Oleh : Opa Anggraena

Membeludak, pendemo penolakan omnibuslaw. Tak hanya dari kalangan para buruh, namun pelajar dan mahasiswa pun ikut turun aksi ke jalanan. Namun hal ini mendapat pertentangan dari mentri pendidikan dan kebudayaan (mendokbud), Nadiem Anwar Makarim. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan surat edaran tentang pelarangan mahasiswa untuk tidak ikut aksi demo Omnibus Law Undang Undang Cipta Kerja resmi (zonajakarta.com 11/10). Hal ini pun mendapatkan tanggapan dari Satriawan Salim selaku Koordinator Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G) mengatakan, seharusnya Nadiem Makarim memberikan apresiasi kepada para mahasiswa.

Pada poin nomor 6 dikatakan, ‘menginstruksikan para dosen senantiasa mendorong mahasiswa melakukan kegiatan intelektual dalam mengkritisi UU Ciptaker’, justru kritik itulah yang tengah dilakukan mahasiswa. Adapun aksi turun ke jalan merupakan wujud aspirasi dan ekspresi mereka terhadap langkah-langkah DPR dan pemerintah yang abai terhadap aspirasi mereka bersama rakyat lainnya,” ujar Salim (zonajakarta.com 11/20).
Jika mahasiswa memiliki intelektual yang satu napas dengan rakyat, betul-betul dapat merasakan apa yang dirasakan oleh para buruh, masyarakat ada, aktivitas lingkungan, dan lainnya, yang merasa dirugikan oleh UU Ciptaker ini. “Apalagi para yang namanya mahasiswa, belajar tak hanya di ruang kuliah yang terbatas tembok, ruang kuliah sesungguhnya para mahasiswa adalah lingkungan masyarakat itu sendiri. Mengikuti aksi demonstrasi adalah bagian dari laboratorium sosial mahasiswa sebagai agen perubahan. Menjauhkan mahasiswa dari rakyat, sama saja menjauhkan ikan dari lautan luas,” ujarnya.


Pemuda sebagai The best agent of change dalam suatu negara memang perlu memiliki sikap mengkritis, termasuk mengkritis pemerintah yang kebijakannya tidak memakmurkan rakyat, membawa arah perubahan untuk lebih baik. Namun sayang nya dalam sistem kapitalis mencetak generasi yang bobrok dimana pemuda ini didangkalkan pemikirannya agar tidak ingin membawa perubahan. Potensinya tidak diarahkan pada suatu perubahan untuk kemaslahatan umat. Bahkan mahasiswa dan pelajar yang ikut aksi bahkan akan diancam nilai akdemisnya hingga akan kehilangan kesempatan kerja dan tidak diberikan surat SKCK dari kepolisian.
Bukti rezim ini memang tak ingin pemuda bangkit dan membawa perubahan. Respon penguasa seperti ini semakin menujukkan bahwa mereka tidak memberikan hak kepada masyarakan untuk muhasabah (mengkoreksi) kepada penguasa. Apalagi respon penguasa sepeti memberi ancaman. Jika hal ini di biarkan terus terjadi tidak menutup kemungkinan negara ini berubah menjadi negara otoriter yang anti kritik. Peristiwa ini semakin memperjelas bahwa sistem ini tidak ramah bagi intelektual muda terlebih pada mahasiswa.
Tak disangkal aksi demo kemarin yang berakhir ricuh antara mahasiswa dan petugas kepolisian yang akhirnya merusak fasilitas umum sangat mengecewakan dan semua pihak sangat menyayangkannya. Kemana arah perubahan itu? Tentu nya perubahan sistem yang lebih baik. Mengganti sistem yang buruk dengan sistem yang baik yakni sistem Islam. Maka para mahasiswa dengan sikap kritisnya yang memiliki pemikiran untuk membawa perubahan ke arah sistem yang baik yakni sistem yanlahir dari sang pencipta maka tidak akan ada kericuhan saat menyampaikan aspirasi mereka.

Bagaimana Islam memberikan perhatian besar pada generasi muda? Islam memberikan edukasi kepada para generasi agar memiliki kepribadian Islam (syakhsiyah Islamiyah) atau pada pola pikirnya aqliyah. Yang akan menjadikan generasi memiliki standar berfikir sesuai Islam maupun pola sikap dan perilakunya (nafsiyah) yang menjadikan generasi mengambil sikap sesuai hukum syariat dalam berkehidupan baik individu, bermasyarakat dan bernegara, mereka akan beramal sesuai dengan perintah Allah subhanahuwata’ala.
Termasuk ketika mereka mengkoreksi kebijakan yang di keluarkan oleh penguasa. Mereka akan bergerak bukan hanya di dorong karena adanya kedzaliman atau kemungkaran yang terjadi, melainkan karena ketaatan terhadap syariat Allah yaitu melakukan amar ma’ruf nahi munkar dan bentuk kepedulian mereka terhadap negaranya.


Dalam Islam ada 3 pihak utama yang bertanggung jawab atas kualitas generasi muda agar memiliki kepribadian Islam.

  1. Keluarga yang berfungsi sebagai wadah pertama pembentukan genrasi Islami melalui ayah dan ibu. Peran mereka menanamkan keimanan pada generasi muda bahwa kehidupan terikat pada aturan Allah subhanahuwata’ala . Baik buruknya aktivitas mereka akan dinilai berdasarkan syariat Islam
  2. Masyarakat, sebagai tempat dimana generasi itu tumbuh dan hidup bersama anggota masyarakat lainnya . Peran negara dalam hal ini adalah mewujudkan lingkungan yang baik yaitu lingkungan Islami dengan mengawasi 2 hal yakni adat istiadat yang berlaku di masyarakat dan pendapat umum yang berkembang di masyarakat
  3. Negara khilafah yang bertanggung jawab melahirkan generasi Islam sebagai bagian tugas dari tugas negara untuk menjalankan sistem pendidikan serta sistem – sistem sosial lainnya yang terkait. Khilafah akan menyelenggarakan pendidikan sebagaimana tujuan pendidikan Islam yaitu menghasilkan generasi yang berkepribadian Islami yang berbekal ilmu-ilmu yang diperlukan dalam kehidupan baik ilmu keIslaman maupun ilmu dalam cakupan sains dan teknologi sehingga output generasi yang dihasilkan adalah generasi hebat yaitu ;
  4. Generasi faqih fiddin hingga menjadi pejuang agamanya
  5. Generasi yang menguasai saintek, sehingga bisa berkarya untuk kemudahan kehidupan maanusia
  6. Genersi yang memiliki jiwa pemimpin, tidak bermental dijajah dan memliki keberanian menolak kezhaliman .
    Output generasi yang demikian tentu harua didukung dengan kurikulum pendidikan Islam yaang bersumber dari akidah Islam seperti materi tauhid, fiqih, tafsir dan sebgainya . Atau berupa ide yang dibangun diatas akidah Islam, yaitu meski tidak lahir dari wahyu tetapi tetap tidak boleh bertentangan dengan akidah, misalnya sains dan teknologi.
    Khilafah akan mengawasi agar materi yang diajarkan kepada para generasi sesuai dengan kurikulum pendidikan Islam, khilafah juga akan mengeluarkan sekumpulan UU syariah, maupun UU administrasi yang terkait dengan pendidikan sehingga pendidikan dalam daulah dapat dijalankan sesuai tuntutan syariah. Dalam daulan penguasa akan membuka ruang kepada publik untuk muhasabah .
    Terdapat majlis umat, yang melakukan fungai muhasabah dan mahkamah mazhalim yang berfungsi menghilangkan kezaliman oknum penguasa, mulai dari khalifah sampai pejabat negara terendah.
    Suasana yang terbentuk dalam daulah khilafah adalah suasana ma’ruf nahi mungkar, masyarakatnya terutama kaum pemuda dapat melakukan muhasabah kepada penguasa mereka karena dorongan keimanan adapun para penguasanya bukanlah penguasa anti kritik yang pasti akan selalu menerima koreksi dari semua kalangan masyarakat. Wawlohu’alam bisshawwab