Oleh : Lilis Lina Nastuti
Ummu Bagja Mekalhaq
Aktivis Literasi Islam

Uang, Lagi lagi uang

Uang bisa bikin orang, senang tiada terkira

Lupa sahabat
Lupa kerabat

Begitulah uang.

Lupa saudara….
Mungkin juga lupa ingatan
Uang

Lirik lagu ini mungkin menjadi tertanda bahwa uang bak dewa penolong yang manjur. Semua yang bermasalah bisa ditolong dengan uang.

Yang sedang sakit? bisa berobat dengan uang.

Yang sakit hati?
bisa terhibur, pergi berlibur, meski menghambur hambur uang.

Yang gagal rumah tangga?
bisa terhibur dengan uang, cari istri baru, bukankah dengan uang? Anak nangis?
Bisa diam dengan uang.
Anak nakal? Bisa dibujuk dengan uang.

Istri galak? Bisa dirayu dengan uang. Yang dipenjara dan ingin keluar?
Bisa ditebus dengan uang. Bahkan, Koruptor jahat, perampok uang rakyat?
Bisa terbebas dari jerat hukum, jika miliki uang tebal bermilyard bahkan bertrilyun uang, semua bisa beres dengan uang.

Wah, memang uang bikin urusan ruwet bin mumet jadi selamet. Begitulah hidup kita saat ini, saat puja puji milik uang, uang mengalahkan segalanya. Dengan uang pula, hubungan persaudaraan itu bisa pecah, berantakan, adapun sikap manis terhadap orang lain terpupuk baik, dan sebaliknya hubungan terhadap saudara sendiri?
Pecah tak tegur sapa, bahkan bertemu tatap muka tak mau, dan buang muka, kebalik bukan?

Beginilah penilaian gaya hidup Sekuler, hidup terpisahkan dari agama. Saat agama tak disertakan dalam hidup akhirnya salah kaprah, yang benar jadi salah dan yang salah jadi benar.

Mestinya kita bijak bersikap terhadap segala sesuatu, bahwa ukuran terbaik, standar terbaik hendaklah dikembalikan kepada adab-adab Islam. Hendaklah semua masalah bisa dikembalikan kepada Islam, dan harus yakin bahwa Islam solusi segala masalah. Mestinya, apapun masalahnya ya, Islam solusinya.

Bukankah Alloh telah menurunkan Qur’ an sebagai petunjuk yang benar? Bukankah Alloh telah memberikan aturan hidup berupa Qur’ an tuk dijadikan pedoman? Hanya orang yang bisa berpikir dengan cerdas lah yang selalu menjadikan Qur’an sebagai landasan dasar dalam hidup, sebagai pokok pegangan hidup.

Bukankah masalah sekecil dan sebesar apapun, solusinya terdapat dalam Qur’an? Jadi, bedanya orang sekuler dengan muslim sejati, terletak cara pandang mereka.
.apakah semua masalah bisa selesai dengan uang? Atau dengan Islam/Qur’an?

Memang kita butuh uang tapi sewajarnya dalam bersikap terhadap penggunaan uang. Realistis saja, kita hidup memang butuh uang, tapi tolong jangan menghamba kepada uang.
Hingga uang dijadikan kenyamanan
Realistis saja, kita hidup butuh uang tapi jangan dijadikan sandaran segalanya

Jika ukuran hidup bergantung segalanya kepada uang, bagaimana yang tak punya uang? Masihkah bisa bertahan hidup? Sejatinya kita sadar bahwa uang itu memang kita butuh, tapi jangan jadikan uang itu, bak
Dewa penolong.

Uang memang kita butuhkan!
tapi jangan sampai sedikit- sedikit uang. Coba GANTI sedikit – sedikit ISTIGHFAR, sedikit sedikit ISTIGHFAR! Karena dengan istighfar hidup kita bisa menghadirkan sabar, syukur dan bisa menikmati hidup apa adanya.

Ingin kelihatan banyak uang padahal hasil pinjam, malu ah. Bahkan jangan sampai ingin kelihatan kaya padahal hasil dari aktifitas riba, awas bahaya!

Hindari ingin berlebih miliki uang di jalan sesat, mereka yang hidup di jalan sesat yakni mereka itu, tidak beriman kepada Alloh dan Rasul- Nya. Hingga dapat menghantarkan mereka pada neraka. Ya, jika hidup sesat, dan tak kembali kepada Islam ancaman Alloh itu keras, kejam , bengis, yakni neraka Syair.

Baca sebagai referensinya firman Alloh:
Q.S Al – Fath surat ke 48 : 13.

Barang siapa yang tidak beriman kepada Alloh dan Rasul- Nya, maka sesungguhnya kami telah menyediakan untuk orang – orang kafir itu api yang menyala- nyala. Wallahu A’lam