Oleh: Ummu Syanum (Anggota Komunitas Setajam Pena)

“Ganti menteri, Ganti kebijakan” kata-kata itu sudah menjadi tradisi pendidikan dinegara ini. Entah pola pendidikan yang belum sistematis, entah juga ada kepentingan finansial dibalik ini.

Dunia pendidikan kembali hadir ditengah banyaknya kebijakan yang baru untuk negeri ini, entah ini akan menjadi solusi untuk dunia pendidikan atau justru menjadi kebijakan yang hanya tambal sulam atas masalah yang terjadi.

Seperti dilansir Kompas.com, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan menerapkan asesmen nasional sebagai pengganti ujian nasional pada 2021.

Asesmen nasional tidak hanya sebagai pengganti ujian nasional dan ujian sekolah berstandar nasional, tetapi juga sebagai penanda perubahan paradigma tentang evaluasi pendidikan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengatakan, asesmen nasional tidak hanya mengevaluasi capaian peserta didik secara individu, tetapi juga mengevaluasi dan memetakan sistem pendidikan berupa input, proses, dan hasil.

“Potret layanan dan kinerja setiap sekolah dari hasil Asesmen Nasional ini kemudian menjadi cermin untuk kita bersama-sama melakukan refleksi mempercepat perbaikan mutu pendidikan Indonesia,” ujar Mendikbud Nadiem dikutip dari laman Kemendikbud.

Apa kata para guru soal asesmen nasional?

Koordinator Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G) Satriawan Salin menilai, asesmen nasional sejalan dengan rencana Nadiem sebelumnya. Menurut dia, jika sebelumnya ada asesmen kompetensi nasional (AKM), maka dalam konteks asesmen nasional, AKM menjadi bagian dari asesmen nasional.

Asesmen nasional juga mencakup tiga hal yakni AKM, survei karakter, dan survei lingkungan belajar.

“Artinya tidak ada yang berbeda. Dengan rencana Nadiem sebelumnya,”kata Satriawan, saat dihubungi Kompas.com, Kamis(8/10/2020).

Disisi lain, Ikatan Guru Indonesia terus mendorong pemerintah agar kegiatan-kegiatan yang tidak banyak bermanfaat terhadap siswa dihapuskan dan digunakan untuk pengangkatan guru. Meskipun dinilai terlambat, IGI mendukung adanya penghapusan UN ini, karena dinilai tidak memiliki manfaat signifikan dalam mendidik siswa.

Sekedar informasi bahwa 52 persen guru kita di Indonesia status pendapatannya tidak jelas, juga tidak jelas karir mereka.
” Oleh karena itu, pemerintah seharusnya lebih fokus untuk mencukupkan guru di seluruh Indonesia dibanding sibuk dengan ujian nasional atau hal-hal yang tidak diperlukan oleh anak didik kita,” kata Ramli yang diterima Republika.co.id, Jumat(13/12).

Penghapusan Ujian Nasional mengundang pro dan kontra, bertahun-tahun ujian nasional menjadi tolak ukur standarisasi pendidikan di Indonesia, artinya UN sangat dibutuhkan untuk mengetahui kualitas pendidikan siswa siswi dan kualitas pengajaran suatu sekolah. Ada beberapa kelebihan dari diadakan ujian nasional yaitu karena ada resiko tidak lulus. Dengan begitu siswa lebih giat belajar dan guru lebih serius dalam mengajar. Namun juga ada kekurangannya dalam pelaksanaan adanya tekanan yang cukup tinggi mendorong siswa melakukan tindakan yang menyalahi aturan hukum.

Dalam sistem sekulerisme adanya haram yang senantiasa turut campur dalam segala urusan kehidupan, termasuk urusan pendidikan inilah yang semakin membuat keterpurukan.

Dalam sistem Islam, evaluasi pendidikan dalam masa khilafah dilakukan secara komprehensif, untuk mencapai tujuan pendidikan. Ujian umum diselenggarakan untuk seluruh mata pelajaran yang sudah diberikan. Ujian dilakukan secara tulisan dan lisan.

Munadhoroh adalah teknik ujian lisan mengenai suatu ilmu. Ujian ini merupakan teknik ujian paling sesuai untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan siswa untuk memahami pengetahuan yang telah dipelajari. Ujian lisan baik dilakukan secara terbuka maupun tertutup. Disamping itu tentu ada ujian praktek pada keahlian tertentu. Siswa yang naik kelas atau lulus dipastikan harus mampu menguasai pelajaran yang telah diberikan dan mampu mengikuti ujian sebaik-baiknya. Tentu saja siswa-siswa yang telah dinyatakan kompeten/ lulus adalah siswa-siswa yang betul-betul memiliki kompetensi ilmu pengetahuan yang telah dipelajari dan bersyakshiyah Islamiyyah atau memiliki pola tingkat laku yang islami.

Sistem pendidikan Islam tegak di atas asas akidah Islam yang sahih lagi kokoh. Yakni berupa kenyakinan bahwa manusia, kehidupan dan alam semesta adalah ciptaan Allah Ta’ala.

Maka dalam konteks sistem pendidikan, akidah by ini mengarahkan visi pendidikan Islam sebagai washilah urnuj mdmlahirkan profil generasi terbaik yang paham tujuan penciptaan. Yakni hamba Allah yang berkepribadian Islam dan sebagai Khalifah yang punya skill dan kecerdasan itnuk pembangunan peradapan yang cemerlang.

Wallahu a’lam bishshawab.