Oleh: Maman El Hakiem

Seringkali ada yang bertanya berapa upah tulisanmu? Sungguh sulit untuk dijawab. Karena semua tulisan yang diposting diwakafkan untuk umat. Dulu, pertama kali menulis di media cetak ada honorium, namun itu sering tidak diambil. Namun, karena menyangkut profesi jurnalistik, upah itu pun dikirim pula ke rumah melalui wesel pos. Apakah merasa senang? Tentu, tetapi hanya sekejap. Ada perasaan yang lebih senang dari itu, yaitu jika tulisan itu mampu mencerahkan umat.

Aktifitas hidup manusia itu memang harus ada kompensasinya. Allah SWT tidak pernah menyia-nyiakan amal manusia meskipun seberat biji sawi. Karena itu ada pahala dan dosa sebagai nilai upahnya yang kelak dapat dikonversi menjadi surga atau neraka. Upah adalah kompensasi atas manfaat yang diperoleh atas jasanya. Apakah dakwah ada upahnya? Ya, berupa pahala yang nilainya lebih baik dari dunia dan seisinya.

Bukan hanya dakwah, mengajarkan Al Qur”an, bahkan berjihad sekalipun boleh mengambil upahnya. Setiap amal seorang muslim akan diganjar Allah SWT, tidak ada yang gratis. Karenanya setiap amal yang dilakukannya sangat berarti, jangan sampai ada amal yang tidak ada nilainya. Nilai itulah ukuran upah yang akan diperolehnya. Tidak ada nilai yang paling tinggi dalam pandangan Allah SWT terhadap amal perbuatan hamba-Nya, selain jika amal itu dilandasi keikhlasan.

Mereka yang ikhlas dalam dakwah dan taqarub kepada Allah SWT menjadi kunci diterimanya amal kebaikan. Jika berharap upah di dunia atas amal yang telah dilakukan, maka upah itu akan tunai diberikan. Hanya hamba-hamba Allah SWT yang selalu berharap amalnya diterima kelak menjadi pahala yang membuahkan surga. Namun, memperoleh upah tanpa kehilangan pahala, juga bisa dimiliki selama manusia mampu menjaga niatnya. Karena apa yang diniatkan, maka itu yang akan diperolehnya. Perbaiki niatnya, maka Allah SWT akan memperbaiki keadaan hasilnya.

Menulis itu adalah aktifitas dakwah yang nilai amalnya adalah ‘ruhiyah’, tetapi jika mendapatkan upah atas karya terbaikmu berupa materi, jangan sampai membengkokan niat. Itulah yang akan menuntun pikiran dan hatimu untuk tetap istiqomah menyampaikan dakwah di tengah umat. Bukan karena tulisanmu yang menggetarkan, tetapi niat lurus dan nilai istiqomahnya yang Allah SWT jaga sehingga semua makhluk mengaguminya. Tetaplah berdakwah, bukan karena upah, tetapi karena pahala yang kelak Allah SWT berikan di akhirat.

Wallahu’alam bish Shawwab.***