Oleh: Maman El Hakiem

Hampir setiap jalan di dua kota suci yang hilir mudik hanyalah kendaraan mobil. Jarang ditemui kendaraan roda dua. Kehidupan masyarakat pribuminya saat musim haji atau umroh banyak yang bepergian ke luar kota. Orang kaya pelesiran atau menghabiskan waktunya dengan bersenang-senang. Para pedagang kaki lima atau yang buka lapak dadakan biasanya para pendatang yang mengadu nasib, berasal dari India atau Afrika. Termasuk para petugas kebersihan di masjid Nabawi, mereka kebanyakan dari Bangladesh dan Asia Tengah lainnya. Pun para pengemis yang selalu menguntit jamaah, para wanita yang tersisih sebagai masyarakat miskin, termasuk tenaga kerja wanita dari Asia Tenggara. Adanya jenjang sosial, tidak heran pula jika masih ada tindak kejahatan seperti copet atau pencurian.

Para pedagang yang bandel sering juga dikejar petugas “tibum” setempat. Seperti Pak Oktar, pedagang ras negro itu pandai sekali menawarkan barang dagangannya. “Silahkan…halal…lima riyal.” Begitu ucapnya. Para pedagang tahu jika jamaah banyak yang berasal dari Indonesia. Sering juga menawarkan dengan panggilan orang-orang yang lagi trend, viral di tanah air. Misalnya, “Syahrini’ dan “Prabowo” untuk memanggil jamaah asal Indonesia.

‘Prabowo…Prabowo….halal….lima riyal” Pak Oktar begitu semangat menawarkan pakaian jualannya. Lapaknya di trotoar jalan di depan jajaran toko arah Masjid Nabawi.

Karena penasaran, saya mendekatinya. Banyak juga pakaiannya, tetapi umumnya pakaian bekas dan ukurannya besar-besar. Penjual yang mencari keuntungan di pinggir-pinggir jalan harganya memang murah karena banyak barang second. Selain pakaian, ada juga produk seperti peci, tasbih, dan mainan atau cenderamata made in China.

“Wah produk China memang ada dimana-mana” Pikirku. “Ini berapa harganya Pak?” Tanyaku sambil menunjuk produk jam tangan. “Sepuluh riyal”. Jawabnya.

Aku memilih-milih jam tangan yang ada. Sepuluh riyal itu kalau dirupiahkan sekitar 35 ribu rupiah waktu itu. Murah juga, tetapi karena produk China sudah bisa dimaklumi.

Para pedagang kaki lima sering main kucing-kucingan dengan petugas ketertiban umum. Pak Oktar mulai cemas juga, jika tiba-tiba petugas tibum datang. “Barang dagangannya masih banyak ya Pak?” Tanyaku. Pak Oktar hanya senyum kecil.

Petugas tibum selalu tahu celah mengejar pedagang yang bandel jualan secara tidak resmi. Pak Oktar sudah beberapa kali hampir tertangkap, ia lari saat tahu ada tibum. Barang jualannya begitu saja ditinggalkan jika tidak sempat merapihkannya.

Begitulah nasib rakyat kecil, jika aturan Islam tidak diterapkan secara kaffah. Rasulullah saw. saat mengetahui ada rakyatnya tidak memiliki pekerjaan. Beliau memberinya dua dinar, satu dinar dibelikan kapak dan sisanya untuk modal usaha. Rasululah saw. juga pernah mencium tangan sahabatnya yang kasar karena bekerja keras dan dijanjikan surga. Itulah cermin kecintaan pemimpin saat Madinah sebagai pusat peradaban dunia dalam sistem pemerintahan Islam.(Bersambung).***