Oleh: Maman El Hakiem

Hati ini berdebar, meskipun raga masih di cakrawala. Saudia Airline sebentar lagi landing di Bandara Madinah. Rute Jakarta-Madinah di tempuh dalam waktu kurang lebih enam jam. Ada detak jantung seperti meloncat-loncat dalam gemuruh pesawat. Tak terasa, air mata terjatuh saat kaki pertama kali menginjak kota Nabi.

“Masya Allah…rinduku tersampaikan untuk mendekat denganmu, kekasih yang tak pernah terganti. Seperti kain mimpi yang dirajut oleh doa setiap waktu. Menatap indahnya Masjid Nabawi, seakan menulusuri lorong waktu, romansa kebersamaanmu dengan para sahabat.” Ucapku dalam hati.

“Maaf, Pak…jamaah Indonesia?” Tanya seseorang berbadan tegap, dengan senyum dari wajahnya.

Hampir semua yang kutemui berwajah ramah, kecuali askar yang yang tampak seram. Mungkin karena mereka petugas yang harus berpenampiln serius, mengatur jamaah agar tertib. Di Madinah, banyak yang berebut tempat agar bisa berlama-lama di Raudhah, shaf dekat mimbar di Masjid Nabawi. Tempat yang diburu untuk berdoa karena mustajabah.

“Ya, saya berasal dari Indonesia, Nusantara?” Jawabku karena mengingat orang tersebut paham dengan bahasa melayu, karena ternyata dari Singapura.”Bagaimana kabar Tumasik?” Tanyaku.

Dia paham, Tumasik adalah embrio Singapura selagi masih bagian dari Nusantara. “Negeri kami, kini maju tetapi kehidupan muslimnya minoritas, tidak seperti Indonesia ya?’ Jawabnya
.
“Mayoritas ya…tetapi kalah sama minoritas…hehe” Jawabku sambil berkelakar.

Seusai shalat berjamaah ashar kami bercengkerama di pelataran masjid, sekedar menikmati udara sore. Payung magnetik sebagian sudah menelungkup. Anak-anak kecil bermain dengan burung merpati yang tiap sore menghampiri pelataran masjid.

Dulu, para sahabat Nabi yang tidak memiliki rumah, tinggal menjadi ahlu shufah, tempat yang di sediakan di sebagian bangunan Masjid Nabawi. Karena pada masa Nabi, masjid juga menjadi pusat pemerintahan yang mengayomi segala urusan rakyatnya.

“Kenapa mereka menghabiskan waktunya di masjid?” Tanyaku. Dalam pikiranku menjawab, boleh jadi karena kebanyakan yang datang adalah jamaah yang telah jauh-jauh bersusah payah mengunjungi kota suci, niatnya semata-mata untuk beribadah. Jika sekedar nyaman tinggal dan makan terjamin, tentu banyak ditemukan pada fasilitas hotel-hotel mewah pencakar langit.

Pada masa Rasulullah saw dan para khalifah penggantinya, menjadikan masjid bukan sekedar untuk ritual ibadah, tetapi berbagai urusan umat diselesaikan. Mereka betah berlama-lama di masjid karena kebutuhan dasarnya telah dipenuhi oleh negara. Tetapi, bagaimana kini?

Dua kota suci yang kini hidup dalam sistem sekuler kerajaan, hanya sekedar dijadikan melayani haji dan umroh dengan mengundang investor asing untuk mengeruk keuntungan ekonomi semata. (Bersambung)***