Oleh: Lilis Lina Nastuti
Aktivis Literasi Islam

“Orang yang memakan riba tak dapat berdiri, melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila.
( tidak akan tentram jiwanya karena kerasukan setan)
Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli itu sama dengan riba.
Padahal Alloh telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
Siapa yang mendapatkan peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu, menjadi miliknya. Dan, urusannya terserah kepada Alloh.
Siapa yang mengulangi, maka… mereka itu penghuni neraka, mereka “KEKAL” didalamnya.
( Qur’an Surat Al- Baqarah : 275)

Takan ada berkah, bagi para pengusaha yang memulai usahanya hasil dari pinjaman uang rentenir, baik via Bank atau pun rentenir perorangan.

Banyak orang berharap dan berkhayal,
jika ada uang?
Usaha lancar.

Jika ada modal?
bisnis pun lancar bahkan gencar!
Jika ada modal dan lain- lain fasilitas?
pasti puas.

Ah, itu umumnya pendapat masyarakat kekinian yang hidup di jaman Kapitalis Sekuleris, semua ukurannya materi, materi dan materi!
Yang dijadikan perkara utama dan pertama dalam berbisnis.

Padahal, jika dibalikan kalimatnya ?
“ada usaha, baru ada uang” Bisakah?

Apa yang harus dilakukan?

Berusahalah, sesuai keahlian yang dimiliki.
Rupanya ini yang dulu para pemula menjalankan lancarnya berbisnis dimulai dengan modal kerja keras memaksimalkan waktu tenaga potensi yang ia miliki dan non materi lainnya yang mendukung kearah suksesnya berbisnis.

Sayang, cara praktisi bisnis para orang tua terdahulu, tak diikuti oleh generasi berikutnya. Padahal sangat luar biasa orang tua terdahulu begitu istiqamah dalam berbisnis.
Bermodal kejujuran, amanah, menghadirkan jiwa pejuang pencari nafkah secara halal.

Bisnis yang mereka bangun hanya bermodal potensi / keahlian plus kerja keras luar biasa mengefektifkan waktu begitu gigih tak ada celah buang waktu percuma, tapi bermodal waktu pun bisa berbisnis dan berkarya sesuai potensi/yang ia bisa.

Mari, ikuti jejak para orang tua pendahulu kita saat di era tahun 1970 an, yang notabene para orang tua gencar berbisnis tak bermodal riba atau pun rentenir lainnya.

Para orang tua terdahulu sebagai generasi awal ialah mereka membangun bisnis secara halal, seperti menumbuhsuburkan lahan pertanian, perikanan dan lain – lain, lalu generasi kedua yang bisa menikmati hasil jerih payah orang tua kita.

Adapun generasi ketiga, jika tak dibekali ilmu bisnis yang benar sesuai syara, maka bisa jadi, generasi ketiga ini malah menghancurkan bisnis yang telah dibangun tadi.
Sejatinya seperti itulah jika bisnis tak dibangun dengan landasan ibadah.

Bisnis berlandaskan ibadah, harus sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw dan para sahabat terdahulu menghadirkan adab bisnis sesuai syara.

Ingat, rezeki yang dimulai dengan perkara haram takan berkah!
Takan ada keberkahan bagi pelanggar Syara dalam berbisnis.
Takan ada keberkahan keluarga pun menjadi ahli diluar Syariah Islam..

Takan ada keberkahan dan kekuatan ekonomi dan bisnis yang dibangun bermodal uang riba/ haram.

Karena, uang hasil pinjam dari Bank, yang menitik beratkan kepada suku bunga, meskipun bunga ringan tapi bukan perkara ringannya.
Yang jelas setiap bentuk akad haram pasti terlarang.

Nah, anda berada di area mana?
Pembisnis yang Syar’i?
Yang mengutamakan modal halal?
Atau pembisnis yg beranak pinak dari riba?

Ingat hidup perlu kejelasan di area mana anda berbisnis?

Syar’i kah?
Haramkah?

Semoga terjauhkan dari perkara yang diharamkan, agar keberkahan itu ada, hadir mendarahdaging menguasai jiwa jiwa muslim terikat Syara.

Karena, tiada kebahagiaan selain hidup bertumpu kepada hukum Syara / dengan aturan Islam, hidup pun akan berkah, bertambah kebaikan bertambah pula nikmat yang didapat, bukan sebaliknya jika ada pelanggaran syariat? laknatlah yang didapat.
Wah gawat;
Jika tidak ada kesadaran dari sekarang, kapan lagi? bersabarlah dengan berlipat kesabaran.
Agar terhindar dari bisnis yang dimulai dengan uang riba.

Wallahu a’lam

Majalaya;
22 Oktober 2020
O7 . 00 WIB