Oleh: Siti Aisyah, Sumedang

Berbagai upaya banyak ditempuh oleh pemerintah untuk menggeliatkan ekonomi yang jeblok karena imbas pandemi. Tak tanggung-tanggung, pemerintah nekat melirik sektor pariwisata dengan harapan bisa memperbaiki keadaan ekonomi. Dewan Pimpinan cabang Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Kabupaten Sumedang, dalam waktu dekat ini akan menyiapkan paket perjalanan wisata di wilayah Sumedang. Paket wisata ini sengaja disiapkan untuk memudahkan para wisatawan diluar daerah saat ingin traveling ke kota tahu. Demikian disampaikan ketua DPC Asita Kabupaten Sumedang Iyan Sofyan Hady, Rabu (23/9/2020)
Senada dengan pernyataan Wakil Gubernur (Wagub) Jabar Uu Ruzhanul Ulum, kampanye dan promosi protokol kesehatan yang menjamin keamanan bagi calon wisatawan di destinasi wisata pun perlu digencarkan dengan memanfaatkan media sosial. “Kami ingin ekonomi menggeliat, tapi keselamatan warga tetap yang utama,” ucap Kang Uu saat membuka Rapat Koordinasi Pemasaran Pariwisata Jawa Barat di The Trans Luxury Hotel, Kota Bandung, Jumat (2/10/2020).
Matrealistik
Dalam negara yang bersistem demokrasi-sekuler-kapitalis seperti sekarang, kebijakan-kebijakan yang diambil selalu kontradiktif. Satu sisi menutup peluang namun sisi lain membuka lebar peluang lainnya yang justru memperparah keadaan. Disaat grafik jumlah pasien positif tak kunjung melandai, pemerintah dengan entengnya membuka destinasi wisata dengan dalih menaikkan pendapatan masyarakat. Padahal Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sumedang mencatat, sebanyak 20.217 pelanggar protokol kesehatan sampai pada hari Selasa (29/9/2020). Hal itu membuat Kabupaten Sumedang menjadi paling banyak pelanggar protokol kesehatan di Jawa Barat.
Sektor pariwisata dianggap bisnis instant yang bisa menggelontorkan devisa. Namun, dengan dibukanya destinasi wisata, bukan hal yang tidak mungkin justru akan menyumbang kenaikan jumlah masyarakat yang terpapar virus corona. Dan lagi, pariwisata lebih banyak dikelola swasta, yang ini menimbulkan dugaan pemerintah mengorbankan nyawa demi memenuhi ketamakan para pemilik modal.
Solusi Pasti Tuntaskan Pandemi
Akidah islam adalah yang darinya memancarkan peraturan kehidupan. Islam tidak hanya mengatur ibadah ritual, tetapi lebih dari itu islam mengatur hingga persoalan negara,tak terkecuali saat negara berada pada situasi terkena wabah.
Diriwayatkan Al-Bukhori, Dari Amir bin Saad bin Abu Waqash dari bapaknya bahwa dia (Amir) mendengar bapaknya bertanya kepada Usamah bin Zaid: Apa yang pernah kamu dengar dari Rasulullah Saw tentang masalah thaun (wabah penyakit)?. Maka Usamah berkata, Rasulullah Saw bersabda: Thaun adalah sejenis kotoran (siksa) yang ditimpakan kepada satu golongan dari Bani Israil atau kepada umat sebelum kalian. Maka itu jika kalian mendengar ada wabah tersebut di suatu wilayah janganlah kalian memasuki wilayah tersebut dan jika kalian sedang berada di wilayah yang terkena wabah tersebut janganlah kalian mengungsi darinya.
Rasulullah saw bersabda:
“Wabah Thaun adalah suatu ayat, tanda kekuasaan Allah Azza wa Jalla yang sangat menyakitkan, yang ditimpakan kepada orang-orang dari hambaNya. Jika kalian mendengar berita dengan adanya wabah Thaun, maka jangan sekali-kali memasuki daerahnya, dan jika Thaun telah terjadi pada suatu daerah dan kalian disana, maka janganlah kalian keluar darinya. (HR. Muslim)
Rasulullah saw juga bersabda:
“Janganlah kalian mencampurkan (unta) antara yang sakit dengan yang sehat (HR. al-Bukhari)
Mengunci total wilayah yang terkena wabah ini merupakan tindakan preventif yang sesuai syar’i, dan efektif agar penyebaran secara massal tidak terjadi. Rakyat yang berada di wilayah wabah mematuhi semata-mata karena keimanan dan ketundukannya kepada pemimpin tanpa khawatir tidak diurusi, karena negara wajib menjamin kebutuhan sandang,pangan mereka benar-benar tercukupi.
Urusan ekonomi, islam mewajibkan negara untuk mengelola semua sumber daya alam yang dimilikinya untuk kesejahteraan rakyat. Islam memiliki berbagai sistem terbaik yang mampu mengatasi krisis dengan berbagai mekanisme yang sudah ditetapkan Allah Swt. Namun berbeda dalam negara yang bersistem sekuler-kapitalis yang berasaskan keuntungan. Materi dinomor-satukan dari kesejahteraan rakyatnya sendiri. Kepentingan para kapitalis lebih diutamakan dibanding kebutuhan rakyat.
Saat krisis pandemi tak kunjung usai dan keadaan ekonomi semakin memburuk, penguasa justru lebih tunduk kepada para pemilik modal. Walhasil, upaya-upaya yang dihadirkan tidak pernah berbuah keberhasilan. Kesejahteraan hanya seperti ilusi. Sungguh, hanya sistem islam-lah satu-satunya solusi tunggal untuk menyelamatkan negara kita tercinta. Wallahu a’lam bish-shawab