Oleh: Maman El Hakiem

Kurma Ajwa, kurma Nabi. Harganya bisa lima kali lipat kurma jenis lainnya. Setiap pagi tujuh butir ajwa selalu yang pertama disantap. Kemarin, sepulang dari Masjid Nabawi, mampir ke kios kurma membelinya satu kilo. Harganya lima puluh riyal, hampir dua ratus ribu rupiah. Lumayan mahal. Karena termasuk jenis barang ribawi, jual beli kurma harus tunai dan langsung transaksi di tempat.

“Kenapa tadz makannya selalu tujuh butir?” Tanya Fikri yang sekamar di hotel pagi itu.

“Sunnah Nabi, tujuh butir bisa menangkal sihir.” Jawabku enteng.

‘Oh ada dalilnya juga ya? Kirain biar bisa kenyang…hehe” Candanya. Fikri itu asal Bandung, usianya sepuluh tahun di bawah saya, baru lulus kuliah. Dia sangat kocak kalau sudah bercanda.

“Tadz, tahu gak bedanya Masjid Nabawi dengan Masjid Istiqlal?” Tanya Fikri. Saya sering dipanggil ustadz, padahal tidak pernah mondok, mungkin karena sering bawa dalil agama.

Saya berpikir sebentar, karena pertanyaan Fikri suka menjebak, seperti serius padahal candaan.

“Jelas beda Fik, kalau Masjid Nabawi banyak dispensernya berisi air zam zam, sedangkan Masjid Istiqlal gak ada…hehe.” Jawabku sengaja nyeleneh karena arahnya pasti candaan.

“Ah masih serius jawabannya….gampang kok, Masjid Nabawi ada payungnya…karena memayungi umat kan?” Ucap Fikri, meskipun bernada humor tetapi maknanya mendalam.

Menjelang waktu sarapan pagi, kami sering mengobrol bareng. Hotel kami jaraknya dengan Masjid Nabawi sekira dua ratus meter. Setiap mengisi waktu senggang, sering jalan-jalan di sekitar hotel. Ada nuansa kehidupan yang berbeda dengan di tanah air. Ada perasaan tenang di hati, mungkin karena baper dengan suasana beribadah. Tentu, bisa jadi perasaan yang berbeda dengan mereka yang sudah tinggal lama di sana, terlebih yang kehidupannya masih kembang kempis.

Seorang anak usia sekolah dasar, sekira sebelas tahun menjajakan jasa timbangan berat badan di pintu gang menuju hotel. “Pak….dua riyal!” Sapanya saat melihatku. Maksudnya kalau mau ditimbang harganya dua riyal.

Saya bingung, cuma bisa bilang “Laa…no….tidak.! Badanku kurus sudah bisa ditebak berapa berat badannya…haha.” Gumamku dalam hati. Fikri yang jalan bersamaku mencoba menimbang berat badannya. “Wah tadz…berat badanku naik lagi, padahal baru tiga hari di sini.” Ucapnya.

“Hati-hati loh Fik… naik beratnya cuma di sini, turun drastis sepulangnya ke tanah air.” Ucapku mencandai. “Ah masa sih…apa karena tadi pagi gak makan kurma ajwa ya?” Fikri agak kaget.

“Bukan kena sihir…tapi, karena di sini yang dipikirkan cuma agar bisa beribadah, tetapi di tanah air pikiran kita banyak bercabang, dari urusan perut sampai politik?” Jawabku.

“Ah ustadz nih bisa saja…kok sekarang saya yang kena jebakan hehe.” Pungkasnya.***
(Bersambung).