Oleh : Dien Kamilatunnisa

Di masa pandemi ini, ujian nasional diganti dengan menerapkan asesmen nasional. Asesmen nasional pengganti UN 2021 dibuat dengan pendekatan yang menyerupai Program Penilaian Pelajar Internasional (PISA) yang digunakan untuk mengevaluasi pendidikan secara global (08/10). Dengan dibatalkannya UN 2020, maka keikutsertaan UN tidak menjadi syarat kelulusan ataupun syarat seleksi masuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Kurikulum dan metode evaluasi pendidikan di Indonesia memang sering berubah-ubah. Seperti yang dikutip brilio.net ternyata selama ini Indonesia telah berganti kurikulum sebanyak 11 kali, terhitung sejak Indonesia merdeka. Yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, 2006, 2013, dan 2015 ( brilio.net, 5/5/2015).

Hal ini sangat kontras sekali dengan sistem pendidikan Islam baik dari sisi tujuan maupun evaluasi. Dalam sistem pendidikan Islam, tujuan dan kurikulum pendidikan sudah ajeg.

Tujuan pendidikan dalam Islam adalah
membentuk siswa yang memiliki aqidah yang kuat, berakhlak mulia, memiliki pola pikir dan pola sikap islami, menguasai sains teknologi dan berbagai keterampilan yang diperlukan dalam kehidupan.

Dengan tujuan pendidikan tersebut maka generasi muda akan tumbuh menjadi generasi peradaban yang mulia, memiliki kecerdasan dan kematangan spiritual. Hal ini sangat berbeda dengan kondisi saat ini dimana adakalanya seseorang yang memiliki kecerdasan dalam sains dan teknologi tapi kehilangan rasa empati, tidak berakhlak, dan lebih parahnya tidak menjadikan halal haram sebagai tolak ukur.

Sementara itu, evaluasi pendidikan dalam sistem pendidikan Islam dilakukan secara menyeluruh. Ujian umum berlaku untuk seluruh mata pelajaran. Secara teknis, ujian dilakukan secara tulisan dan lisan. Ujian lisan dinilai menjadi salah satu teknik ujian yang paling sesuai untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan siswa. Selain itu, ujian praktek diberlakukan pada keahlian tertentu. Siswa yang dinyatakan adalah siswa-siswa yang telah memiliki kemampuan terhadap ilmu pengetahuan yang telah dipelajarinya memiliki pola tingkah laku yang Islami.

“Barangsiapa yang hendak menginginkan dunia, maka hendaklah ia menguasai ilmu. Barangsiapa menginginkan akhirat, hendaklah ia menguasai ilmu. Dan barang siapa yang menginginkan keduanya (dunia dan akhirat), hendaklah ia menguasai ilmu.” (HR. Ahmad)