Oleh: Ema Fitriana Madi (Pemerhati Sosial)

Baru-baru ini presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo kembali membuat pernyataan yang cukup menyita perhatian publik. Saat membuka Muktamar IV PP Parmusi tahun 2020 di Istana Bogor, Jawa Barat, Sabtu (26/9), ia mengingatkan masyarakat untuk tidak lupa mengingat Allah SWT di tengah pandemi Covid-19. Salah satu caranya dengan berdzikir dan taubat. “Kita juga tidak boleh melupakan zikir, istighfar, taubat kepada Allah Subhana Wa Ta’ala,” begitulah pernyataan beliau ( merdeka.com, 26/9/2020). Tak hanya seruan diatas, Jokowi juga mengajak Umat Islam Berbagi Saat Pandemi dengan Perbanyak Infak juga Sedekah (kompas.com, 26/9/2020)

Menilik Fakta dan Menguji Pernyataan Presiden

Pernyataan bapak presiden diatas memang benar bahwa dengan merebaknya wabah corona yang mendunia ini kita harus muhasabah dan bertaubat kepada Allah SWT, meningkatkan iman dan takwa kita dengan memperbanyak Ibadah. Sebagaimana Firman Allaah dalam QS. Ar Rum: 41 sebagai berikut:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Al-Rûm [30]: 41)

Hanya saja perlu arah yang jelas bagaimana perubahan negeri ini setelah pertaubatan tersebut. Karena apabila tidak demikian, maka pernyataan pak Jokowi tersebut akan dinilai hanya mengumbar kata-kata dan terkesan pencitraan belaka.

Sebagaimana telah kita saksikan bersama, negeri ini selalu ditimpa kemalangan, bahkan para pengamat ekonomi pun menilai bahwa resesi ekonomi yang terjadi di Indonesia sebetulnya sudah ada sejak sebelum adanya pandemi covid 19. Bahkan, semakin sulit dibayangkan arah pertaubatan tadi dengan di sahkannya Omnibus Law UU Cipta Kerja yang disingkat UU Ciptaker atau UU Cilaka pada Senin, 5 Oktober 2020 ini. Rakyat berbondong-bondong menuntut dicabutnya UU tersebut karena tidak berprikemanusiaan dan berprikeadilan. Korban berjatuhan, baik kalangan demonstran maupun aparat yang terus saling adu, pejabat serta kepala negara pun tak luput dari pencarian publik. Miris sekali.

Belum lagi dengan maraknya makar terhadap ulama dan ajaran Islam denga tudingan-tudingan tak beradab. Serta RUU yang hendak menyusul disahkan yang tak menyengsarakan rakyat Indonesia seperti RUU P-KS, RUU HIP, dll. Siap menggerogoti habis masa depan bangsa. Anak muda makin di dorong kepada budaya barat dengan pernyataan pak Ma’ruf Amin tentang K-POP yang blunder. Semua itu menjadikan kita sulit membayangkan maksud pertaubatan seperti apa.

Singguh negara ini butuh solusi pasti, bukan ilusi. Selama ini demokrasi kapitalisme yang sekuler telah berhasil menciptakan penajajahan pada negeri-negeri Islam, termasuk Indonesia. Mencerai-berai ummat didalamnya. Sibuk dengan adu domba dan sentimen sektarian. Lalu kapitalis diberi karpet merah untuk berinvestasi alias menjarah hasil kekayaan. Rakyatpun tak menikmati hak milik di tanah airnya sendiri. Lalu, taubat seperti apa yg dibutuhkan oleh negeri ini?!

Taubat Hakiki hanya bisa diraih dengan perubahan hakiki pula

Islam adalah agama sekaligus ideologi yang mengatur kehidupan manusia secara lengkap, jelas, dan rinci. Untuk arah perubahan mesti mencakup dua hal, yaitu rezim dan sistem. Bukankah fakta menunjukkan bahwa pergantian orang atau rezim sudah berkali-kali dilakukan? Namun tanpa mengubah sistem, kondisi terbukti tak pernah membaik. Dan itu dikarenakan kerusakan memang bukan sekadar ada pada orang, tapi ada pada sistem yang diterapkan. Yakni sistem sekuler demokrasi kapitalis neoliberal yang memang rusak sejak dari asasnya.

Oleh karena itu, sudah saatnya sistem batil ini dicampakkan. Dan umat Islam bersegera kembali menerapkan hukum-hukum Allah yang dipastikan akan membawa keberkahan. Yakni dengan berjuang menegakkan institusi penerap syariat Islam, yang tidak lain adalah sistem Khilafah.

Khilafah adalah kepemimpinan umum kaum Muslimin yang akan menerapkan syariat Islam dan mengemban dakwah ke seluruh alam. Sistem inilah yang secara empirik pernah menaungi umat Islam bahkan non Muslim selama belasan abad. Dan di masa itu, kesejahteraan dan persatuan hakikipun terwujud dalam kadar yang tak pernah ada bandingannya. Hingga umat Islampun mampu tampil sebagai umat terbaik, memimpin peradaban cemerlang sekaligus menebar rahmat ke seluruh alam

Hanya saja, yang menjadi PR besar adalah, bagaimana agar kadar pemikiran umat akan Islam ini tidak parsial dan pergerakannya tidak pragmatis pada satu isu saja. Tapi kaffah dan fokus pada isu besar yakni ikhtiar menegakkan syariat Islam dalam naungan institusi Khilafah. Dan untuk bisa demikian, dibutuhkan upaya dakwah yang targetnya membangun kesadaran. Yakni dakwah pemikiran yang dilakukan secara berjamaah sebagaimana yang dicontohkan baginda Rasulullah Saw. Bukan dakwah fisik apalagi kekerasan. Dan bukan dakwah fardhiyah yang tak fokus arah.

Dengan dakwah fikriyah dan jamaiyyah inilah, umat dipahamkan dengan akidah yang lurus, disertai pemahaman tentang konstruksi hukum-hukum Islam sebagai solusi kehidupan. Sehingga akan tergambar pada diri umat bahwa tak ada yang bisa membawa mereka pada kesejahteraan hakiki dan keberkahan hidup selain dengan menerapkan hukum-hukum Islam. Pada akhirnya, kesadaran inilah yang kelak akan menggerakkan umat untuk bersama menuntut perubahan yang lebih besar dan lebih mendasar. Yakni dengan menumbangkan sistem sekuler demokrasi yang kufur dan menggantinya dengan sistem Khilafah Islam. Sebagaimana dulu, dakwah fikriyah yang dilakukan Rasulullah Saw bersama para sahabatnya juga berbuah sama. Yakni tumbangnya sistem kufur jahiliyah dan tegaknya sistem politik Islam di Madinah al-Munawwarah yang dipenuhi dengan keberkahan. Wallaahu a’lam bish shawwab.