Oleh: Eka Prasetya (Komunitas Setajam Pena)

Pemuda adalah agen perubahan, sedemikian vital pemuda dalam tonggak sejarah perjuangan bangsa maka pemuda sering disebut sebagai agent of change, pemuda telah menjadi embrio lahirnya gerakan perubahan. Hingga saat ini, fenomena sosial politik di berbagai belahan dunia terlebih khususnya di Indonesia sepertinya sulit untuk memungkiri peran dan kontribusi dari sebuah kelompok elit muda terdidik yang bernama “Mahasiswa”. Mahasiswa selalu dijuluki sebagai agen sosial perubahan (agent social of change).

Setelah Pengesahan RUU Ciptaker menjadi UU aksi penolakan terus terjadi. Mahasiswa kembali turun ke jalan untuk menyuarakan apresiasinya menolak UU Ciptaker. Aksi ini telah dilakukan mahasiswa dari berbagai kampus dibanyak daerah di Indonesia. Penolakan terjadi karena dinilai banyak pasal dalam UU ini yang merugikan rakyat, khususnya buruh.

Tentu Pemerintah tidak tinggal diam melihat ini, Kemendikbud telah mengeluarkan surat edaran nomor 1035/E/KM/2020 tentang pelarangan mahasiswa untuk ikut aksi demo Omnibus Law UU Ciptaker. Para dosen diimbau untuk tidak memprovokasi mahasiswa agar menolak UU tersebut.

Selain itu, Kemendikbud juga meminta pimpinan Perguruan Tinggi untuk melanjutkan pembelajaran jarak jauh dan memastikan para mahasiswanya benar-benar belajar di rumah masing-masing.

Pemerintah bahkan menuding aksi demonstrasi yang terjadi itu disponsori. Hal ini dinyatakan langsung oleh Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam wawancara dengan CNBC Indonesia TV. Dia mengaku tahu pihak-pihak yang membiayai aksi demo itu (finance.detik.com 8/10/2020).

Demikian pula dengan pengusaha juga merespons langkah mahasiswa menggelar demo menolak Omnibus Law Cipta Kerja (Ciptaker). Menurut Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani, UU ‘Sapu Jagat’ ini dibuat untuk menciptakan lapangan kerja yang manfaatnya bisa dirasakan para mahasiswa. Setelah lulus mahasiswa tentu membutuhkan pekerjaan. Oleh karena itu, dirinya heran bila mereka menentang UU Ciptaker. “Mahasiswa itu kan pencari kerja nantinya. Jadi ini kan kita lakukan untuk mereka juga gitu supaya lapangan pekerjaannya ada. Kok, malah didemo. Jadi kadang-kadang kita juga nggak mengerti, nih, tujuannya apa. Kok, bisa ada demo-demo mahasiswa seperti ini,” kata dia saat dihubungi detikcom, Kamis (8/10/2020).

Mahasiswa sebagai generasi muda seharusnya dilibatkan dan diajak diskusi untuk membahas secara terbuka terkait UU Cipta Kerja. Kalaupun mereka harus turun ke jalan itu merupakan hak mereka untuk menyuarakan aspirasi dan menyuarakan kebenaran. Bukan malah dituduh bersponsor atau bahkan di persekusi tanpa adanya bukti yang jelas. Bukannya mereka bebas menyuarakan aspirasi dalam negara demokrasi ini?

Dalam sistem kapitalis saat ini, mahasiswa dikerdilkan potensinya untuk memikirkan kemaslahatan pribadi, bukan kemaslahatan bangsa. Gerakan perubahannya dimandulkan sekadar memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang berkepentingan. Tidak sampai menghantarkan pada perubahan.

Padahal, seharusnya mahasiswa merupakan aset yang sangat berharga untuk kemajuan sebuah bangsa. Islam memberikan perhatian besar dalam hal ini. Melihat besarnya potensi pemuda sebagai penggerak perubahan, maka seharusnya mahasiswa sebagai generasi muda diberi kesempatan untuk mengembangkan keilmuannya melalui proses pembelajaran, penelitian dan pengembangan potensi diri. Sehingga, terbentuk generasi yang mampu mengisi peradaban bangsa dengan segala prestasi. Baik secara intelektual maupun dalam pembangunan bangsa dengan menciptakan lapangan pekerjaan baru tanpa mengandalkan investasi asing.

Mahasiswa adalah kelompok intelektual yang menyambungkan rakyat dengan penguasa. Sayangnya aksi aksi demontrasi yang dilakukan mahasiswa sering berujung bentrok dan anarkis. Bahkan terkadang mereka yang ikut tidak tau esensinya. Beberapa hanya memanfaatkan momen untuk kepentingan pribadi dengan membuat konten, TikTok, atau membuat spanduk dengan perkataan “jorok”. Meski begitu diantaranya tetap ada yang tergerak menyuarakan kebenaran.

Aksi-aksi yang dilakukan mahasiswa masih kosong dari visi kebangkitan yang benar dan hanya sebatas emosi sesaat. Mereka hanya fokus menyelesaikan kasus demi kasus. Bahkan setelah itu, suara lantang mereka akan kembali terkubur bersama realitas kehidupan.

Didalam sistem Islam, Arah pergerakannya harus mencerminkan kepeduliannya terhadap nasib umat dan agama Islam, tidak hanya fokus menuntut terselesenya kasus demi kasus. Sebab pangkal problematika kehidupan adalah penerapan sistem buatan manusia. Sistem demokrasi meniscayakan lahirnya Omnibus Law UU Ciptaker yang zalim, bahkan setelah inipun akan tetap bermunculan UU lain yang serupa, selama akarnya belum tercabut.
Maka, mahasiswa wajib fokus pada arah perubahan yang benar, yakni menggantikan sistem demokrasi dengan sistem Islam. Mahasiswa wajib menyuarakan kebangkitan hakiki agar rakyat dapat terselamatkan dan rezim yang zalim ini. Sehingga mampu menata kehidupan yang layak bagi masyarakat. Tentunya dengan menerapkan aturan dan pemahaman Islam yang bersumber dari Allah dan Rosulnya.
Wallahu’alam Biashawab.