘Muhammad Al Fatih 1453’ penulis Felix Siauw. Selanjutnya, siswa diminta merangkum isi buku tersebut dengan gaya bahasa masing-masing peserta didik.

Harus diakui bahwa bangsa ini sedang menghadapi problem besar dalam melakukan perubahan profil generasi yang unggul. Walaupun tujuan pendidikan Nasional adalah mencetak generasi berkarakter, tapi tidak ada contoh ril kemana arah profil generasi ini dibawa.

Indonesia dengan penduduk mayoritas Islam, harusnya mengetahui bahwa sejarah Islam telah berhasil mencetak generasi unggul sekelas Muhammad Al-Fatih. Kenapa bisa ada sosok pemuda seperti Muhammad Al-Fatih yang mampu menaklukan konstantipel yang ratusan tahun gagal di masuki kaum muslimin ?.

Tahukan kita keimananlah yang menjadi pendurong utama. Ketika orang-orang penting saat itu mulai pesimis dan meminta Al-Fatih untuk mundur, sikapnya justru sebaliknya. Ketika itu, Muhammad Al-Fatih mengikuti perkataan gurunya untuk mencari cara yang tidak mungkin terbayangkan oleh siapapun termasuk musuhnya.

Konstantinopel di lindungi oleh benteng yang sangat kuat maka orang-orang berfikir bagaimana menjadi lebih kuat dari benteng itu. Konstantinopel juga dikelilingi selat sehingga setiap orang berfikir melewati selat itu dengan selamat supaya bisa memasuki kota tersebut. Tapi tidak ada yang berfikir bahwa konstantinopel juga di lindungi oleh benteng alam tanpa penjaga, itulah bukit Galata yang tidak mungkin ada yang terfikir untuk melewati nya dengan kapal. Tapi pasukan Al-Fatih melewati nya di malam hari, dan keesokan hari nya, kemenangan Al-Fatih tidak terelakkan.

Inilah mentalitas generasi yang kenal identitasnya, berkarakter kuat dan tahu jati diri nya. Berbekal keimanan, kerja keras dilakukan walau aral melintang, tidak peduli apa yang terjadi, pantang menyerah sampai di garis finish. Inilah teladan bagi generasi zaman sekarang yang sedang krisis identitas, yang mengisi masa muda nya, bukan untuk berjuang demi agama tapi untuk kegalauan tanpa tujuan.

Karena itu, kita butuh tahu sejarah kegemilangan Islam. Bukan sekedar untuk tahu, tapi mencontoh bagaimana keberhasilan itu diperoleh. Adalah negara Khiafah yang menjadi tumpuan Muhammad al-Fatih dalam mencapai keberhasilan demi keberhasilan. Hal itu karena khilafah adalah negara yang menerapkan syariat secara kaffah dan mengemban Islam ke seluruh penjuru dunia. Dengan khilafah tersebut, sebuah bisyarah jatuhnya kontantinopel ditangan kaum muslimin membentuk karakter kuat pada diri Muhammad Al-Fatih.

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR Ahmad bin Hanval Al Musnad).