Oleh Nadia Fransiska Lutfiani (Aktivis Muslimah)- Pemalang, Jawa Tengah

Ditengah gempuran issu Radikalisme kian mencuat yang seolah menjadi ancaman dan mengkhawatirkan. Publik dihadapkan dengan penggiringan meniru budaya luar (Red: Korea), sebagai inspirasi untuk kreatifitas mengenalkan budaya bangsa. Tidak bisa dipungkiri demam Korea dan budayanya berawal dari suguhan K-drama dan K-pop sangat digemari generasi muda. Mulai dari fashion, makanan , bahasa, gaya hidup yang terlihat penuh keglamoran serta romantisme menjadi kegemaran tersendiri. Hidup mewah rupa menawan.

Sejalan dengan apa yang disampaikan Wapres ” Maraknya Budaya K-Pop diharapkan dapat menginspirasi munculnya kreativitas anak muda Indonesia dalam mengenalkan budaya negerinya.” (kumparan.com 20/9/2020).
Ditengah Krisis identitas, maraknya kriminalitas, serta permasalahan dalam negeri yang tak kunjung berakhir, radikalisme menjadi bulan-bulanan goodloking disasar, generasi dibuat bimbang. Sejatinya generasi muda sebagai estafet peradaban bangsa justru digiring meniru peradaban yang jauh dari jatidirinya, menuhankan kebahagiaan semu yang menipu. Terlebih generasi muda muslim di negera mayoritas muslim.

Sedemikian sepelekah kualitas dan riayah generasi muda dimata penguasa muslim? Alih-alih kreatif dan ideologis justru miris. Bagaimana tidak, asal muasal budaya K-pip dinegeri Korea sendiri peradabannya hancur generasi mengalami kemrosotan, dari angka bunuh diri tinggi dan oprasi plastik mempercantik diri menjadi usaha menyenangkan publik. Bukankah itu kepalsuan yang dipertontonkan. Ketenaran kebahagiaan dan kebenaran yang bisa diperjualbelikan, jauhnya iman dan agama dari kehidupan.

Maka ini bukan jalan panutan, justru jauh dari pedoman kehidupan generasi muda muslim, bahkan menjadi ancaman. Bukan untuk dibiarkan karna menyasar aqidah pandangan hidup yang melahirkan aturan. Sudah sangat jelas pantusan yang bisa menjadi tuntunan.
Peradaban gemilang lahir didalamnya dengan penuh kesadaran dab keimanan. Dunia bahkan telah sepakat, ahli sejarah dunia mengungkap, peradaban kegemilangan islam tidak ada yang mampu menyamakan, hanya lahir di sistem islam. Majunya generasi muslim dalam negara yang mayoritas muslim saat ini adalah dengan mengembalikan pada aturan yang sesuai fitrah, aturan dari sang Maha Pencipta, generasi terjaga akal dan aqidahnya dibawah pengaturan Khilafah.

“Pesan Imam Malik : Umat ini tidak akan bisa diperbaiki, sebelum diperbaiki dengan cara generasi awal dulu diperbaiki”. (nfl)