Oleh: Ashima Adzifa (Mahasiswa Malang Raya)


Gelombang demonstrasi menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja masih terus berlanjut. Sayangnya, wujud aspirasi ini minim akan apresiasi. Keberadaannya dipropagandakan sebagai aktivitas brutal yang tak bermanfaat sama sekali. Padahal, demonstrasi adalah hak seluruh warga negara yang dijamin oleh konstitusi, UUD 1945, dan dijamin juga serta diatur sekaligus oleh UU Nomor 9 Tahun 1998.
“Lip Service” Demokrasi
Sebenarnya, kebebasan berpendapat dalam demokrasi hanya polesan di bibir saja, tidak sesuai fakta. Katanya dijamin berpendapat, yang ada malah ancaman jika menyuarakan kritikan apalagi pada rezim dan sistem saat ini.
Komisioner KPAI Retno Listyarti menyatakan, anak-anak yang tidak melakukan perbuatan pidana tidak seharusnya mendapatkan catatan kriminal karena alasan pernah ikut aksi unjuk rasa. Mengeluarkan pendapat secara damai bukanlah tindakan pidana ataupun kejahatan. Justru yang harus diselesaikan ialah pendemo yang terbukti rusuh, melakukan kekerasan, bahkan pembakaran.
Retno juga menyayangkan penangkapan para pelajar yang dilakukan kepolisian sebelum mereka tiba di lokasi demo. Seharusnya bukan ditangkapi, tapi diarahkan dan diberikan pengertian bagaimana sebaiknya menyampaikan aspirasi yang baik di ruang publik.


Mahasiswa Dilarang Demo karena Pandemi?
Begitu pun apa yang menjadi respons kemendikbud terhadap demonstrasi mahasiswa. Alih-alih mengapresiasi, Nadiem Makarim malah menerbitkan surat larangan mahasiswa melakukan demonstrasi. Para dosen diminta untuk memastikan mahasiswanya melakukan proses pembelajaran daring dari rumah.
“Mengimbau para mahasiswa/i untuk tidak turut serta dalam kegiatan demonstrasi/unjuk rasa/ penyampaian aspirasi yang dapat membahayakan keselamatan, dan kesehatan para mahasiswa/i di masa pandemi ini,” bunyi surat yang ditandatangani Dirjen Pendidikan Anak dan Pendidikan Tinggi Kemendikbud Nizam, Jumat, 9 Oktober 2020, dikutip dari detik news.
Bukannya tidak mengetahui bahaya yang mengintai mereka, akan adanya potensi terciptanya klaster unjuk rasa. Namun, kezaliman yang begitu tampak atas pengesahan UU Cipta Kerja telah mendorong mereka untuk melakukan perubahan.
Jika pelarangan Nadiem kepada mahasiswa untuk berdemonstrasi karena alasan pandemi, mengapa pemerintah dengan ngototnya tetap akan menyelenggarakan Pilkada? Kampanye-kampanye yang dilakukan para calon seringkali tak mengindahkan protokol kesehatan. Padahal, tak terhitung banyaknya pakar yang menyampaikan bahayanya jika Pilkada tetap terselenggara.


Wajar jika banyak pihak beranggapan pelarangan demonstrasi hanyalah upaya meredam gejolak yang timbul akibat disahkannya UU Cipta Kerja. Bukan semata untuk keselamatan jiwa masyarakat.
Mahasiswa adalah agent of change
Sungguh, peran mahasiswa dalam pandangan Islam begitu mulia. Pertama, mahasiswa adalah ahlul ilmu, yaitu orang yang sedang mempelajari ilmu dan memiliki ilmu. Allah SWT telah meninggikan derajatnya. Dengan ilmunya dia akan mampu menebarkan manfaat pada umat manusia.
“Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat. Allah maha mengetahui atas apa-apa yang kalian kerjakan.” (QS Al Mujadilah: 11)
Kedua, selain ahlul ilmu, mahasiswa adalah seorang pemuda. Sejarah telah menorehkan sosok pemuda sebagai agen perubahan. Mereka tampil di garda terdepan dalam memperjuangkan kebenaran. Lihatlah sosok Muhammad Al Fatih. Pemuda berusia 21 tahun yang sanggup menaklukan benteng Konstantinopel tahun 1453.
Sahabat Ibnu Abbas pernah menyatakan, “Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi melainkan pemuda. Dan seorang alim tidak diberi ilmu pengetahuan oleh Allah melainkan di waktu masa mudanya.”


Mahasiswa adalah kaum intelektual muda. Dengan ilmu dan energinya akan mampu membawa bangsa ini menuju perubahan hakiki, yaitu diterapkannya Islam sebagai sistem yang menaungi negeri ini. Namun, langkah pemuda akan terhenti dan tak berarti jika haluan dalam pergerakannya tak mencontoh Nabi.
Maka dari itu wahai Pemuda, mari bangkit bersama. Melawan rezim yang terus saja mendzalimi umat. Jangan biarkan waktu, pikiran, dan energimu terkuras hanya dengan pergerakan semu yang tak membawa perubahan berarti.