Oleh: Maman El Hakiem

Usia kehamilannya sudah hampir sembilan bulan. Perubahan secara fisik, istri tampak mulai tak secantik saat menikah, mungkin karena ada perubahan hormonal. Begitupun psikisnya banyak dipengaruhi kehadiran janin dalam kandungannya. Kadang emosinya tidak terjaga, membuat suami harus lebih bersabar.

‘Gimana Dok, kondisi kehamilan istri saya?” Tanyaku saat di ruang periksa kehamilan di klinik bersalin. Tadi pagi istri merasakan kontraksi kandungannya. Khawatir waktunya melahirkan, kami bergegas untuk segera diperiksa. Seorang suami harus mendampinginya, terlebih jika dokternya laki-laki yang bukan mahram.

“Ya, Pak setelah diperiksa, kandungannya sudah saatnya melahirkan….e…tetapi.” Jawab dokter agak ragu melanjutkan kata-katanya. “Tapi apa Dok? Apa ada masalah dengan janinnya?” Aku semakin penasaran. Perasaan mulai tidak menentu, cemas terjadi sesuatu dengan kondisi istri yang kini masih berbaring di balik tirai ruang klinik tersebut.

“Tenang, sementara kami masih mengupayakan yang terbaik. Secara medis janinnya sehat, tetapi kondisi ibunya lemah, semoga ada keajaiban.” Jawab dokter yang membuat jantung ini serasa tidak karuan. Teringat canda istri saat masih awal-awal menikah, dua tahun lamanya kami menunggu berharap diberi amanah anak. “Yang, sabar ya…jika aku sampai dua tahun lebih belum bisa memberikan buah hati, boleh kok menikah lagi?” Katanya masih juga romantis. Kami selalu saling memanggil sayang, sekalipun saat ada ujian masalah yang berat.

“Gak usah berpikir begitu, anak itu amanah dari Allah SWT bukan kita yang menentukan. Pada waktunya, jika Allah SWT mempercayai kita amanah, pasti akan diberikan anak.” Jawabku meneguhkan keyakinannya. Rupanya ucapan itu adalah doa. Saat ini ia ingin membuktikan bahwa akan sanggup mengemban amanah tersebut.

“Dok, perutku sakit…suamiku ada?” Istriku memanggil-manggil dokter. Aku terkejut takut ada apa-apa dengannya. Dokter segera bergegas dan meminta seorang perawat menemaninya. Aku hanya bisa menatapnya dengan harap cemas. Lisan ini tak lepas dari doa agar diberikan kekuatan dan keselamatan untuk istri dan calon anak pertamaku.

“Yang, maafkan aku ya! Jika selama ini banyak salah, kurang memberikan kebahagiaan.” Suaranya lirih saat aku meraba tangannya. “Jangan berpikiran yang gak-gak, in syaa Allah semua akan baik-baik saja, bersabar, anak kita akan segera lahir.” Ucapku berusaha menghiburnya.

Dokter dan perawat tampak berusaha keras menguapayakan proses kelahiran, istriku tampak mengerang kesakitan, desah napasnya kembang kempis. Begitu berat perjuangan seorang ibu saat melahirkan, pantas jika pahalanya seperti jihadnya seorang lelaki.

Tidak lama kemudian, seorang permata hati lahir dari rahimnya. Namun, sayang jiwa seorang ibu tidak tertolong. Dia adalah seorang istri yang kelak akan menjadi bidadari untuk kedua kalinya di surga, jika seorang suami amanah membesarkan anaknya, meskipun boleh jadi hidup bersama ibu yang lain.***