Oleh : Opa Anggraena

Sungguh menyayat hati . Hilangnya nyawa rangga, anak laki laki yang tewas dibacok saat melindungi ibu nya yang akan di perkosa. Dikutip dari wartakotatribunnews.com (10/10), Peristiwa tragis itu terjadi di rumahnya yang jauh dari rumah penduduk lainnya di salah satu gampong dalam. Tepatnya di Kecamatan Birem Bayeun, Aceh Timur. Bejat, tidak punya peri kemanusiaan. Dia membunuh anak yang tak berdosa hanya untuk melampiaskan hawa nafsunya. Sungguh ironi, anak yang seharusnya dilindungi jadi korban ego manusia yang tak bermoral. Ternyata pelaku adalah seorang napi yang mendapat keringanan pembebasan karena covid 19 yang mwnjadi terdakwa pembunuhan di Riau tahun 2005 silam. Dikutip dari Tribunnews.com (14/10).  Dibebaskan dari penjara karena pandemi covid-19, Samsul Bahri, lelaki 40 tahun justru kembali mengulangi perbuatan kejinya. Menkumham Yasonna Laoly menjelaskan kebijakan ini diambil Dalih alasan kemanusiaan dan rekomendasi PBB demi pencegahan covid 19. Adakah negara ikut andil atas kasus ini? Jelas, bahkan sangat besar. Dari awal negara sudah salah karena memberikan keringanan kebebasan terhadap para napi karena covid-19. Bahkan dari awal Guru Besar Hukum Pidana Universitas Jendral Soedirman (Unsoed), Prof Hibnu Nugroho menilai langkah kemenkumham yang tetap membebaskan napi seperti menganggap enteng masalah. Seharusnya kemenkumham menyetop sementara pembebasan dan mengevaluasi sistem kontrol terhadap para napi yang bebas, agar tak lagi berulah. Dan terbukti akhir Mei lalu 140 Napi Asimilasi kembali berulah. Lagi, bukti nyata demokrasi gagal dalam sistem peradilan dan hukum.

Hukuman yang ringan membuat para pelaku kejahatan tidak jera hingga mengulangi lagi kejahatannya. Dalam kasus ini negara wajib memberikan hukuman yang berat bagi pelaku. Karena sudah menjadi tugas negara menjaga darah dan kehormatan warga negaranya. Negara tak boleh acuh, karena jika negara acuh atas 1 nyawa warga negaranya akan Allah SWT adili di Mahkamah Allah. Maka dari itu jika negara paham akan hal ini, dia tidak akan acuh tidak akan lalai bahkan penguasa disuatu negara akan sangat terpukul ketika hilangnya 1 nyawa karena kelalainya. Namun dalam sistem ini penguasa seolah acuh bukan? Peran negara seolah absen dalam menyelamatkan satu nyawa warga negaranya. Negara gagal memberikan rasa aman dan memberantas kriminalitas.

Dalam Islam Dengan panduan syariatnya akan melahirkan pejabat yang bersifat dan berkarter baik salah satu nya memberikan rasa aman kepada masyarakat dan di realisasikan dalam beberapa hal yaitu menerapkan hukum had bagi orang yang fasik dan dzalim, jika perbuatan mereka dibiarkan maka akan membahayakan kehidupan manusia dan harta miliknya. Buku sanksi dalam Islam dijelaskan bahwa penjara ialah tempat menjatuhkan sanksi bagi par pelaku kejahatan tempat dimana orang menjalani hukuman yang dengannya seorang penjahat menjadi jera dan bisa mencegah orang lain melakukan kejahatan yang serupa. Di dalam nya harus ada pembinaan kepada para napi agar mampu meningkatkan rasa takut kepada Allah SWT dan memperkuat ketaqwaan. Diberikan hak hidup sesuai syariat seperti makanan yang layak, tempat tidur yang terpisah, kamar mandi yang melindungi aurat agar menjaga pergaulan antar napi.

Pada masa khalifah harun Al-Rasyid bahkan para napi dibuatkan pakaian secara khusus jika musin panas tiba dipakaikan pakaian katun dan jika musim dingin tiba dipakaikan pakaian wol dan secara berkala kesehatan napi diperiksa hal semacam ini memang di perbolehkan. Di sisi lain sistem kehidupan Islami akan meminimalisir kriminalitas. Individu masyarkat akan berperilaku sesuai syariat, ketaatan mereka pada aturan ialah bukti keimanan pada sang maha kuasa, sehingga kriminalitas akan jarang ditemui. Hal ini pun akan dibarengi dengan peraturan negara yang berfokus pada kemaslahatan rakyat sehinhha kebutuhan pokok mereka akan terpenuhi selain sandang, pangan, papan juga akan terpenuhi jaminan keamanan, pendidikan dan kesehatan. Ketika terjadi tindakan kriminal pelaku di beri sankai sesuai syariat. Dalam sistem sanksi dan pembukuan dalam Islam fungsi siatem sanksi dalam Islam adalah sebagai zawajir (pencegah dan pembuat jera) bagi orang lain untuk melakukan hal yang sama, sebagai jawabir ( penebus dosa pelaku kelak di akhirat), untuk kasus pembunuhan, Islam menetapkan sanksi hudud yang di tetapkan oleh Allah SWT dalam Al-qur'an.

Firman Allah dalam Q.s Al-Maidah : 32 yang artinya “Sesungguhnya siapa saja yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu ( membunuh ) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, seakan akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Siapa saja yang memelihara kehidupan seorang manusia, seolah olah dia telah memelihara kehidupan manusia semua nya.” Jika masih ada yang melanggar Islam menjatukan sanksi keras bisa dalam bentuk Diyat ( tebusan darah ), Qishah ( dibunuh ) . Sesuai firman Allah ” Di dalam qishash itu ada ( jaminan kelangaungan) hidup bagi kalian, hai orang-orang yang berakal, supaya kalian bertaqwa.”
( T.Q.S Al-Baqarah : 179 ).
Maka tidak ada sanksi yang lebih adil selain dari siatem Islam, sistem Islam yang mampu menjamin rasa aman dan kehormatan warg negaranya. Wallohu’al bishawab