Oleh: Andarwati

Saat ini, kesadaran umat Islam terhadap ketaatan pada syariat Islam menunjukkan kemajuan yang signifikan. Tidak saja untuk diri sendiri, orangtua pun berupaya untuk mengenalkan taat syariat sejak dini. Termasuk kepada putri kecilnya untuk menutup hijab.
Betapa comelnya, balita yang wajah ayunya ditutupi khimar balita dengan warna-warni membuat mereka semakin tampak manis dan menggemaskan. Akan tetapi, dari kalangan liberal menyatakan bahwa orangtua yang memaksakan anak-anaknya untuk taat syariat sejak dini akan membuatnya anaknya eksklusif dan setelah dewasa ia akan mempertanyakan identitasnya sendiri.
Benarkah pandangan seperti itu?

Muslim yang hanif, pasti akan sama antara pola pikir dan pola sikap yang disesuaikan dengan syariat Islam. Surat An-Nisa ayat 9, dipahami oleh para mufasirin (ahli tafsir) sebagai kewajiban bagi orangtua untuk mendidik anak-anaknya sesuai dengan syariat Islam karena ada petunjuk yang kemudian dipahami sebagai perintah Allah SWT untuk bertakwa kepada-Nya.
Maka orangtua yang hanif, akan berupaya menyelaraskan pola sikapnya dengan menjadikan syariat Islam sebagai miqiyas (tolok ukur) dalam beramal. Sehingga, akan tertanam dalam jiwa anak-anaknya terkait aqidah Islam. Lalu, qonaat (keyakinan) akan kebenaran (taat syariat Islam) otomatis akan menjadi sandaran bagi anak yang nantinya akan mempengaruhi kepribadiannya saat dia dewasa. Dalam QS An-Nisa ayat 9 tersebut :Artinya, menanamkan aqidah Islam…membiasakan anak dengan syariat Islam. Menanamkan adab sebagai anak, murid, dan hamba Allah serta bangga sebagai muslim adalah hal-hal mendasar yang harus dilakukan orangtua. Hal tersebut lebih penting daripada masalah kesejahteraan ekonominya.Membentengi anak dari sikap dan berperilaku liberal, menganggap Islam tidak ada bedanya dengan agama lain.

Islam dalam pandangan Allah sangat istimewa, Islam memang eksklusif, berbeda dengan agama lain. Surat Ali ‘Imran Ayat 19 ” Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam” Islam adalah sebagai garansi keberkahan seseorang saat hidup di dunia. Hanya saja, berkah Allah akan turun manakala Islam dimanifestasikan dalam seluruh sendi kehidupan. Baik dalam bidang politik, ekonomi, hukum, pendidikan, sosial budaya.
Jika Islam masih parsial (sebagian) saja diterapkan dalam kehidupan, maka umat Islam tak ubahnya ikan laut yang hidup dalam aquarium yang berisi air tawar. Amat sulit, saat kita hendak menjadi muslim yang kaffah tapi lingkungan belum kondusif (mendukung). Mendidik anak sesuai tuntunan & tuntutan Islam jelas tidak mudah, karena rumah & sekolah sebagai tempat mendidik anak harus menghadapi tantangan dari lingkungan & pemerintah.

Saat kita menyampaikan kepada anak bahwa Islam ada aturan pergaulan termasuk kewajiban menutup aurat bagi muslimah baik khimar (kerudung) maupun jibab (baju gamis, yang dilapis baju rumah). Justru, kondisi sekolah tidak mendukung misalnya. Saat olahraga, anak putri diwajibkan menggunakan celana. Padahal, sebagai muslimah …saat keluar rumah kewajiban tidak hanya sekedar memakai khimar saja, melainkan juga jilbab.

Kita amat merindukan kondisi terbaik untuk mendidik anak keturunan kita, yang mana semua itu hanya bisa diwujudkan oleh khilafah Islamiyah. Karena hanya khilafah yang mampu memberikan visi dan misi pendidikan, baik di rumah, sekolah atau lingkungan dan masyarakat dalam satu frekuensi. Wallahu A’lam.